Damar mengetahui Naira sakit kepala bukan dari Zahra, melainkan dari suara perempuan itu ketika menjawab pertanyaan di grup penghuni. Naira menulis bahwa ia tidak bisa mengikuti rapat kebersihan malam itu. Kalimatnya biasa saja, tetapi suaranya dalam pesan audio terdengar lelah.
Damar ingin mengetuk dan menanyakan keadaannya. Ia bahkan sudah mengambil obat sakit kepala dari laci. Namun keinginan membantu bukan otomatis izin untuk mendekati pintu.
Ia membuat kopi susu ringan, membungkus dua biskuit, lalu mengirim pesan.
“Aku punya kopi hangat dan biskuit. Boleh kutaruh di depan pintumu? Aku akan kembali ke kamar sebelum kamu membuka.”
Balasan Naira baru datang lima menit kemudian.
“Boleh. Tiga ketukan.”
Damar membawa cangkir tertutup ke lorong. Ia berdiri dua meter dari pintu, mengetuk tiga kali, menyebut namanya, lalu berkata, “Kopi saya taruh di lant**. Saya kembali ke kamar sekarang.”
Ia benar-benar pergi sebelum mendengar kunci terbuka.
Dari balik pintu kamar 308, Damar mendengar pintu Naira bergerak dan tertutup lagi. Ia tidak mengintip melalui lubang pintu. Ia kembali pada maket, tetapi sulit berkonsentrasi. Bukan karena membayangkan pakaian Naira, melainkan karena menunggu apakah tindakannya terasa membantu atau justru menambah beban.
Satu jam kemudian terdengar tiga ketukan pada pintunya.
Damar mendekati pintu, tetapi tidak langsung membuka. “Siapa?”
“Naira.”
“Boleh saya buka?”
“Boleh.”
Ketika pintu terbuka, Naira sudah mengenakan hijab rumahan dan cardigan hijau. Ia memegang cangkir kosong dengan kedua tangan. Jarak mereka masih dua meter.
“Terima kasih,” katanya. “Kopinya terlalu manis.”
Damar menahan senyum. “Maaf.”
“Tapi sakit kepala saya berkurang.”
Ia menerima cangkir setelah Naira meletakkannya di rak kecil, bukan langsung dari tangannya. Di bawah cangkir ada secarik kertas: Terima kasih sudah mengetuk.
Damar membaca kalimat itu tanpa merasa menang. Catatan tersebut bukan pengampunan. Itu pengakuan terhadap satu tindakan yang benar setelah tindakan yang salah.
“Naira,” katanya sebelum perempuan itu kembali ke kamar.
Naira berhenti.
“Aku tidak akan menganggap ini berarti semuanya sudah selesai.”
Tatapan Naira berubah sedikit. “Bagus.”
“Aku hanya ingin kamu tahu aku paham.”
“Belum tentu paham.” Suaranya tidak kasar, tetapi tegas. “Namun setidaknya Mas Damar sedang mencoba.”
Setelah pintu 307 tertutup, Damar menyimpan kertas kecil itu di sela buku sketsa. Bukan sebagai tanda kedekatan, melainkan pengingat bahwa rasa aman dibangun dari hal-hal yang mungkin tidak dilihat siapa pun: menunggu, bertanya, dan pergi ketika belum diizinkan tinggal.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!