Tekanan air di kedalaman seratus meter di atas reruntuhan Lapangan Merdeka terasa seolah-olah ingin meremukkan paru-paruku, bahkan melalui baju selam *exoskeleton* tercanggih yang berhasil kurakit. Di depanku, ujung Monas yang kini berlumut dan diselimuti koral tajam tampak seperti nisan raksasa bagi peradaban yang ditenggelamkan dengan sengaja.
Cahaya biru pudar memancar dari gerbang melingkar yang terbuka di dasar tugu. Dari sana, Jenderal Karkos muncul. Tubuhnya setinggi tiga meter, dibalut baju zirah dari sisik naga laut yang berkilau gelap. Di tangannya, sebuah trisula bergerigi mengalirkan listrik statis yang membuat air di sekitarnya mendidih. Namun, bukan dia yang membuat tanganku gemetar hebat.
Di belakangnya, sebuah bayangan yang jauh lebih besarβbegitu masif hingga menutupi cahaya dari lubang magmaβmulai merayap naik. Sang Raja. Entitas yang selama ini hanya dianggap mitos oleh para *scavenger*, kini hadir dengan aura yang membuat insting primitifku berteriak untuk lari dan bersembunyi di balik reruntuhan beton.
"Kau membawa kuncinya, Manusia Debu," suara Karkos menggema langsung di dalam kepalaku, bukan melalui radio, melainkan getaran yang merobek kesadaran. "Serahkan Artefak itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan paru-paru penuh udara, bukan air asin."
Aku mengeratkan genggaman pada silinder logam di tangan kiriku. Artefak itu berdenyut, ritmenya seirama dengan detak jantungku yang mengg***. "Aku sudah kehilangan segalanya karena kebohongan kalian," suaraku parau, tertahan di masker oksigen. "Keluargaku, kotaku... kalian menjadikannya tumbal. Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil sisanya."
Karkos menerjang. Gerakannya di dalam air begitu mustahil, lebih cepat dari torpedo manapun yang pernah kulihat. Aku memacu *thruster* di punggungku, berputar di antara pilar-pilar Monas yang retak. Trisulanya menghantam beton tempatku berada sedetik lalu, meledakkannya menjadi debu vulkanik yang membutakan mata.
Aku terlempar, menghantam sisa pagar besi yang bengkok. Alarm di helmku berkedip merah: *INTEGRITAS SUIT 60%. OKSIGEN 12 MENIT.*
"Bayu, dengarkan aku!" Suara Maya m****ik di radio komunikasi, terputus-putus oleh interferensi energi. "Kau tidak bisa menang secara fisik! Artefak itu... pembacaan energinya tidak stabil. Jika kau memaksakan aliran baliknya, itu akan menciptakan singularitas. Tapi kau berada di titik nolnya!"
Aku melihat Sang Raja Atlantis mulai menampakkan wajahnyaβserupa manusia, namun dengan mata yang hitam pekat tanpa dasar, mencerminkan kehampaan samudra terdalam. Tangannya yang berselaput mulai meraih tepian gerbang, siap untuk melangkah keluar dan membawa kiamat ke daratan utama yang masih tenang di atas sana.
"Aku tahu, Maya," bisikku. Aku melihat Artefak di tanganku. Cahayanya kini berubah dari biru menjadi putih menyilaukan. "Aku selalu takut pada air yang tenang. Sekarang aku tahu alasannya. Karena di bawah ketenangan itu, ada monster yang menunggu. Dan aku tidak akan membiarkan mereka naik."
Karkos kembali menyerang, kali ini menyudutkanku di antara reruntuhan gerbong kereta bawah tanah yang terkubur lumpur. Ujung trisulanya menembus bahu kiriku. Rasa sakit yang tajam dan dingin membakar sarafku. Darah merah pekat merembes keluar, melayang di air seperti asap halus.
"Berikan!" raung Sang Jenderal.
Aku tersenyum di balik kaca helm yang retak. Aku menempelkan Artefak itu langsung ke inti daya di dadaku, memaksa sistem mekanik *scavenger*-ku untuk melakukan *overload*.
"Kau ingin kunci ini?" kataku, suaraku kini tenang secara aneh, ketakutanku menguap digantikan oleh tekad yang dingin. "Ambil di neraka."
Aku menekan sakelar bypass. Energi murni meledak dari Artefak, mengalir melalui lenganku dan menyatu dengan reaktor nuklir mini di punggungku. Ruang di sekitar kami mulai melengkung. Air di sekelilingku tidak lagi terasa berat, melainkan berputar membentuk pusaran raksasa yang menyedot segala sesuatu ke arahku.
Karkos mencoba mundur, matanya yang besar membelalak ketakutan saat melihat cahaya putih mulai menelan tubuhku. Di kejauhan, Sang Raja mengeluarkan raungan yang menggetarkan fondasi bumi saat gerbang Atlantis mulai retak dan runtuh di bawah tekanan energi yang tidak stabil.
Pandanganku mulai memutih. Suara Maya di radio lenyap, digantikan oleh denging frekuensi tinggi yang m****akkan telinga. Tekanan di dadaku terasa seolah-olah seluruh Jakarta sedang menduduki jantungku.
Aku melepaskan napas terakhirku, membiarkan oksigen sisa keluar dari masker. Dalam detik-detik terakhir sebelum ledakan itu melumatkan segalanya, aku melihat bayangan wajah ibuku di antara buih air.
*Maaf, Bu. Aku tidak pulang hari ini.*
Cahaya itu meledak, menghancurkan kegelapan abadi Jakarta bawah laut dalam satu dentuman yang sanggup menggeser lempeng tektonik. Namun, di tengah kehampaan yang membutakan itu, aku merasakan sesuatu yang mustahil. Sebuah tangan yang dingin namun kuat mencengkeram kerah bajuku, menarikku menjauh dari pusat ledakan tepat sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.
Dan itu bukan tangan manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!