Udara Gunung Salak tidak pernah ramah bagi paru-paru yang terbiasa dengan kelembapan pengap teluk Jakarta yang mati. Di sini, di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut, oksigen terasa tipis dan tajam, seperti silet yang mengiris kerongkongan setiap kali Bayu menarik napas. Kabut tebal merayap di antara pepohonan rimbun, menyamarkan siluet tangki-tangki raksasa dan antena pemancar milik Satgas Nusantara yang mencuat dari puncak gunung seperti duri-duri besi pada punggung monster.
Bayu merapatkan jaket flanelnya yang sudah memudar warnanya, menyembunyikan rompi taktis curian yang terasa kaku di dadanya. Di balik ransel kumalnya, artefak Monas itu terasa berdenyutβgetaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh kulitnya, seolah benda itu memiliki detak jantung yang sinkron dengan kegelisahannya.
"Sepuluh menit lagi patroli drone lewat. Kalau kau tidak bergerak sekarang, kau akan jadi pupuk organik di lereng ini," suara Sinta berderis pelan melalui earpiece yang terpasang di telinga kiri Bayu.
Bayu mendengus, uap putih keluar dari mulutnya. "Kau enak bicara dari bawah sana, Sin. Kau tidak lihat betapa banyak lampu sensor di depan ini? Tempat ini lebih ketat daripada b**nkas Bank I****esia dulu."
"Justru itu alasan kita di sini, Bay. Mereka menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar data pengungsi. Cepat. Sektor utara, lewat celah pembuangan limbah udara. Itu satu-satunya titik buta mereka."
Bayu merayap di atas tanah yang basah oleh embun, aroma tanah merah dan lumut menyerbu indranya. Dia membenci ini. Dia lebih suka menyelam di antara rongsokan beton di bawah air, di mana kegelapan adalah kawan dan gravitasi terasa lebih ringan. Di daratan tinggi seperti ini, dia merasa te******* dan lambat. Setiap kali ranting kering berderak di bawah perutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dia sampai di pinggiran pagar kawat berduri yang dialiri listrik tegangan tinggi. Di baliknya, gedung pusat komando Satgas Nusantara berdiri angkuh dengan arsitektur brutalistikβbeton abu-abu tanpa jendela yang dikelilingi oleh menara pengawas otomatis. Bayu mengeluarkan alat pelumpuh sirkuit saku, sebuah benda rakitan dari komponen drone tua yang ia temukan di reruntuhan Glodok setahun lalu.
Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa mual yang selalu muncul saat ia berhadapan dengan otoritas. Setiap seragam camo yang ia lihat di kejauhan mengingatkannya pada hari ketika tanggul Jakarta diruntuhkan. Dia ingat wajah-wajah kaku para tentara yang menghalau warga saat air mulai menelan pemukiman, sementara helikopter-helikopter pejabat lepas landas menuju tempat tinggi ini.
*Klik.*
Lampu indikator pada pagar redup sesaat. Bayu bergerak cepat, memotong kawat dengan presisi seorang mekanik ulung dan menyelinap ma**k. Dia segera membenamkan diri di bayang-bayang tangki oksigen raksasa.
Baru saja dia menempelkan punggungnya pada dinding beton yang dingin, raungan mesin jet terdengar di atas kepalanya. Sebuah drone pemindai dengan cahaya biru neon menyapu area tempat Bayu berada beberapa detik yang lalu. Bayu menahan napas, memejamkan mata rapat-rapat. Dia bisa merasakan artefak di tasnya mendadak menjadi hangat, menyebarkan sensasi aneh yang menenangkan sarafnya, seolah-olah benda itu sedang mencoba membantunya bersembunyi.
"Aku ma**k," bisik Bayu setelah drone itu menjauh.
"Bagus. Cari terminal utama di lant** dua. Kau harus mengunduh log navigasi dari malam penenggelaman. Aku butuh koordinat pasti di mana mereka meletakkan 'jangkar' itu," instruksi Sinta kembali terdengar.
Bayu memanjat pipa ventilasi eksternal dengan ketangkasan yang lahir dari bertahun-tahun memanjat bangkai kapal. Otot-otot lengannya menegang, memprotes beban tubuhnya sendiri. Sesampainya di lubang udara lant** dua, dia menendang pelan jeruji besi hingga terbuka dan melompat ma**k ke dalam lorong yang bersih dan steril.
