Tekanan air di kedalaman tiga puluh meter selalu terasa seperti tangan raksasa yang meremas paru-paruku, namun kali ini, beban di dadaku jauh lebih berat daripada sekadar hukum fisika. Lampu senter di helm selamku membelah kegelapan keruh Teluk Jakarta yang kini menjadi kuburan beton. Partikel debu dan mikroplastik menari-nari di depan visorku, terpantul cahaya pucat yang menyingkap siluet gedung perkantoran yang miring, seolah-olah mereka sedang membungkuk memberi hormat pada kehancuran.
Aku menyesuaikan katup oksigenku. Suara napasku sendiri terdengar seperti parutan logam di telingakuβsebuah pengingat konstan bahwa di tempat ini, aku hanyalah tamu yang tidak diinginkan. Artefak di dalam kantong kedap air di pinggangku berdenyut, atau mungkin itu hanya imajinasiku. Yang jelas, setiap jengkal kemajuan menuju markas *The Submerged* terasa seperti melangkah lebih dalam ke mulut monster.
Begitu aku melewati palka berkarat yang menjadi pintu ma**k tersembunyi di lant** dasar sebuah hotel mewah yang tenggelam, air mulai surut. Mesin pompa tua di sana meraung protes, memuntahkan air kembali ke kegelapan. Aku melepas helm, menghirup udara yang berbau ozon, karat, dan keringat dingin.
"Kau kembali terlalu cepat, Bayu," sebuah suara dingin menyambutku.
Maya berdiri di ujung lorong sempit, tangannya bersedekap. Di bawah lampu neon yang berkedip, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Di belakangnya, beberapa anggota *The Submerged* berkumpul. Suasana di sana tidak hangat; udara terasa seolah-olah sedang menunggu percikan api untuk meledak.
"Pemerintah tidak berniat menyelamatkan siapa pun," kataku tanpa basa-basi, suaraku serak karena sisa air garam di tenggorokan. "Penenggelaman Jakarta itu bukan kecelakaan. Itu tumbal. Dan sekarang, mereka yang di bawah sanaβsesuatu yang lebih buruk dari hiu atau legendaβsedang bersiap untuk naik."
Hening sejenak. Aku bisa melihat keterkejutan yang hanya berlangsung sekian detik di mata Maya, sebelum kemudian digantikan oleh topeng ketenangan yang keras. Namun, di belakangnya, bisik-bisik mulai merayap seperti kecoa di dinding.
"Tumbal? Kau bicara apa, Scavenger?" Guntur, pria bertubuh besar dengan bekas luka bakar di lehernya, melangkah maju. Tangannya mencengkeram gagang senapan harpunnya dengan kencang. "Kami sudah c**up menderita hidup di sela-sela reruntuhan ini. Sekarang kau datang membawa cerita dongeng tentang invasi makhluk laut?"
"Ini bukan dongeng, Guntur!" aku membentak, melangkah mendekat hingga dada kami hampir bersentuhan. "Aku melihat datanya. Aku melihat artefak ini bereaksi dengan sisa-sisa energi di Monas. Penghalang itu mulai retak. Jika kita tidak memperingatkan penduduk di daratan utama, mereka akan terbant** tanpa sempat tahu apa yang menyerang mereka."
"Memperingatkan mereka?" Guntur tertawa sinis, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Orang-orang di atas sana yang membiarkan kita membusuk di sini? Yang menganggap kita hanya sampah laut? Biarkan saja mereka merasakan apa yang kita rasakan."
"Ini bukan tentang balas dendam, ini tentang kelangsungan hidup spesies kita!" balasku.
"Spesies kita?" Maya memotong, suaranya tenang namun mematikan. Dia berjalan memutari kami berdua. "Bayu, sejak kau menemukan artefak itu, kau berubah. Kau mulai berpikir seperti pahlawan, padahal kita hanyalah penyintas. Kelompok ini bertahan hidup karena kita tahu kapan harus bersembunyi."
