Dinginnya air di kedalaman empat puluh meter ini bukan lagi soal suhu, melainkan soal bagaimana ia merayap ma**k ke dalam pori-pori kulit melalui celah-celah kecil setelan selamku yang mulai menipis. Di depanku, sisa-sisa Jalan Merdeka Utara bukan lagi pusat kekuasaan, melainkan sebuah palung gelap yang dipenuhi kabel-kabel raksasa yang berdenyut seperti urat nadi makhluk hidup.
"Bayu, oksigenmu tinggal lima belas persen. Kalau kau tidak ma**k sekarang, kau hanya akan jadi bangkai yang mengapung sebelum sempat menyentuh konsol utama," suara Ranti berderak di *headset*-ku, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik dari artefak di pinggangku.
Aku mengatur napas, berusaha menekan detak jantung yang memalu rongga dada. Setiap kali aku melihat ke arah kegelapan tak berujung di depanku, perutku mulas. Akuafobia ini adalah kutukan bagi seorang penyelam rongsokan sepertiku, tapi rasa benci pada mereka yang menenggelamkan kota ini jauh lebih besar daripada ketakutanku pada air.
"Aku tahu, Ranti. Berhenti mengoceh atau aku akan mematikan radionya," balasku pendek. Tanganku yang terbungkus sarung tangan mekanik mencengkeram gagang senter plasma.
Cahaya biru dari senterku menyapu reruntuhan gerbang Istana Negara yang kini sudah hancur total. Di tengah-tengah reruntuhan itu, sebuah struktur organik berbentuk spiral menjulang tinggi, menembus langit-langit air. Itulah jantung 'Dungeon' Jakarta—Mesin Pemanggil. Puncaknya berkedip-kedip dengan cahaya ungu yang memuakkan, mengirimkan sinyal ke dasar samudera terjauh, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Aku berenang mendekat, melewati pilar-pilar beton yang sudah ditumbuhi koral tajam mirip taring. Namun, tepat saat aku berada sepuluh meter dari pintu ma**k inti mesin, air di sekitarku mendadak bergetar. Getarannya begitu kuat hingga gigiku beradu.
*Bloop.*
Sebuah gelembung raksasa naik dari kegelapan di balik reruntuhan gedung sekretariat. Lalu, sebuah mata seukuran ban truk terbuka.
Pupilnya vertikal, berwarna kuning menyala dengan urat-urat merah yang berdenyut. Itu bukan sekadar ikan raksasa. Itu adalah sang Penjaga. Penduduk gelap Jakarta menyebutnya Sang Kraken, meski bagiku, ia lebih mirip mimpi buruk evolusi yang salah arah. Lengan-lengannya yang dipenuhi duri-duri tajam meliuk di antara gedung-gedung, meremukkan beton setebal satu meter seolah-olah itu hanya biskuit kering.
"Ranti, kita punya masalah besar," bisikku, meskipun aku tahu suara sekecil apa pun di dalam air ini adalah undangan makan malam bagi makhluk itu.
"Apa maksudmu? Sensor radarku bersih, Bay—"
"Lupakan radarmu! Makhluk ini tidak terdeteksi mesin!" teriakku saat salah satu tentakelnya menghantam aspal di sampingku, melemparkan tubuhku ke udara—atau lebih tepatnya, ke arus air yang kacau.
Pandanganku kabur sejenak. Alarm tekanan di pergelangan tanganku berbunyi nyaring. *Integritas Setelan: 82%.*
Kraken itu meluncur maju. Gerakannya sangat anggun untuk makhluk sebesar itu, membelah air tanpa suara. Paruhnya yang hitam dan keras terbuka, mengeluarkan bunyi geraman rendah yang membuat dadaku sesak. Ia tahu aku membawa artefak itu. Ia bisa merasakannya.
