Tekanan air di kedalaman seratus meter biasanya terasa seperti pelukan erat yang dingin, tetapi kali ini, rasanya lebih seperti remasan tangan raksasa yang siap memecahkan tulang rusukku. Di depanku, monumen yang dulunya merupakan kebanggaan bangsa, Monas, berdiri seperti nisan raksasa yang diselimuti teritip dan lumut laut pekat. Emas di puncaknya sudah lama memudar, tertutup lapisan sedimen dan kegelapan abadi Abyssal Jakarta.
Napas kuteratur, atau setidaknya aku mencoba membuatnya begitu. Suara *rebreather* di punggungku mengeluarkan bunyi berdesis yang monoton—*hiss, klik, hiss*. Aku benci kesunyian ini. Di Jakarta yang tenggelam, air yang tenang adalah tanda bahwa maut sedang mengint** dari balik bayang-bayang gedung pencakar langit yang miring.
"Bayu, status?" Suara Raka berderit melalui *com-link* di helmku, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik dari artefak yang terikat di pinggangku.
"Masih bernapas," jawabku singkat. Tanganku mencengkeram gagang pelontar jangkar yang sudah kumodifikasi menjadi senjata tajam. "Tapi artefaknya mulai 'bernyanyi'. Bergetar hebat sampai gigiku rasanya mau copot."
"Tahan di sana. Sensor kami menangkap lonjakan energi kinetik dari bawah cawan Monas. Sesuatu yang besar akan keluar."
Aku melirik ke arah lubang menganga di dasar Monas. Lubang itu tidak ada di peta mana pun. Itu adalah luka menganga di bumi, sebuah portal yang memuntahkan kegelapan yang lebih pekat daripada air laut di sekitarnya. Tiba-tiba, getaran itu berhenti. Kesunyian yang mematikan kembali melanda. Aku membeku. Ini adalah jenis ketenangan yang memicu trauma lamaku—saat air ma**k ke paru-paru orang tuaku dan dunia menjadi sunyi seketika.
Lalu, air di depanku meledak.
Bukan ledakan api, melainkan ledakan gerakan. Dari kegelapan lubang itu, lusinan bayangan meluncur keluar dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Mereka adalah Pa**kan Atlantis—begitu Raka menyebutnya—meskipun bagiku mereka lebih mirip mimpi buruk evolusi yang salah arah. Tubuh mereka ramping, tertutup sisik metalik yang memantulkan cahaya kehijauan samar, dengan sirip punggung yang tajam seperti silet.
"Mereka datang!" teriakku, lebih kepada diriku sendiri untuk mengusir rasa takut.
Aku segera menekan pemicu pada alat pendorong di pergelangan kakiku. *Jet-stream* kecil mendorongku ke samping, tepat saat salah satu dari makhluk itu menerjang tempatku berada tadi. Tombak tulang yang mereka bawa menghantam pilar beton gedung kementerian di belakangku, menghancurkannya menjadi debu bawah air.
Aku tidak menunggu serangan kedua. Aku menarik tuas pada botol gas yang menempel di sabukku. *Boom.* Bukan ledakan penghancur, melainkan awan tinta tebal bercampur serpihan logam tajam—trik lama para *scavenger* untuk mengelabui hiu mutan.
"Raka, aktifkan perangkapnya sekarang!" teriakku sambil berenang zig-zag di antara kabel-kabel baja yang melintang dari reruntuhan gedung Indosat.
"Tunggu, Bayu! Kau masih di zona ledak!"
"Lakukan saja, si****!"
Sesaat kemudian, seluruh area di sekitar Monas berguncang. Ranjau bawah air yang kami rakit dari sisa-sisa baterai nuklir kapal selam tua meledak serentak. Gelombang kejutnya menghantam dadaku seperti bogem mentah. Pandanganku mengabur, oksigen di indikator helmku berkedip merah. Namun, aku bisa melihat hasilnya: makhluk-makhluk itu terpental, beberapa hancur berkeping-keping karena tekanan mendadak, darah hijau mereka mengental di air seperti tumpahan minyak.
Namun, kemenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Dari lubang Monas, bukan lagi puluhan, melainkan ratusan mata bercahaya mulai muncul. Suara melengking tinggi, seperti gesekan logam, memenuhi frekuensi radio milikku.
"Itu baru gelombang pertama," gumamku, tenggorokanku terasa kering.
Satu dari mereka, lebih besar dengan baju zirah yang tampak organik, berhasil menembus kepulan debu sisa ledakan. Ia bergerak terlalu cepat untuk dipantau mata manusia. Sebelum aku sempat membidikkan pelontar jangkarku, tangannya yang berselaput sudah mencengkeram leherku. Kekuatannya luar biasa. Helmku mulai retak. Suara retakan kaca di bawah tekanan laut dalam adalah suara paling menakutkan yang pernah kudengar.
Aku menatap mata makhluk itu—hitam, besar, dan penuh dengan kebencian purba yang tidak bisa dijelaskan. Di saat itulah, artefak di pinggangku bereaksi. Cahaya biru elektrik memancar darinya, menyelimuti tubuhku. Rasa panas yang membakar menjalar ke tulang-tulangku, beradu dengan dinginnya air laut.
Makhluk itu menjerit—suara yang bisa memecahkan gendang telinga—dan melepaskan cengkeramannya saat kulitnya mulai melepuh terkena cahaya dari artefak tersebut. Aku terengah-engah, mencoba menstabilkan posisiku di air yang kini penuh dengan pusaran arus liar.
"Bayu! Apa yang terjadi? Energinya meluap! Kau bisa meledak!" Suara Raka terdengar panik.
Aku melihat tanganku sendiri. Bukan hanya artefaknya yang bersinar, tapi pembuluh darah di lenganku mulai memancarkan cahaya biru yang sama. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah darahku berubah menjadi air raksa yang mendidih. Tapi di tengah rasa sakit itu, ketakutanku hilang. Aku tidak lagi merasa seperti mangsa.
Aku menoleh ke arah Monas. Di sana, di mulut lubang gelap itu, sesuatu yang jauh lebih besar mulai merayap naik. Sebuah bayangan yang lebarnya menyamai diameter lapangan Monas, dengan tentakel yang dipenuhi duri-duri kristal.
"Raka," kataku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, lebih berat dan bergema. "Kirim pesan ke semua orang di permukaan. Tutup gerbang daratan. Jangan biarkan satu pun kapal keluar."
"Apa maksudmu? Bayu, kembali sekarang!"
Aku melepaskan pengait jangkarku dan membiarkan diriku melayang bebas di tengah kepungan pa**kan Atlantis yang mulai mendekat lagi. "Mereka bukan mau menyerang Jakarta, Raka. Mereka mau mengambil kembali apa yang ada di tanganku ini. Dan aku tidak akan membiarkan mereka mencapai permukaan."
Saat makhluk raksasa itu menampakkan kepalanya—sebuah tengkorak purba dengan mahkota duri—aku menyadari satu hal. Penenggelaman Jakarta bukan akhir dari sebuah rencana, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Artefak di tanganku berdenyut sekali lagi, mengirimkan gelombang kejut yang membuat air di sekitarku mulai berputar membentuk pusaran raksasa.
Aku harus menghentikannya di sini, atau dunia di atas tidak akan pernah melihat matahari esok pagi. Namun, saat cahaya biru itu semakin terang menelan penglihatanku, aku mendengar sebuah suara di dalam kepalaku, suara yang bukan milik Raka, bukan milik manusia.
*Selamat datang di rumah, Sang Pembawa Kunci.*
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!