Dinding-dinding logam di sekelilingku merintih, sebuah suara parau yang menandakan bahwa struktur raksasa ini sedang berada di ambang batasnya. Air laut yang dingin mulai merembes dari sela-sela paku keling yang terlepas, menyemprotkan jet air bertekanan tinggi yang sanggup memotong daging secepat pisau bedah. Di depanku, layar hologram yang retak berkedip-kedip merah, menampilkan bar kemajuan unggahan yang bergerak lambat—terlalu lambat untuk ukuran pria yang sebentar lagi akan terkubur hidup-hidup.
"Ayo, si****! Sedikit lagi!" teriakku, suaranya teredam oleh masker oksigen yang mulai terasa pengap. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku seirama dengan dentuman ledakan di kejauhan yang meruntuhkan menara-menara pencakar langit yang sudah lama tenggelam.
Artifact itu tertancap di konsol utama, memancarkan cahaya biru elektrik yang menyakitkan mata. Itu bukan sekadar barang rongsokan kuno; itu adalah kunci, saksi bisu, dan sekarang, senjata terakhirku. Di dalamnya tersimpan rekaman pertemuan rahasia tahun 2030, koordinat peledakan tanggul, dan daftar nama pejabat yang menjual Jakarta demi janji keabadian dari penghuni laut dalam.
98%... 99%...
Gelombang kejut pertama menghantam ruangan. Langit-langit beton di atasku retak, menjatuhkan puing-puing raksasa ke kolam air di bawah platform. Aku terhuyung, tangan kiriku mencengkeram pinggiran konsol sementara tangan kananku tetap menekan tombol transmisi. Air yang tadinya tenang kini berubah menjadi pusaran maut yang lapar. Aku benci air yang tenang, tapi aku jauh lebih membenci air yang sedang mengamuk seperti ini. Rasa trauma itu merayap di tengkukku, membayangkan paru-paruku terisi cairan payau yang dingin.
*PING.*
"Transmisi Selesai. Protokol Global Aktif."
Suara robotik itu adalah musik terindah yang pernah kudengar. Data itu kini sedang terbang menuju satelit, menyebar ke setiap layar di daratan utama, merayap ma**k ke jaringan berita dunia, dan membongkar borok yang mereka sembunyikan selama lima belas tahun.
"Bayu! Keluar dari sana sekarang! Struktur ini akan meledak dalam tiga puluh detik!" Suara Sura berderak di *earpiece*-ku, penuh kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
"Aku tidak akan sempat ke kapal selam, Sura!" balasku sambil mencabut paksa artefak itu. "Siapkan jaring penjemput di zona luar. Aku akan melompat!"
"Kau g***? Itu bunuh diri!"
Aku tidak menjawab. Aku berlari menembus koridor yang mulai miring. Lant** di bawah kakiku melengkung. Jakarta sedang merintih untuk terakhir kalinya. Kota ini, yang dulunya adalah rumah bagi jutaan mimpi, kini benar-benar menjadi tumbal yang akan dihancurkan untuk menghilangkan jejak konspirasi mereka.
Aku mencapai dek observasi tepat saat rangkaian ledakan utama dimulai. Di kejauhan, aku melihat Monas—atau apa yang tersisa darinya—tumbang perlahan seperti raksasa yang kelelahan. Cahaya api bawah air menyambar, menciptakan pemandangan mengerikan sekaligus indah yang menyinari kegelapan abadi Jakarta.
*BUM!*
Ledakan dari reaktor pusat melemparkanku ke depan. Kaca setebal sepuluh sentimeter di depanku retak seribu, lalu pecah berkeping-keping. Aku terhisap keluar bersama ribuan galon air yang ma**k ke dalam ruangan. Dunia menjadi jungkir balik. Tekanan air langsung menghimpit dadaku, membuat masker oksigenku bergetar hebat.
Aku terlempar ke dalam kegelapan, hanyut di antara puing-puing sejarah. Di bawah sana, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di balik reruntuhan gedung-gedung yang runtuh, ribuan mata bercahaya kuning mulai bermunculan. Pa**kan Raja Atlantis. Mereka tidak lagi bersembunyi. Mereka merayap naik, melewati sisa-sisa reruntuhan yang masih membara, bersiap untuk menyerbu daratan yang kini sudah tahu kebenarannya.
Aku kehilangan segalanya hari ini. Apartemen kumuhku, tabungan rongsokanku, dan satu-satunya tempat yang kusebut rumah. Namun, saat aku melihat cahaya matahari yang samar di permukaan air jauh di atas sana, aku tahu satu hal: perang ini baru saja dimulai.
Tanganku mencengkeram artefak itu erat-erat. Cahayanya mulai meredup, tapi getarannya masih terasa di telapak tanganku. Tiba-tiba, sebuah bayangan raksasa melintas di bawahku—sesuatu yang jauh lebih besar dari hiu manapun yang pernah kulihat. Makhluk itu mengeluarkan suara rendah yang menggetarkan tulang, sebuah tantangan bagi siapa saja yang berani mengusik kedalaman.
Aku terengah-engah, mencoba menyeimbangkan pendorong di kakiku yang mulai kehabisan daya. Pandanganku mulai kabur saat sebuah tangan mekanik raksasa—mungkin dari kapal penyelamat Sura—muncul dari kegelapan di atasku. Namun, sebelum tangan itu mencapaiku, sebuah tombak bercahaya meluncur dari kegelapan di bawah, memutus kabel baja kapal tersebut seolah itu hanya benang tipis.
Aku menoleh ke bawah, dan di sanalah dia. Sosok dengan baju zirah sisik hitam yang berkilau, berdiri di atas reruntuhan gedung tertinggi Jakarta, menatap langsung ke arahku dengan mata yang tidak memiliki pupil. Dia tidak membiarkanku pergi begitu saja.
Data sudah menyebar, tapi harganya mungkin adalah nyawaku sendiri. Aku menarik napas terakhir dari tabung oksigenku yang hampir kosong, bersiap untuk satu pertarungan terakhir yang tidak mungkin kumenangkan sendirian.
"Selamat datang di permukaan, ba******," bisikku pada diri sendiri, tepat saat sosok itu melesat ke arahku dengan kecepatan yang mustahil.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!