"Kita tidak bisa bersembunyi dari ini, Maya," aku menatapnya tajam, memohon agar dia melihat kewarasan dalam kata-kataku. "Jika Atlantis bangkit, Jakarta hanya akan jadi batu loncatan pertama. Mereka tidak akan berhenti sampai seluruh daratan menjadi milik mereka."
Perpecahan di ruangan itu kini terlihat jelas. Beberapa orang bergeser ke belakang Guntur, wajah mereka menunjukkan kemarahan dan kelelahan yang sudah lama terpendam. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan keluarga saat tanggul jebol, orang-orang yang dikhianati oleh janji-janji pemerintah. Bagai mereka, kehancuran dunia di atas adalah keadilan.
Namun, ada beberapa yang ragu, menatapku dengan mata yang masih menyimpan sedikit kemanusiaan.
"Kita punya kapal selam mini yang tersisa," ujar seorang teknisi muda bernama Kancil dengan suara gemetar. "Kita bisa menggunakan pemancar sinyal jarak jauh untuk mengirim pesan ke frekuensi darurat daratan. Tapi itu akan membocorkan posisi kita ke patroli pemerintah."
"Aku tidak akan membiarkanmu mempertaruhkan tempat perlindungan ini demi orang-orang yang membuang kita!" Guntur berteriak, mengarahkan harpunnya ke lant**. "Jika kau ingin menjadi martir, Bayu, pergi sana sendiri. Tapi artefak itu... itu milik kami. Itu tiket kita untuk bernegosiasi atau membeli jalan keluar dari lubang neraka ini."
Aku merasakan hawa dingin merayap di punggungku. Bukan lagi soal memperingatkan dunia, sekarang ini soal apakah aku bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup. Guntur bukan lagi sekadar rekan yang kasar; dia melihat artefak di pinggangku sebagai harta karun, bukan kunci bencana.
"Artefak ini tidak bisa dijual, Guntur," kataku pelan, tanganku perlahan turun ke arah sabukku, menyentuh gagang pisau selamku. "Ini bukan barang rongsokan. Ini pemicu."
Maya berdiri di antara kami, matanya beralih dari aku ke Guntur. Aku bisa melihat otaknya bekerja, menghitung peluang, menimbang kesetiaan. Di luar sana, di balik dinding beton hotel yang retak, aku seolah bisa mendengar suara gemuruh air yang tak tenangβseolah-olah laut itu sendiri sedang menahan napas, menunggu perintah untuk menerjang ma**k.
"C**up!" teriak Maya. "Bayu, kau bilang kau punya bukti. Tunjukkan pada kami cara mengaktifkan artefak itu tanpa menghancurkan tempat ini, atau aku akan membiarkan Guntur melakukan apa yang dia inginkan."
Aku membuka mulut untuk membantah, tapi tiba-tiba seluruh ruangan bergetar hebat. Bukan gempa bumi biasa. Getarannya ritmis, seperti detak jantung raksasa yang datang dari bawah lant** gedung. Lampu neon di langit-langit meledak, melemparkan kami ke dalam keremangan lampu darurat yang merah temaram.
Di kejauhan, melalui celah kecil di jendela bertekanan tinggi di ujung aula, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Cahaya biru elektrik berpendar di kegelapan laut dalam, bergerak cepat menuju ke arah kami. Itu bukan patroli pemerintah.
"Mereka sudah di sini," bisikku, dan suara itu terdengar seperti vonis mati.
Guntur tidak lagi menatapku; dia menatap ke jendela dengan mata terbelalak. Perselisihan kami mendadak terasa sangat kecil dibandingkan dengan bayangan raksasa yang mulai menutupi pandangan kami dari balik kaca. Sesuatu sedang mengetuk pintu, dan mereka tidak berniat meminta izin untuk ma**k.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!