Kebakaran kecil di dapur komunal terjadi pada hari Minggu sore.
Minyak dalam wajan Tessa terlalu panas dan menyambar serbet di dekat kompor. Alarm asap berbunyi. Penghuni lant** tiga berhamburan ke lorong, sebagian masih membawa ponsel, sebagian tanpa alas kaki.
Naira sedang tidur siang di kamar dengan pakaian rumahan. Ketika alarm berbunyi, ia terbangun panik dan meraih cardigan. Pintu bergetar karena seseorang berlari melewati lorong. Lalu terdengar tiga ketukan keras.
“Naira, Damar. Ada asap di dapur. Kamu aman?”
Naira mengenakan hijab instan dan membuka pintu sedikit. Damar berdiri jauh, tubuhnya menghadap tangga, bukan ke arah celah pintu. Ia tidak mencoba ma**k meskipun situasinya mendesak.
“Saya keluar,” kata Naira.
“Baik. Aku tunggu di ujung lorong.”
Di tangga, asap tipis sudah mulai hilang. Reza mematikan listrik dapur, sementara Damar membantu membawa alat pemadam. Naira melihat lelaki itu bergerak cepat, tetapi tidak pernah kembali ke pintu 307. Ketika Bu Sari memastikan semua penghuni aman, Damar hanya bertanya dari jarak jauh apakah Naira merasa pusing.
“Tidak,” jawabnya.
Setelah keadaan tenang, Naira duduk di balkon bersama Zahra. Tangannya masih gemetar. Bukan karena api, tetapi karena menyadari bahwa Damar dapat bertindak cepat tanpa mengambil alih ruangnya. Bahkan ketika alarm berbunyi, ia tetap mengetuk, menyebut nama, dan menunggu.
“Kamu memperhatikan dia,” kata Zahra.
“Aku memperhatikan aturan.”
“Aturannya dijalankan sama dia.”
Naira menghela napas. “Menjalankan batas dasar bukan alasan untuk jatuh cinta.”
Zahra tertawa kecil. “Aku tidak bilang cinta. Aku cuma bilang kamu mulai bisa bernapas kalau dia ada di lorong.”
Kalimat itu mengikuti Naira sampai malam. Di dapur, Damar membersihkan sisa busa pemadam. Naira datang membawa kain lap.
“Mas Damar.”
Damar menoleh, lalu tetap di tempat.
“Terima kasih tadi.”
“Semua orang harus keluar. Aku hanya memastikan.”
“Mas tetap mengetuk.”
“Karena alarm tidak menghapus batas.”
Naira memandangnya. Ada banyak permintaan maaf yang dapat diucapkan seseorang, tetapi jawaban itu terasa lebih berarti daripada semuanya. Ia mengambil kain lap dan membantu membersihkan meja.
Mereka bekerja tanpa menyentuh. Ketika tangan mereka hampir mencapai botol pembersih yang sama, Damar menarik tangannya lebih dulu.
“Boleh saya ambil?” tanya Naira.
Damar mengangguk. “Boleh.”
Sesuatu yang sederhana berubah di antara mereka. Bukan kedekatan besar, melainkan keyakinan bahwa pertanyaan dapat menjadi tempat aman.
Saat kembali ke kamar, Naira menoleh. “Selamat malam, Mas Damar.”
Untuk pertama kalinya sejak insiden, ia memanggil nama lelaki itu tanpa rasa takut memenuhi seluruh kalimat.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!