Deru mesin tempel tua yang kugunakan terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam pekat yang langsung disapu angin laut yang lembap. Di depanku, barisan bukit Bogor yang dulu hijau kini berubah menjadi hutan beton dan seng yang menjorok ke perairan keruh. Inilah "Apung", pelabuhan darurat sekaligus pasar gelap terbesar bagi kami, para pemulung reruntuhan Jakarta. Tempat ini adalah perbatasan antara dunia yang tenggelam dan dunia yang masih mencoba bertahan hidup.
Tanganku meraba tas kedap air yang terikat erat di pinggang. Di dalamnya, artefak dari Monas itu terasa lebih berat dari yang seharusnya. Benda itu mengeluarkan getaran halus yang konstan, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri. Setiap kali kulitku bersentuhan dengan kain pelapis tas itu, bulu kudukku meremang. Rasanya seperti membawa bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Aku mematikan mesin saat mendekati dermaga kayu yang terbuat dari susunan pintu bekas dan drum plastik. Bau amis ikan busuk beradu dengan aroma solar dan keringat manusia. Suara teriakan para pedagang onderdil kapal bekas dan bau sate kerang yang dibakar mengisi udara, menciptakan simfoni kekacauan yang seharusnya membuatku merasa tenang karena sudah kembali ke "peradaban". Namun, hari ini, rasa curiga justru mendominasi.
"Woi, Bayu! Baru balik dari kuburan?" teriak seorang pedagang alat selam bekas saat aku melompat ke dermaga. Aku hanya mengangguk singkat, menarik topi lusuhku lebih rendah untuk menutupi wajah.
Aku tidak ingin perhatian. Di tempat seperti Apung, perhatian adalah mata uang yang berbahaya. Terutama jika kau baru saja kembali dari Sektor Nolβzona merah di jantung Jakarta yang hampir tidak pernah bisa ditembus tanpa peralatan militer.
Langkahku terhenti di tikungan menuju kedai kopi Koh Aseng, tempat biasanya aku menemui penadah barang antik. Tiga pria berdiri menghalangi jalan. Salah satunya bertubuh gempal dengan bekas luka bakar yang merusak sisi kiri wajahnya, menyisakan satu mata yang menatapku dengan kebencian murni.
"Si Mata Satu," bisikku pelan. Sial.
Mata Satu meludah ke lant** kayu yang rapuh. Di belakangnya, dua anak buahnya memainkan pisau lipat dengan gerakan yang terlatih. "Lama nggak liat muka suram lo, Bayu. Gue denger lo dapet 'ikan paus' di Monas tadi pagi. Bener?"
Aku menghela napas, berusaha menjaga detak jantungku tetap stabil. Trauma masa laluku terhadap air yang tenang tidak berlaku di sini, tapi ketakutanku akan dikhianati oleh sesama manusia selalu nyata. "Cuma rongsokan tembaga, Mata Satu. Nggak sebanding sama bensin yang gue habisin."
Mata Satu tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada besi karat. Dia melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. "Jangan bohongin gue. Anak buah gue liat lo keluar dari kubah Monas. Nggak ada yang berani ma**k ke sana kecuali mereka nemu emasβatau sesuatu yang lebih berharga."
Dia mengulurkan tangan yang kasar ke arah tas di pinggangku. "Sini, biar gue periksa. Anggap aja pajak keamanan karena lo udah ma**k wilayah pencarian gue."
"Gue nggak tahu Monas punya sertifikat hak milik atas nama lo," sahutku dingin. Tanganku perlahan turun, mendekati gagang pisau selam yang terselip di sepatu botku. "Minggir, atau kita berdua bakal punya masalah yang lebih besar dari sekadar urusan wilayah."
Ketegangan di udara terasa tebal, hampir bisa diraba. Orang-orang di sekitar kami mulai menjauh, tahu bahwa kekerasan adalah hukum tak tertulis di Apung. Mata Satu memberikan isyarat pada kedua anak buahnya. Mereka mulai bergerak mengepungku.
"Lo selalu keras kepala, Bay," geram Mata Satu. "Itu yang bikin keluarga lo mampus di Jakarta dulu, kan? Lo pikir lo bisa menyelamatkan semuanya sendirian?"
Kata-katanya menghujam tepat di ulu hati. Kilasan bayangan air yang perlahan naik di ruang tamu rumah kami dua puluh tahun lalu kembali terlintas. Jeritan ibuku yang terperangkap di balik pintu yang macet. Aku membeku sejenak, dan itu adalah kesalahan fatal.
Anak buah Mata Satu yang di sebelah kanan menerjang maju, mencoba merenggut tas di pinggangku. Aku tersentak bangun dari lamunan pahit itu, memutar tubuh dan memberikan tendangan telak ke tulang keringnya. Dia mengerang, tapi rekannya yang lain sudah mengayunkan pipa besi ke arah kepalaku.
Aku merunduk, merasakan hembusan angin dari pipa yang nyaris menghancurkan tengkorakku. Sambil bergerak, tanganku secara tidak sengaja menekan tas yang berisi artefak itu.
Tiba-tiba, sebuah gelombang kejut yang sunyi meledak dari dalam tas.
Itu bukan ledakan api, melainkan denyutan energi biru pucat yang meluas dalam radius dua meter. Mata Satu dan anak buahnya terpental ke belakang seolah-olah dihantam oleh ombak raksasa yang tak terlihat. Mereka tersungkur di lant** kayu, megap-megap mencari udara seolah-olah paru-paru mereka tiba-tiba terisi air.
Aku sendiri berdiri mematung, tidak tersentuh oleh gelombang itu, namun seluruh tubuhku bergetar hebat. Di dalam tas, artefak itu mengeluarkan suara berdengung yang rendah dan dalam, frekuensi yang terasa merayap ma**k ke dalam sumsum tulangku.
Mata Satu menatapku dengan ngeri, matanya yang satu-satunya itu membelalak lebar. "Lo... apa yang lo bawa itu, Bayu? Itu bukan barang antik..."
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, suara sirine penjaga pant**βpa**kan keamanan korporat yang dibayar untuk mengawasi Apungβmeraung di kejauhan. Mereka pasti merasakan anomali energi tadi.
Aku tidak punya pilihan. Jika aku tertangkap oleh keamanan dengan benda ini, aku tidak akan pernah melihat matahari lagi. Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga, bukan menuju kedai Koh Aseng, melainkan menuju tepian dermaga yang menghadap langsung ke arah gelapnya perairan Jakarta.
Di belakangku, aku mendengar teriakan Mata Satu dan derap sepatu bot pa**kan keamanan. Tapi yang lebih menakutkan adalah getaran di pinggangku yang semakin kuat, seolah-olah artefak itu sedang memanggil sesuatu dari kegelapan di bawah sana. Sesuatu yang selama ini tertidur dan kini, karena kecerobohanku, mulai terjaga.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!