Aku menekan tombol pemicu pada pendorong di sepatuku, meluncur zig-zag di antara tiang-tiang listrik yang sudah miring. Tentakel raksasa itu menyambar, menghancurkan sisa-sisa bus TransJakarta yang berkarat di dekatku hingga menjadi serpihan metal. Aku bisa merasakan tekanan air yang terdorong akibat serangannya menghantam punggungku seperti palu godam.
"Bayu! Jangan lawan dia! Ma**k ke celah ventilasi di bawah kubah!" Ranti berteriak di telingaku.
"Aku sedang mencoba, si****!"
Aku melihat celah itu—sebuah lubang sempit di dasar struktur spiral yang memancarkan cahaya biru redup. Tapi Kraken itu tidak bodoh. Ia melingkarkan tiga tentakelnya di sekeliling mesin, membentuk barikade daging dan duri yang mustahil ditembus. Mata kuningnya menatapku dengan kebencian yang murni.
Aku berhenti, melayang diam di air. Tanganku meraba artefak kuno di pinggangku. Bentuknya seperti jantung mekanis dengan ukiran yang terus bergerak-gerak. Jika aku tidak bisa melewatinya dengan kecepatan, aku harus menggunakan cara lain. Cara yang belum tentu bisa kukendalikan.
"Bayu, apa yang kau lakukan? Jangan berhenti!"
Aku tidak menjawab. Aku melepaskan artefak itu dari kaitnya. Seketika, suhu air di sekitarku terasa naik. Cahaya emas mulai berpendar dari sela-sela jariku. Pengetahuan kuno yang tertanam di dalam benda ini mulai merayap ma**k ke saraf-saraf tanganku, membisikkan kode-kode yang tidak kupahami tapi bisa kurasakan.
Kraken itu meraung—sebuah gelombang sonik yang membuat telingaku berdarah di dalam helm. Ia meluncurkan seluruh tubuhnya ke arahku, tentakel-tentakelnya terbuka lebar seperti kelopak bunga kematian yang siap mengatup.
Aku memejamkan mata, membiarkan artefak itu mengambil alih. "Ayo, berikan aku jalan," geramku.
Saat moncong raksasa itu hanya berjarak beberapa meter dariku, artefak itu meledakkan gelombang energi kinetik yang begitu hebat. Air di depan mataku seolah terbelah menjadi ruang hampa sesaat. Kraken itu terpental ke belakang, tubuh raksasanya menghantam gedung kementerian di belakangnya hingga runtuh total dalam awan debu bawah air yang pekat.
Aku tidak membuang waktu. Aku menyalakan pendorong maksimal, melesat ke arah celah ventilasi. Namun, tepat sebelum aku ma**k, sebuah lilitan dingin dan kuat menyambar pergelangan kakiku.
Aku tersentak hebat. Makhluk itu belum menyerah. Salah satu ujung tentakelnya yang lebih kecil berhasil menangkapku. Ia menarikku kembali ke kegelapan, menjauh dari pintu ma**k inti mesin yang tinggal sejengkal lagi.
"Tidak sekarang... jangan sekarang!" aku berteriak, menghunjamkan pisau vib**siku ke daging kenyal itu, tapi rasanya seperti menusuk karet ban yang sangat tebal.
Lilitan itu semakin kencang, mulai meremukkan pelindung kaki setelanku. Aku bisa mendengar bunyi retakan karbon fiber. Di saat yang sama, pintu mesin di depanku mulai menutup secara otomatis karena protokol keamanan yang terpicu oleh ledakan energi tadi.
Aku terjebak di antara rahang monster dan pintu yang hampir tertutup. Dan di dalam kegelapan di belakang sang Kraken, aku melihat ribuan titik cahaya merah kecil mulai bermunculan. Pa**kan Atlantis lainnya telah tiba.
"Ranti," bisikku sambil menatap pintu yang kian menyempit. "Kalau aku tidak selamat, pastikan kau meledakkan tanggul bagian utara. Jangan biarkan mereka naik ke daratan."
Tanpa menunggu jawaban, aku menghidupkan kelebihan beban (*overload*) pada artefak di tanganku, membiarkan cahaya emas itu menelan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!