Suasana di dalam sini sangat kontras dengan dunia bawah yang kumuh tempat Bayu tinggal. Lant**nya mengkilap, udaranya berbau ozon dan kopi mahal. Bayu berjalan mengendap, mengikuti bayang-bayang di dinding. Dia melewati sebuah ruangan dengan pintu kaca transparan. Di dalamnya, beberapa perwira menengah sedang berdiskusi di depan layar hologram besar yang menampilkan peta topografi Jakarta bawah air.
Bayu berhenti sejenak, matanya menyipit melihat titik-titik merah yang berkedip di sepanjang garis pant** lama.
"Frekuensi pangg***nnya meningkat," suara seorang pria paruh baya dengan tanda pangkat kolonel terdengar samar menembus kaca kedap suara. "Jika tumbal ini tidak c**up untuk menenangkan mereka, teluk itu akan meledak dalam hitungan minggu. Kita butuh kunci itu, hidup atau mati."
Tumbal? Darah Bayu berdesir dingin. Istilah itu bukan sekadar metafora.
Dia melanjutkan langkahnya dengan lebih terburu-buru, dipicu oleh amarah yang mulai membakar ketakutannya. Dia menemukan ruang server utama di ujung lorong. Pintu itu menggunakan pemindai retina, namun Bayu sudah menyiapkan solusinyaβsebuah perangkat dekripsi optik yang sudah diatur Sinta untuk memalsukan data identitas Mayor yang mereka cegat komunikasinya kemarin.
*Pzzzt. Akses diterima.*
Bayu menyelinap ma**k ke dalam ruangan yang dipenuhi suara dengung server yang konstan. Dia segera menuju konsol utama, jemarinya menari di atas keyboard virtual yang muncul di udara. Data demi data meluncur di depan matanya. Dia mencari folder dengan kode "Proyek Atlantis".
"Sedang mengunduh, Sinta. Tapi ada yang aneh... ada banyak file terenkripsi dengan simbol yang sama dengan artefak ini," bisik Bayu.
"Jangan tanya, Bay. Ambil saja semuanya!" Sinta terdengar panik. "Tunggu, aku mendeteksi pergerakan besar menuju posisimu. Mereka tahu kau di sana!"
Tiba-tiba, lampu ruangan berubah menjadi merah darah. Suara sirine melengking, memecah kesunyian gunung yang tenang. Bayu memaki pelan. Dia melihat bilah kemajuan unduhan: 85%... 90%...
Pintu ruang server bergeser terbuka dengan dentuman keras.
"Jangan bergerak! Angkat tanganmu!"
Bayu berbalik perlahan. Di depan pintu, enam orang personel pa**kan khusus dengan armor tempur lengkap dan senapan plasma telah mengepungnya. Namun, bukan moncong senjata yang membuat jantung Bayu serasa berhenti berdetak.
Di tengah pa**kan itu, melangkah maju seorang pria dengan seragam hitam legam tanpa lencana. Pria itu melepaskan baretnya, menunjukkan bekas luka bakar yang melintang di pelipisnyaβbekas luka yang sangat dikenal Bayu.
"Dua belas tahun, dan kau masih saja suka mencuri barang yang bukan milikmu, Bayu," ujar pria itu dengan suara berat yang penuh wibawa.
Bayu terpaku. Suaranya tercekat di tenggorokan. "Paman... Guntur?"
Sosok yang selama ini ia kira tewas saat hari penenggelaman Jakarta, kini berdiri di depannya sebagai bagian dari organisasi yang menghancurkan hidup mereka. Guntur tidak membalas tatapan rindu Bayu, melainkan menatap tas punggung Bayu dengan mata dingin yang penuh ambisi.
"Berikan artefak itu, Bayu. Kau tidak tahu kekuatan apa yang sedang kau bangunkan," ucap Guntur sambil memberi isyarat agar pa**kannya mendekat.
Bayu melirik ke arah layar terminal. *Unduhan Selesai.*
Dia merogoh saku jaketnya, bukan untuk menyerahkan artefak, melainkan mengambil sebuah granat asap rakitan. "Aku tahu satu hal, Paman. Kalian membiarkan Jakarta tenggelam bukan karena gagal, tapi karena kalian ingin memberi makan sesuatu di bawah sana."
Sebelum Guntur sempat berteriak, Bayu membanting granat itu ke lant**. Asap pekat berwarna abu-abu memenuhi ruangan, diikuti oleh suara tembakan plasma yang memb*** buta. Di tengah kekacauan itu, artefak di punggung Bayu mulai bersinar lebih terang dari sebelumnya, memancarkan denyut biru yang membuat seluruh gedung bergetar hebat, seolah-olah gunung itu sendiri sedang merespons kehadirannya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!