Suara dengung dari alat penafas buatanku terasa lebih m****akkan telinga dari biasanya. Di kedalaman empat puluh meter di bawah permukaan Teluk Jakarta yang hitam, kesunyian seharusnya menjadi kawan. Namun, malam ini, kesunyian itu terasa seperti beban berton-ton air yang siap meremukkan tulang rusukku. Senter di bahu jas selamku berkedip-kedip, menyoroti partikel sedimen yang menari seperti debu di rumah tua yang ditinggalkan.
Di hadapanku, berdiri sesuatu yang tidak ma**k dalam buku panduan *Scavenger* mana pun.
Sosok itu ramping, hampir setinggi dua meter, dengan kulit pucat yang berpendar kebiruan seperti fosfor. Ia tidak menggunakan tabung oksigen atau baju selam berat. Pakaiannya tampak seperti jalinan sisik yang berpendar halus, bergerak mengikuti arus seolah-olah merupakan bagian dari kulitnya sendiri. Di belakangnya, reruntuhan pusat perbelanjaan Grand I****esia yang megah kini tak lebih dari sarang karang yang mati.
Aku mencengkeram gagang belatung getar di pinggangku, tapi tanganku gemetar. Artefak Monas yang kusimpan di dalam saku dada jas selamku berdenyut panas, mengirimkan sensasi hangat yang kontras dengan air laut yang membekukan.
*“Kau tidak perlu senjata itu, Anak Daratan,”* suara itu muncul begitu saja di dalam tempurung kepalaku. Bukan melalui radio, bukan melalui getaran air. Itu adalah suara yang bersih, tanpa aksen, namun memiliki gema yang membuat mual.
Aku tersentak, hampir melepaskan gigitan pada selang oksigenku. Mataku menyipit di balik visor kaca. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa..."
*“Kami mendengar melalui keheningan yang kau benci,”* sosok itu tidak menggerakkan bibir. Wajahnya yang tirus memiliki mata besar tanpa pupil, berwarna perak solid yang memantulkan bayangan jas selamku yang kusam. Ia melayang mendekat, gerakannya begitu halus, membelah air tanpa menciptakan gelembung sedikit pun. *“Aku adalah Utusan dari Mereka yang Tak Terhapuskan. Dan kau... kau membawa Kunci yang bukan milikmu.”*
Aku memaksakan diri untuk tetap tegak, menahan dorongan insting untuk berenang menjauh secepat mungkin. "Aku menemukan ini di reruntuhan. Di tempat yang kalian hancurkan dua puluh tahun lalu."
Utusan itu berhenti, hanya terpaut dua meter dariku. Cahaya biru dari kulitnya menyinari retakan di helmku. *“Hancurkan? Kau menggunakan kata yang salah, Bayu Saputra.”*
Jantungku mencelos. Ia tahu namaku. "Apa yang kalian inginkan? Jika ini soal artefak ini, ambil saja! Tapi hentikan invasi kalian. Biarkan orang-orang di daratan hidup tenang!"
Ada jeda yang c**up lama. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu di telinga. Tiba-tiba, sebuah gambaran melintas di benakku—begitu cepat dan tajam hingga kepalaku terasa seperti ditusuk jarum panas. Aku melihat Jakarta tahun 2045, tapi bukan saat ba**** besar itu terjadi. Aku melihat para petinggi pemerintahan, orang-orang berseragam rapi dengan lencana emas, berdiri di atas Tanggul Raksasa. Mereka tidak sedang panik. Mereka sedang memegang detonator.
*“Kalian menyebutnya bencana alam,”* bisik suara itu, kini lebih dingin, lebih tajam. *“Kalian membangun narasi tentang kegagalan teknologi dan perubahan iklim untuk menutupi kerakusan yang tak terbayangkan.”*
“Apa maksudmu?” suaraku parau, tertelan oleh masker selam.
Utusan itu mengangkat tangannya yang berjari panjang. Artefak di dadaku bereaksi, bersinar terang hingga menembus kain jas selamku. *“Kamilah yang diserang lebih dulu. Daratanmu sudah sekarat, dan pemimpinmu memutuskan bahwa kedalaman laut kami adalah tambang energi berikutnya. Mereka mengirimkan getaran sonik yang menghancurkan kota-kota karang kami, membunuh ribuan benih kami hanya untuk mencari apa yang kau sebut 'Kunci' ini.”*
Gambaran lain menghantamku. Aku melihat ayahku, seorang insinyur sipil di proyek Tanggul Raksasa, berdebat keras dengan seorang pria berseragam militer. Aku melihat ayahku diseret pergi di malam sebelum tanggul itu sengaja diruntuhkan.
*“Tanggul itu tidak runtuh karena beban air,”* Utusan itu terus mendesak ma**k ke dalam pikiranku, memperlihatkan ledakan-ledakan kecil yang terencana di fondasi beton paling bawah. *“Mereka menenggelamkan kota ini bukan sebagai kecelakaan, tapi sebagai tumbal. Sebuah persembahan paksa agar mereka bisa memba****i wilayah kami dan mencuri teknologi Atlantis saat kami sedang dalam kekacauan. Penenggelaman Jakarta adalah pernyataan perang dari bangsamu, Bayu.”*
Aku menggelengkan kepala dengan kuat, rasa pusing menyerangku. "Tidak mungkin. Itu bohong! Pemerintah menenggelamkan Jakarta untuk menahan kalian tetap di bawah!"
*“Kebenaran seringkali pahit bagi mereka yang hidup di atas kebohongan,”* Utusan itu mendekat, jarinya yang dingin menyentuh kaca helmku, tepat di depan mataku. *“Kami tidak merangkak naik untuk menjajah. Kami naik untuk mengambil kembali apa yang kalian curi, dan memastikan bahwa tangan-tangan yang meruntuhkan rumah kami tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.”*
Aku tertegun, sesak napas bukan karena kehabisan oksigen, tapi karena kenyataan yang baru saja menghantamku. Selama ini, aku hidup dengan dendam pada laut. Aku membenci setiap tetes air yang menelan keluargaku, mengira laut adalah monster yang haus darah.
Namun, jika apa yang dikatakan makhluk ini benar, maka monster yang sebenarnya selama ini berdiri di daratan, memakai seragam kehormatan, dan memberikan perintah dari gedung-gedung tinggi yang tetap kering di ibu kota baru.
"Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanyaku, suaraku melemah. "Aku hanya seorang pemulung rongsokan."
Utusan itu menarik tangannya. Cahaya di matanya meredup, menyisakan kekosongan yang mengerikan. *“Karena artefak itu sudah memilih inang yang salah. Ia terikat pada sarafmu, pada traumamu. Kami tidak bisa mengambilnya tanpamu. Dan sekarang, kau harus memilih.”*
Ia menunjuk ke arah permukaan, di mana cahaya lampu dari patroli penjaga pant** terlihat seperti bintang-bintang kecil yang jauh dan tak terjangkau.
*“Berikan Kunci itu kepada kami dan biarkan kami menyelesaikan urusan dengan mereka yang mengkhianatimu, atau kembalilah ke daratan dan jadilah tameng bagi para pembunuh yang kau sebut pemimpinmu itu. Namun ketahuilah, Bayu... mereka sudah tahu kau bertemu denganku. Dan bagi mereka, kau bukan lagi penyelamat. Kau adalah bukti hidup yang harus segera dimusnahkan.”*
Tepat saat kata-kata itu berakhir, sebuah ledakan hebat mengguncang air di sekitar kami. Cahaya laser merah dari senapan bawah air militer mulai membedah kegelapan, menyapu reruntuhan, dan salah satunya mendarat tepat di dadaku.
Aku menoleh ke belakang. Di kegelapan yang lebih dangkal, selusin penyelam tempur elite pemerintah sedang meluncur turun dengan pendorong jet cepat. Mereka tidak datang untuk menjemputku. Mereka datang dengan senjata lengkap yang sudah siap meledak.
Aku menatap sang Utusan, lalu ke arah artefak yang berdenyut di dadaku. Pilihan itu bukan lagi soal menyelamatkan dunia, tapi tentang siapa yang akan menusuk punggungku lebih dulu.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!