Gelembung udara yang keluar dari katup regulator di tengkukku terdengar seperti detak jantung yang terburu-buru. Di kedalaman tiga puluh meter di bawah permukaan air keruh yang dulunya adalah kawasan Thamrin, cahaya hanyalah kemewahan bagi mereka yang sudah mati. Senter kepalaku membelah kegelapan, menyingkap lumut tebal dan karat yang menggerogoti pilar baja raksasaβtulang punggung sistem drainase bawah tanah Jakarta yang gagal.
Tanganku, yang terbungkus sarung tangan karet tebal, bergetar sedikit saat menyentuh permukaan dingin detonator elektrik. Aku harus tenang. Satu kesalahan kecil, dan seluruh struktur ini akan runtuh sebelum waktunya, menguburku hidup-hidup bersama sejarah kota yang terbuang ini.
"Fokus, Bayu," bisikku pada diri sendiri, suaranya teredam oleh masker oksigen. "Hanya tiga titik lagi."
Aku merayap maju, melewati kabel-kabel melambai yang menyerupai tentakel ubur-ubur mati. Di pinggangku, artefak ituβsebuah cakram logam dengan ukiran rumit yang memancarkan pendar biru pucatβterasa panas meski berada di suhu air yang membekukan. Benda itu seolah bernapas, berdenyut selaras dengan kegelisahan yang merambat di dadaku. Setiap kali aku melirik pendar birunya, bayangan tentang air yang tenang dan mematikan kembali menghantui. Aku benci air yang diam. Di air yang diam, kau tidak tahu apa yang sedang menunggumu di balik kegelapan.
Aku baru saja akan memasang peledak plastik keempat pada sambungan utama pilar saat sensor sonar di pergelangan tanganku berbunyi nyaring. *Pung. Pung. Pung.*
Sesuatu yang besar sedang mendekat. Sangat besar. Dan itu bukan gerombolan ikan mutan atau arus bawah laut biasa.
"Hentikan, Bayu Saputra. Kau hanya akan memperburuk keadaan."
Suara itu datang melalui frekuensi radio darurat yang terenkripsi, memecah kesunyian dengan nada otoriter yang sangat kukenali. Aku berputar, mengarahkan senter ke arah lorong gelap di belakangku. Cahaya senterku menab**k logam yang mengkilatβsesuatu yang jauh lebih canggih daripada peralatan rongsokan yang kukenakan.
Dari balik kegelapan, muncul sebuah sosok raksasa. Itu adalah *Exoskeleton* tempur seri 'Hydra-7', unit kelas berat yang hanya dimiliki oleh pa**kan khusus Satgas Penanggulangan Bencana. Robot setinggi dua setengah meter itu bergerak dengan keanggunan yang mengerikan di dalam air, motor hidroliknya mendesis pelan setiap kali sendi-sendinya bergerak. Di balik kaca helm antipeluru yang tebal, aku melihat wajah pria yang menghancurkan hidupku: Jenderal Wiratama.
"Jenderal," desisku, gigiku beradu. "Masih hobi mengurus sampah di bawah sini?"
"Artefak itu bukan mainan untuk pemulung sepertimu, Nak," suara Wiratama terdengar berat melalui speaker luar exoskeleton-nya. Lengan mekanis robot itu terangkat, ujungnya dilengkapi dengan cakar hidrolik yang bisa meremukkan beton seolah-olah itu kerupuk. "Serahkan padaku, dan aku mungkin akan membiarkanmu naik ke permukaan untuk menghirup oksigen asli terakhir kalinya."
Aku mundur perlahan, tanganku masih memegang detonator jarak jauh. "Jadi benar? Penenggelaman Jakarta bukan karena tanggul jebol? Kalian sengaja melakukannya sebagai persembahan?"
Wiratama tertawa, sebuah suara kering yang tidak menyenangkan. "Dunia butuh keseimbangan, Bayu. Sesuatu yang besar sedang naik dari palung terdalam, dan mereka menuntut ruang. Kami hanya memberikan apa yang mereka minta agar daratan lainnya tetap selamat. Tapi kunci yang kau temukan di Monas itu... itu adalah variabel yang tidak seharusnya ada di tangan orang sipil."
"Variabel ini adalah kunci untuk menutup pintu yang kalian buka!" teriakku, suaraku pecah karena amarah. Aku teringat wajah ibuku yang hilang ditelan arus saat tanggul utara diledakkan sepuluh tahun lalu. "Kalian tidak menyelamatkan manusia. Kalian hanya sedang menegosiasikan harga untuk nyawa kami!"
