Abyssal Jakarta: Bangkitnya Kota Tumbal

Bab 1: Bab 1 - Mendapatkan suplai oksigen dengan mencari baran...

Pengaturan Membaca

Napas. Satu. Dua. Selalu ada jeda yang terasa seperti selamanya di antara setiap hisapan udara yang berbau logam dari tangki oksigen cadanganku. Suara regulator di telingaku terdengar seperti parutan besi yang dipaksa berputar, mengingatkanku bahwa hidupku di kedalaman empat puluh meter ini hanyalah pinjaman.

Aku menyalakan senter bahu. Cahaya pudar itu membelah keruhnya air Jakarta yang berwarna hijau pekat, penuh dengan sedimen sisa-sisa peradaban yang membusuk. Di depanku, sepasang lengan perunggu yang tertutup lumut dan teritip mencuat dari kegelapan. Patung Selamat Datang di Bundaran HI. Dulu, ia menyapa para pendatang dengan tangan terbuka; sekarang, ia tampak seperti mayat raksasa yang mencoba menggapai permukaan, memohon oksigen yang takkan pernah sampai.

"Hanya sepuluh menit lagi, Bayu. Jangan serakah," gumamku pada diri sendiri, suaraku bergema aneh di dalam helm selam yang sempit.

Tanganku yang bersarung neoprena meraba-raba sela-sela pilar pusat perbelanjaan Grand I****esia yang sudah runtuh sebagian. Aku mencari modul energi atau kabel tembaga murniβ€”apa pun yang bisa ditukar dengan dua tabung oksigen penuh di Pasar Apung besok pagi. Jika tidak, aku akan mati tercekik dalam tidurku di gubuk seng pinggiran Jakarta Utara yang baru.

Tanganku menyentuh sesuatu yang keras dan halus. Aku menyikat lapisan ganggang yang menempel. Sebuah tas koper logam milik korporat tua. Jantungku berdegup kencangβ€”tipe seperti ini biasanya berisi unit penyimpanan data atau prototipe teknologi yang harganya selangit bagi kolektor 'Kota Atas'.

*Pip! Pip! Pip!*

Lampu merah di pergelangan tanganku berkedip. Sisa oksigen: 12 persen. Sial.

"Sedikit lagi," bisikku, mengabaikan rasa dingin yang mulai merayap naik ke sumsum tulang belakangku. Aku tidak suka air yang terlalu tenang. Ketenangan di bawah sini adalah kebohongan. Bagiku, air yang tenang adalah kuburan massal yang sedang menunggu untuk ditutup. Setiap kali arus berhenti bergerak, aku teringat malam ituβ€”malam ketika tanggul raksasa jebol dan teriakan ibuku hilang ditelan gemuruh air yang tak terbendung.

Tiba-tiba, tekanan air di sekitarku berubah. Bukan karena arus pasang, tapi karena sesuatu yang besar baru saja membelah air di belakangku.

Aku mematikan senter seketika. Gelap total. Aku menahan napas, meskipun itu justru membuat dadaku terasa seperti terbakar. Di kegelapan itu, aku melihatnya. Sepasang mata dengan pendar biru pucat yang tidak alami meluncur pelan di antara gedung-gedung yang miring.

*Hiu Kelabu Mutan.*

Makhluk itu bukan lagi ikan yang dikenal manusia sebelum tahun 2045. Tubuhnya lebih panjang, dengan sirip yang bergerigi seperti gergaji mesin dan kulit yang tebal akibat radiasi limbah bawah tanah. Mereka adalah an**** penjaga reruntuhan ini. Dan dia sudah mencium bau keringat serta sisa karbon dioksidaku.

Aku merayap mundur, tanganku masih mencengkeram koper logam itu. Punggungku menab**k dinding kaca toko yang sudah retak. Makhluk itu berputar, gerakannya sangat anggun sekaligus mematikan. Ia meluncur ke arahku dengan kecepatan yang tidak ma**k akal.

"Ba*****!" serapahku.

Aku menyalakan pendorong jet kecil di pinggangku, melesat ke samping tepat saat rahang makhluk itu mengatup di tempat kepalaku berada sedetik yang lalu. Bunyi gigi yang beradu terdengar seperti benturan batu karang.

Aku menarik pisau *pulse* dari paha kananku. Bilahnya bergetar dengan frekuensi tinggi, menciptakan gelembung-gelembung kecil di sekitarnya. Hiu itu berbalik, ekornya yang kuat mencambuk air, menciptakan turbulensi yang membuat pandanganku berputar. Aku tidak boleh bertarung lama-lama. Oksigenku tersisa 8 persen. Aku bisa merasakan paru-paruku mulai menyempit, menuntut a**pan udara yang tidak bisa kuberikan secara berlebih.

Makhluk itu menyerang lagi, mulutnya terbuka lebar, memamerkan barisan gigi yang saling tumpang tindih. Aku tidak menghindar. Saat jaraknya tinggal satu meter, aku melepaskan suar darurat dari sabukku.

Cahaya merah terang meledak di antara kami.

Hiu itu tersentak, buta sesaat oleh cahaya yang menyilaukan mata abyssal-nya yang sensitif. Tanpa membuang detik yang berharga, aku menghunjamkan pisau *pulse* ke arah insangnya yang lebar. Getaran pisau itu merobek daging mutannya, melepaskan awan hitamβ€”darah mereka tidak lagi merah di kedalaman ini.

Ikan itu menggelepar liar, menciptakan pusaran air yang melemparkanku ke arah pilar beton. Kepalaku terbentur pinggiran helm. Pandanganku berkunang-kunang.

*5 persen.*

Peringatan merah itu kini berbunyi tanpa henti. Aku harus naik. Sekarang.

Dengan sisa tenaga, aku menendang siripku kuat-kuat, menjauh dari Bundaran HI, meninggalkan hiu yang masih mengamuk itu di belakang. Aku berenang melewati sisa-sisa papan reklame raksasa yang dulunya memajang wajah politisi, kini hanya menjadi tempat menempelnya kerang-kerang tajam.

Namun, saat aku melewati wilayah antara Bundaran HI dan arah Monas, sensor di kopernya mulai bergetar. Bukan getaran mekanis biasa, tapi sebuah frekuensi yang membuat gigiku ngilu. Di kejauhan, jauh di dalam keremangan yang lebih gelap menuju pusat kota lama, aku melihat sesuatu yang mustahil.

Ada pendaran cahaya keemasan yang stabil keluar dari arah reruntuhan Monas. Itu bukan cahaya lampu, bukan juga bioluminesensi makhluk laut. Cahaya itu murni, kuno, dan seolah-olah bernapas mengikuti detak jantungku.

Koper di tanganku mendenting keras, seolah merespons apa pun yang ada di sana.

Napas terakhir di tangkiku terasa sangat tipis. Aku terengah, pandanganku mulai mengabur di tepiannya. Aku harus naik ke permukaan, ke udara busuk Jakarta yang lebih aku hargai daripada emas mana pun saat ini. Tapi mataku tidak bisa beralih dari pendaran emas di reruntuhan Monas itu.

Ada sesuatu yang terbangun di bawah sana. Dan entah kenapa, aku merasa koper logam yang kutemukan ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada seekor hiu mutan.

Aku menendang kakiku menuju permukaan, tepat saat kesadaranku hampir hilang, meninggalkan misteri yang berdenyut di bawah kegelapan Jakarta yang tak berdasar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca