Dingin air laut dalam di kedalaman dua puluh meter di bawah permukaan Jakarta biasanya terasa seperti pelukan maut yang akrab bagi Bayu. Namun kali ini, suhu dingin itu kalah oleh panas yang menjalar di dadanya saat ia menatap melalui visor helm selammya. Di balik dinding kaca polimer yang retak di ruang komando Satgas yang terendam, ia melihat Maya. Gadis itu terikat di kursi logam, kepalanya terkulai dengan darah yang merembes dari pelipis, melayang-layang kecil seperti benang merah di dalam air.
Di hadapan Maya, berdiri Jenderal Wirya. Pria itu tidak mengenakan baju selam berat seperti Bayu. Ia mengenakan setelan eksoskeleton kedap air yang ramping dan mahal, teknologi yang hanya bisa dibeli oleh nyawa ribuan rakyat yang ditenggelamkan dua dekade lalu.
"Kau terlambat lima menit, Scavenger," suara Wirya terdengar melalui frekuensi radio publik, dingin dan tanpa distorsi.
Bayu mengepalkan tinju. Di tangan kirinya, Artefak Atlantis—sebuah cakram perunggu dengan ukiran cahaya biru yang berdenyut seirama detak jantungnya—terasa berat. Benda itu bukan sekadar rongsokan. Itu adalah napas terakhir Jakarta, atau mungkin, lonceng kematian bagi seluruh daratan utama.
"Lepaskan dia, Wirya. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Gerbangnya sudah mulai terbuka. Tumbal ini... semua ini sudah c**up, bukan?" Bayu mencoba menstabilkan suaranya, meski trauma lamanya—bayangan saat keluarganya terseret arus saat tanggul pecah—mulai membisikkan kepanikan di belakang telinganya.
Wirya tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir ini tentang politik? Tentang wilayah? Tidak, Bayu. Ini tentang evolusi. Makhluk-makhluk di bawah sana tidak butuh negosiasi. Mereka butuh jalan ma**k. Dan kunci yang kau pegang itu adalah satu-satunya cara untuk menstabilkan koridor tersebut sebelum mereka merobek kota ini menjadi serpihan."
Wirya menarik rambut Maya, memaksa gadis itu mendongak. Mata Maya terbuka sedikit, kabur dan tidak fokus, namun saat ia melihat Bayu, bibirnya bergerak gemetar di balik masker oksigennya. *Jangan,* bisiknya tanpa suara.
Bayu melirik ke arah panel kontrol di belakang Wirya. Di sana, lubang hitam menganga di dasar Monas sedang berdenyut. Energi ungu gelap memancar keluar, menciptakan pusaran air yang mulai menyedot puing-puing di sekitar mereka. Makhluk-makhluk itu—si penjaga laut dalam yang haus darah—mulai terlihat sebagai bayangan-bayangan panjang yang meliuk di kegelapan luar.
Dilema itu menghantam Bayu lebih keras daripada tekanan air. Jika ia memberikan artefak itu pada Wirya, sang Jenderal akan menggunakannya untuk membuka gerbang sepenuhnya, mengizinkan invasi yang akan menyapu bersih sisa manusia di daratan. Namun, Wirya akan membiarkan Maya hidup—setidaknya untuk sementara. Jika ia menggunakan artefak itu untuk mengaktifkan protokol penguncian sekarang, energi baliknya akan menghancurkan ruang komando ini, menghancurkan Wirya, namun juga akan membunuh Maya seketika.
"Pilih, Bayu," Wirya menempelkan ujung laras pistol tekanan tinggi ke leher Maya. "Gadis ini, atau beban moral menyelamatkan dunia yang sudah membuangmu ke selokan?"
Bayu bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dadanya sesak. Akuafobianya mendadak kambuh; ia merasa air di sekelilingnya bukan lagi sekadar medium, melainkan monster yang siap menelannya. Ia melihat wajah Maya, teringat bagaimana gadis itu adalah satu-satunya orang yang tidak memandangnya sebagai sampah Scavenger di pasar gelap.
"Bayu... lakukan..." suara Maya terdengar lemah lewat interkom yang terhubung paksa. "Jangan biarkan... mereka naik..."
"Diam!" bentak Wirya.
Bayu melangkah maju, tangannya gemetar. "Aku tidak bisa kehilangan lagi, Wirya. Aku sudah kehilangan segalanya di tahun 2025."
"Maka berikan padaku!" Wirya mengulurkan tangan.
Bayu menatap artefak di tangannya. Cahaya birunya kini berubah menjadi merah peringatan. Sinkronisasi dengan gerbang sudah mencapai titik kritis. Jika ia tidak bertindak dalam sepuluh detik, gerbang itu akan meledak secara tidak terkendali, menghancurkan Jakarta dan mengirimkan gelombang tsunami yang akan menenggelamkan sisa Jawa.
Ia menatap mata Maya untuk terakhir kalinya. Ada sebuah pengertian yang menyakitkan di sana. Bayu tahu apa yang harus ia lakukan, sebuah tindakan yang bertentangan dengan insting pragmatisnya untuk bertahan hidup.
"Maafkan aku, Maya," bisik Bayu.
Bukannya memberikan artefak itu ke tangan Wirya, Bayu justru menghantamkan benda itu ke panel kontrol di sampingnya dengan seluruh tenaga eksoskeleton lengannya.
Lampu-lampu di ruang komando berkedip merah terang. Alarm melengking m****akkan telinga. Air di sekeliling mereka mulai berputar dengan kecepatan g***.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" teriak Wirya, panik saat ia menyadari bahwa Bayu tidak mengunci gerbang, tapi membebani sirkuitnya.
"Aku tidak memilih salah satu," desis Bayu sambil menerjang ke arah kaca polimer yang retak, mengabaikan moncong pistol Wirya. "Aku akan menghancurkan keduanya."
Ledakan energi pertama melempar Bayu ke belakang. Kaca polimer itu pecah berkeping-keping. Air laut dalam yang luar biasa besar volumenya menyerbu ma**k ke dalam ruangan seperti air bah dari neraka. Bayu melihat Wirya tersapu arus, sementara tubuh Maya terlepas dari ikatannya, terombang-ambing di tengah pusaran maut.
Bayu berenang sekuat tenaga, melawan arus yang berusaha merobek anggota tubuhnya. Tangannya menggapai, jarinya hampir menyentuh ujung jari Maya, namun saat itu juga, sebuah bayangan raksasa muncul dari lubang gerbang yang retak. Sesuatu yang bukan manusia, dengan mata yang bersinar kuning pucat dan cakar yang panjangnya melebihi ukuran tubuh manusia.
Makhluk itu tidak mengejar Bayu. Ia mengejar artefak yang kini melayang jatuh ke arah kegelapan tak berdasar di bawah Monas.
Bayu berhasil memeluk Maya, namun ia menyadari satu hal yang mengerikan. Masker oksigen Maya telah terlepas saat ledakan tadi. Gadis itu terengah, gelembung udara terakhir keluar dari mulutnya, sementara di bawah mereka, gerbang yang rusak itu bukannya tertutup, justru mulai mengeluarkan suara raungan mekanis yang bisa meretakkan tulang.
Jakarta bergetar. Dan dari kegelapan di bawah mereka, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pa**kan infanteri Atlantis mulai merayap keluar, menatap langsung ke arah Bayu dengan rasa lapar yang sudah tertahan selama ribuan tahun.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!