Naira pergi ke balkon karena kamar terasa terlalu penuh oleh pikirannya sendiri. Hujan baru berhenti. Udara malam membawa aroma tanah dan suara kendaraan dari jalan utama.
Damar sudah berada di sana, duduk di bangku paling ujung dengan laptop tertutup. Begitu melihat Naira, ia berdiri.
“Aku bisa pergi.”
“Tidak perlu.” Naira memilih kursi yang berjarak satu bangku kosong. “Balkon milik bersama.”
Damar kembali duduk. Mereka memandang gedung kampus yang lampunya masih menyala. Tidak ada pintu yang harus dijaga, tetapi jarak di antara mereka tetap dipilih Naira.
“Tugas akhir?” tanyanya.
“Desain rumah singgah mahasiswa.” Damar menunjukkan sampul sketsa tanpa menyodorkannya terlalu dekat. “Fokusnya ruang aman.”
Naira hampir tertawa karena ironi itu. Damar juga tampak menyadarinya.
“Aku tahu,” katanya. “Aku merancang jalur evakuasi, pencahayaan, dan privasi. Lalu aku gagal menghormati satu pintu.”
“Mas tidak perlu mengulang permintaan maaf setiap kali kita bicara.”
“Aku takut kalau tidak menyebutnya, aku terlihat menganggap selesai.”
Naira mengusap ujung cardigan. “Saya juga tidak ingin setiap percakapan hanya tentang malam itu.”
Damar mengangguk. “Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi Naira tidak terbiasa diberi kendali penuh atas arah percakapan. Ia memilih hal paling aman: kelas, murid les, dan buku yang datang malam itu. Damar bercerita tentang maket yang pernah hancur karena hujan. Perlahan mereka tertawa kecil.
Ketika pembicaraan berhenti, Naira menyadari ia tidak sedang memikirkan tanktop atau pintu. Ia melihat Damar sebagai mahasiswa yang lelah, anak sulung yang bekerja paruh waktu, dan lelaki yang selalu membawa pensil mekanik di saku.
“Mas Damar,” katanya.
“Iya?”
“Saya masih kadang takut pulang.”
Damar tidak segera menjawab. “Karena aku tinggal di sebelah?”
Naira jujur. “Kadang.”
Wajah Damar menegang, tetapi ia tidak membela diri.
“Aku bisa meminta pindah kamar,” katanya.
“Saya tidak minta itu.”
“Kalau suatu hari kamu minta, aku akan lakukan.”
Naira menatap lampu kota. Ia tidak ingin Damar menghilang hanya agar rasa takutnya lebih mudah. Ia ingin dapat memilih tanpa takut.
Damar berkata pelan, “Aku tidak ingin kamu takut pulang.”
Naira menoleh. Tidak ada tuntutan dalam suaranya. Hanya kesedihan yang tidak meminta dihibur.
Mereka duduk sampai hujan kembali turun tipis. Ketika Naira berdiri, Damar tidak menawarkan payung atau mengantar ke pintu. Ia hanya menunggu sampai Naira ma**k lebih dulu ke lorong.
Sebelum menutup balkon, Naira berkata, “Besok saya di perpustakaan jam empat. Kalau Mas butuh referensi bahasa untuk presentasi, saya bisa bantu.”
Damar tersenyum kecil. “Boleh aku datang?”
“Boleh.”
Kali ini, izin itu bukan tentang pintu. Namun bagi Naira, rasanya sama penting.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!