Tekanan air di kedalaman seratus meter ini terasa seperti ribuan ton beton yang menindih bahuku, tetapi bukan itu yang membuat napasku memburu di dalam masker *full-face* ini. Itu adalah keheningan. Di bawah sini, di antara reruntuhan gedung-gedung perkantoran Thamrin yang kini diselimuti lumut laut dan teritip, keheningan adalah lonceng kematian. Aku benci air yang tenang; bagiku, itu adalah mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang lengah.
Indikator oksigen di HUD-ku berkedip biru redup, memantul di kaca helm. Di depanku, artefak kuno yang baru saja kuambil dari retakan pondasi Monasβsebuah cakram logam dengan ukiran aneh yang berdenyutβterasa hangat di dalam tas kantong kedap airku. Terlalu hangat.
Lalu, sensor sonar pasif di pergelangan tanganku bergetar. Sesuatu bergerak cepat di belakangku.
Aku berputar, tanganku refleks meraih senapan tombak pneumatik yang tergantung di pinggang. Cahaya senter bahuku menyapu kegelapan, menab**k kolom-kolom gedung yang miring. Di sana, di balik pilar beton yang retak, sebuah bayangan meluncur dengan kelincahan yang mustahil bagi seorang penyelam manusia.
"Siapa di sana?" suaraku parau, terdistorsi oleh radio *comms* yang hanya mengirimkan statis.
Makhluk itu muncul dari balik kegelapan. Tingginya hampir dua meter, dibalut zirah yang tampak seperti perpaduan antara sisik naga dan logam organik berwarna biru tua yang berpendar. Helmnya berbentuk aerodinamis dengan kristal merah di bagian mata yang menatapku dengan kebencian murni. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tombak panjang yang memancarkan energi listrik kecil, membelah air di sekitarnya.
Itu bukan manusia. Itu bukan *scavenger* dari faksi saingan. Itu adalah sesuatu yang hanya ada dalam dongeng sebelum Jakarta tenggelam. Seorang prajurit Atlantis.
Tanpa peringatan, ia menerjang. Gerakannya sangat halus, seolah-olah air bukanlah penghambat, melainkan sekutu. Aku menarik pelatuk senapan tombakku. *Jreg!* Tombak baja dengan ujung karbida meluncur deras.
Logam bertemu zirah. Aku mengharapkan suara daging yang tertusuk, tetapi yang terdengar justru dentang keras layaknya palu menghantam landasan. Tombakku terpental, bahkan tidak meninggalkan goresan di dada makhluk itu.
"Si****!" umpatku. Napasku mulai pendek, tanda kepanikan mulai merayap. Aku tahu aku tidak boleh panik. Panik di bawah air berarti mati.
Prajurit itu kini berada hanya beberapa meter dariku. Ia mengayunkan tombak listriknya. Aku memutar tubuh ke samping, membiarkan energi itu menyambar kolom di belakangku. Beton tebal itu meledak seketika, hancur menjadi debu yang mengaburkan pandangan.
Aku mencoba melepaskan tembakan kedua, tetapi ia lebih cepat. Sebuah tendangan mendarat di dadaku, melontarkanku ke belakang hingga punggungku menghantam kaca jendela sebuah kafe tua yang sudah pecah. Aku tersungkur di dalam ruangan yang penuh dengan meja kayu yang membusuk dan rangka kursi berkarat.
Prajurit itu ma**k ke dalam ruangan dengan tenang, seolah tahu aku tidak punya jalan keluar. Ia mengangkat tombaknya, ujungnya mulai bersinar biru terang, bersiap untuk serangan pamungkas.
Mataku liar mencari sesuatu di sekitarku. Senjataku tidak berguna. Aku tidak bisa mengalahkan teknologi ini dengan kekuatan kasar. Aku harus menggunakan lingkungan ini. Jakarta adalah wilayahku, bukan wilayahnya.
Aku melihat ke atas. Langit-langit kafe ini terhubung dengan lant** dua gedung yang sudah miring drastis. Sebuah unit pendingin ruangan raksasa dari masa lalu tergantung tidak stabil oleh kabel-kabel baja yang sudah terkikis karat selama dua dekade. Tepat di bawahnya, prajurit itu melangkah maju.
"Ayo, maju sedikit lagi," bisikku, tanganku merogoh pinggang, mengambil *bolt cutter*βalat potong baut yang selalu kubawa.
Prajurit itu melompat untuk menusuk. Di saat yang sama, aku melemparkan *bolt cutter*-ku sekuat tenaga ke arah kabel baja yang sudah menegang di langit-langit. Aku tidak punya waktu untuk melihat apakah lemparanku akurat. Aku segera mengaktifkan pendorong jet kecil di sepatuku, meluncur rendah di lant** yang dipenuhi lumpur.
*KRETAK!*
Suara besi putus bergema di bawah air. Unit AC seberat satu ton itu jatuh dengan kecepatan penuh, menimpa prajurit Atlantis itu tepat di tengah serangannya. Lant** kafe yang sudah rapuh tidak sanggup menahan beban itu; lant** tersebut ambrol, menyeret sang prajurit dan unit besi itu jatuh ke lant** bawah, ke kegelapan lant** parkir bawah tanah yang lebih dalam.
Aku terengah-engah, bersandar pada pilar yang tersisa. Lumpur yang teraduk membuat jarak pandang menjadi nol. Aku menunggu. Satu detik. Lima detik. Tidak ada gerakan dari lubang di lant** itu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari lubang di mana makhluk itu jatuh, aku tidak mendengar suara deburan, melainkan suara dengungan rendah yang membuat gigiku ngilu. Artefak di tas kantongku mulai bergetar hebat, mengeluarkan cahaya emas yang menembus kain tas, menerangi ruangan kafe yang suram itu.
Tiba-tiba, radar sonar di pergelangan tanganku mengg***. Puluhan titik merah muncul dari segala arah, mengepung posisiku. Mereka tidak datang satu per satu. Mereka datang dalam formasi.
Aku menyadari satu hal yang membuat darahku membeku: prajurit tadi hanyalah seorang pramuka. Dan sekarang, aku baru saja menyalakan lampu suar yang memberi tahu seluruh pa**kan mereka di mana aku berada.
Tanganku gemetar saat meraba artefak yang berdenyut di pinggangku. "Kuharap kau benar-benar kunci, karena jika bukan... aku baru saja membuka pintu neraka."
Cahaya biru dari luar jendela-jendela kafe mulai bermunculan, satu per satu, mengepung gedung tua itu seperti mata hiu yang kelaparan di tengah malam abadi. Dan mereka mulai bergerak ma**k.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!