Tetesan air dingin merembes dari pinggiran masker selamku, mengalir pelan melewati pipi sebelum akhirnya berhenti di dagu. Bau karat dan ozon yang tajam memenuhi rongga hidung saat aku melepas katup udara. Di depanku, pintu kedap udara Pusat Data Otoritas Maritim (OMP) berdiri kokoh, separuhnya tenggelam dalam air payau yang tenang.
Air tenang. Aku benci air yang tenang.
Aku mengatur napas, mencoba meredam detak jantung yang mulai berpacu liar. Di dunia bawah air Jakarta, air yang bergolak berarti ada arus atau predator; tapi air yang diam seperti ini terasa seperti sebuah jebakan, sebuah cermin yang menyembunyikan monster di baliknya. Aku menyentuh artefak perunggu di sabukkuβkunci Atlantis yang terasa hangat, seolah memberiku keberanian yang tidak kumiliki.
"Jangan melamun, Bayu. Waktu kita sempit," suara Sita berderak di *earpiece*-ku, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik di kedalaman ini.
"Aku tahu," desis-ku, suaraku parau. "Sedang mencoba membobol panel manualnya. Teknologi pemerintah ini lebih rewel daripada mesin kapal rongsokan."
Tanganku yang terbungkus sarung tangan karet tipis bergerak lincah di antara kabel-kabel optik yang menjunt** dari panel kontrol. Dengan tang pemotong, aku menyilangkan dua sirkuit utama. Percikan listrik biru meloncat, menerangi kegelapan lorong sesaat sebelum pintu baja seberat dua ton itu bergeser dengan suara erangan logam yang m****akkan telinga.
Aku menyelinap ma**k ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar lampu darurat merah. Ini adalah ruang arsip digital utama. Tujuanku jelas: mencuri cetak biru sistem pertahanan laut yang katanya dibangun untuk melindungi daratan dari invasi makhluk laut dalam.
Layar terminal di tengah ruangan berkedip-kedip saat aku menyambungkan perangkat peretas portabelku. "Ma**k ke server utama, Sita. Kau bisa melihatnya?"
"Sedang mengunduh," sahut Sita. "Cepat, Bayu. Sensor gerak di koridor atas baru saja aktif. Kau punya waktu lima menit sebelum patroli robotik sampai ke sana."
Aku menatap layar holografik yang membentang di depanku. Bar kemajuan pengunduhan merayap pelan. Sambil menunggu, rasa penasaran yang berbahaya mendorongku untuk membuka folder terenkripsi yang berlabel *'Protokol Pembersihan: Jakarta 2045'*.
"Bayu, apa yang kau lakukan? Fokus pada cetak biru itu!" peringatan Sita tidak aku gubris.
Jariku gemetar saat mema**kkan perintah *override* menggunakan kode akses yang aku curi dari seorang perwira korup minggu lalu. Folder itu terbuka. Barisan data, peta digital, dan simulasi fisika meledak di depan mataku.
Napas menyangkut di tenggorokanku. Ini bukan sistem pertahanan.
"Sita..." bisikku, mataku terpaku pada titik-titik merah yang tersebar di sepanjang fondasi Tanggul Raksasa dan struktur penyangga utama Jakarta yang tenggelam. "Mereka tidak sedang membangun perisai."
"Apa maksudmu?"
Aku memperbesar salah satu diagram. Di sana, tertulis dengan jelas spesifikasi muatan termonuklir skala kecil yang ditanam di titik-titik kunci stabilitas geologis kota. "Cetak biru ini... ini adalah rencana peledakan berant**. Mereka tidak berniat menghentikan invasi dengan senjata. Mereka ingin meruntuhkan seluruh sisa Jakarta sampai ke dasar palung."
"Itu g***! Masih ada ribuan orang yang tinggal di sektor pemukiman atas!" suara Sita meninggi, penuh ketidakpercayaan.
"Mereka ingin menghapus bukti, Sita," kataku, suaraku dingin oleh amarah yang membara. "Artefak yang kutemukan, keberadaan gerbang itu, dan fakta bahwa pemerintah yang meruntuhkan tanggul dulu... mereka ingin mengubur semuanya dalam satu ledakan besar. Jika Jakarta hancur total, rahasia mereka tentang tumbal ini akan hilang selamanya."
Layar mendadak berubah merah terang. Tulisan *'DETONATION SEQUENCE INITIATED: STANDBY FOR FINAL AUTHORIZATION'* muncul dengan huruf kapital yang mengejek.
"Mereka sudah memulai hitung mundurnya?" tanyaku retoris, keringat dingin mulai bercampur dengan air laut di wajahku.
"Bayu, keluar dari sana sekarang! Sinyal patroli sudah sangat dekat!"
Aku melihat bar pengunduhan di perangkatku mencapai 98 persen. Mataku beralih ke peta kota Jakarta yang terhampar di layarβMonas yang rapuh, reruntuhan Bundaran HI, dan pemukiman kumuh tempat aku dibesarkan. Semuanya akan menjadi debu bawah air dalam hitungan jam jika aku tidak bertindak.
Tiba-tiba, suara dentuman keras menghantam pintu ma**k. Sesuatu yang jauh lebih berat dan lebih kuat dari robot patroli biasa sedang mencoba mendob**k ma**k. Air di sekitarku mulai bergetar, menciptakan riak-riak kecil yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Bayu! Cepat!"
Aku mencabut perangkat peretasku tepat saat angka 100 persen muncul. Namun, mataku terpaku pada bayangan besar yang muncul di balik kaca tebal ruang kontrol. Itu bukan manusia. Bukan pula robot. Sosok ramping dengan sisik berkilauan dan mata kuning yang berpendar menatapku dari balik kegelapan air di luar sana.
Pa**kan Raja Atlantis sudah ada di sini, dan mereka tidak datang untuk menghentikan bom itu. Mereka datang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang selamat untuk menceritakan kebenarannya.
Aku mencengkeram artefak di pinggangku, merasakan denyut energinya yang semakin kuat seiring dengan getaran gedung yang mulai bergoyang. Pintu di belakangku meledak hancur, dan bau amis laut yang purba menyeruak ma**k.
"Sita," kataku sambil menarik kembali masker selamku dan mengunci katup udaranya. "Rencananya berubah. Kita tidak hanya mencuri data. Kita harus menghentikan kiamat ini sekarang juga."
Aku melompat ke dalam air yang diam, yang kini mulai bergolak oleh kedatangan sesuatu yang sangat haus darah. Di kegelapan yang pekat itu, aku menyadari satu hal: pemerintah bukan satu-satunya yang ingin melihat kota ini musnah. Dan aku berada tepat di tengah-tengah dua rahang yang siap mengatup.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!