"C**up omong kosongnya."
Exoskeleton itu menerjang. Gerakannya sangat cepat untuk ukuran mesin di bawah air. Aku menendang sirip selamku sekuat tenaga, melenting ke atas, menghindari cakar logam yang menghantam pilar baja tepat di tempat kepalaku berada tadi. Dampaknya menciptakan gelombang kejut yang membuat telingaku berdenging.
Aku tidak punya senjata. Hanya ada tang dan obeng di sabukku, serta peledak yang belum terpasang sempurna. Aku bersembunyi di balik reruntuhan gerbong MRT yang terbalik, mencoba mengatur napas. Jantungku berdegup kencang, memicu rasa sesak yang biasa datang saat fobia itu menyerang. *Jangan diam, Bayu. Kalau kau diam, kau mati.*
"Kau tidak bisa lari dalam labirin ini, Bayu. Aku yang merancang peta evakuasi tempat ini sebelum kita menenggelamkannya," suara Wiratama menggema, terdengar semakin dekat.
Cahaya lampu sorot dari exoskeleton itu menyapu langit-langit terowongan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Aku merogoh kantong sampingku dan menemukan sebuah suar (flare) bawah air. Sebuah ide g*** muncul.
Aku mengaktifkan suar itu. Cahaya merah menyala terang, memicu reaksi kimia yang menghasilkan panas tinggi. Aku melemparkannya ke arah berlawanan, lalu dengan cepat berenang menuju bagian belakang pilar utama tempat sisa peledak berada.
*B**AAK!*
Wiratama menghancurkan gerbong MRT itu dengan sekali hantam, mengira aku bersembunyi di sana karena cahaya merah suar tersebut. "Tikus kecil yang cerdik," geramnya.
Aku sampai di titik lemah struktur. Tanganku bergerak secepat kilat, menghubungkan kabel terakhir ke detonator utama. Hanya tinggal menekan satu tombol, dan seluruh langit-langit ini akan runtuh, menutup akses menuju jantung kota yang terkubur. Tapi itu juga berarti aku akan terjebak bersamanya.
Tiba-tiba, sebuah tangan logam raksasa mencengkeram kakiku.
"Dapat kau."
Wiratama menarikku dengan kekuatan yang luar biasa, membanting tubuhku ke dinding beton. Masker oksigenku retak. Alarm kebocoran berbunyi nyaring di telingaku, suara *pip-pip-pip* yang menandakan kematian sedang menghitung mundur. Rasa asin air laut mulai merembes ma**k ke mulutku.
Dia mengangkatku hingga mata kami sejajar. Lengan satunya lagi menjangkau artefak biru di pinggangku. "Terima kasih atas bantuannya, Scavenger. Sejarah tidak akan mengingat namamu."
Saat jemari mekanisnya menyentuh artefak itu, sesuatu terjadi. Pendar biru pada cakram tersebut tiba-tiba berubah menjadi merah darah. Denyutannya bukan lagi seperti napas, melainkan seperti jeritan. Getaran hebat merambat melalui air, bukan dari mesin, bukan dari peledak, tapi dari dasar tanah di bawah kami.
Tanah di bawah kaki exoskeleton Wiratama terbelah. Sesuatu yang jauh lebih besar dari robot tempur itu sedang mencoba mendob**k keluar dari dalam kerak bumi Jakarta.
"Apa itu?" suara Wiratama gemetar, otoritasnya hilang seketika digantikan ketakutan murni.
Aku tersenyum pahit di balik masker yang mulai penuh air. "Kurasa 'mereka' tidak mau menunggu tumbalnya lagi, Jenderal."
Sebuah tentakel raksasa dengan sisik yang keras seperti berlian melesat keluar dari celah lant**, melilit kaki exoskeleton Wiratama dan menariknya ke bawah dengan kekuatan yang mustahil. Bersamaan dengan itu, tanganku berhasil meraih detonator yang tadi melayang di dekatku.
Pilihannya hanya dua: mati tenggelam di sini, atau meledakkan tempat ini dan berharap artefak itu memberiku keajaiban yang tidak ma**k akal. Tanganku gemetar, jempolku berada di atas tombol merah. Di hadapanku, Jenderal Wiratama menjerit saat mesin tempurnya mulai hancur ditarik ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
Aku menekan tombol itu.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!