Abyssal Jakarta: Bangkitnya Kota Tumbal

Bab 3: Bab 3 - Menemukan artefak aneh berbentuk cakram di reru...

Pengaturan Membaca

Suara napas dari regulator oksigenku terdengar seperti geraman mesin tua yang sekarat. *Hiss-klik. Hiss-klik.* Setiap embusan karbon dioksida membentuk gelembung-gelembung kecil yang bergegas naik, berusaha lari dari tekanan air yang menghimpit dada. Di kedalaman tiga puluh meter ini, Jakarta bukan lagi kota yang kukenal dari cerita kakekku. Ia adalah kuburan raksasa yang dingin, hijau, dan berlumut.

Lampu senter di bahu bajuku membelah kegelapan keruh, menyingkap partikel-partikel debu dan sedimen yang melayang seperti salju kotor. Di depanku, tugu Monas berdiri—atau lebih tepatnya, apa yang tersisa darinya. Lidah api emas yang dulu menjadi kebanggaan bangsa kini tertutup kerak garam dan teritip, tampak seperti tulang raksasa yang patah dan membusuk di dasar laut.

"Sedikit lagi, Bayu. Jangan mati karena panik sekarang," gumamku pada diri sendiri. Suaraku terdengar aneh di dalam helm kedap air ini, bergema dan terdistorsi.

Telapak tanganku yang terbungkus sarung tangan karet tebal gemetar saat menyentuh dinding marmer pedestal Monas yang retak. Aku membenci ini. Aku membenci kesunyian air yang seolah-olah sedang mengamatiku, menunggu saat yang tepat untuk meremukkan paru-paruku. Setiap kali arus air bergeser sedikit saja, jantungku berdegup kencang—sebuah sisa trauma dari hari ketika tanggul jebul dan menelan keluargaku hidup-hidup.

Sensor sonar di pergelangan tanganku berbunyi *tit... tit... tit...* dengan frekuensi yang semakin cepat. Ada logam dengan massa padat di dalam sana, terkubur di balik puing-puing ruang bawah tanah yang dulu merupakan Museum Sejarah Nasional.

Aku menggunakan linggis hidrolikku untuk mengungkit bongkahan beton yang menghalangi jalan. Begitu celah terbuka, sebuah cahaya kebiruan yang redup dan asing menyeruak dari balik lumpur hitam. Itu bukan pantulan lampu senterku. Cahaya itu berdenyut, seirama dengan detak jantung yang mendadak menderu di telingaku.

"Apa ini?"

Aku merogoh ke dalam lubang itu, menarik sebuah benda yang terkubur dalam sedimen berabad-abad. Begitu aku membersihkan lumpurnya, jantungku seakan berhenti berdetak. Itu adalah sebuah cakram perunggu gelap dengan diameter sekitar dua puluh sentimeter. Permukaannya tidak rata, melainkan dipenuhi ukiran geometris yang rumit yang tampak seperti sirkuit, namun terlalu organik untuk disebut mesin. Di tengahnya, sebuah kristal biru memancarkan cahaya yang membuat air di sekitarku terasa... hangat.

Sesuatu yang mustahil di kedalaman sedingin ini.

Tiba-tiba, cakram itu bergetar hebat. Sebuah gelombang kejut frekuensi rendah menghantam dadaku, membuatku terlempar mundur beberapa meter. Kepalaku menghantam bagian dalam helm, menciptakan rasa pening yang menusuk.

*WUUUMMM.*

Bunyi itu bukan suara yang terdengar oleh telinga, melainkan getaran yang merambat melalui tulang belakangku. Sinyal itu menyebar ke segala arah, menembus kegelapan Abyssal Jakarta.

"Sial," umpatku, mencoba menstabilkan posisi dengan pendorong di pinggangku. "Sinyal aktif? Ini bukan rongsokan biasa."

Aku segera memeriksa layar HUD di kaca helm. Sensor bio-elektronikku yang biasanya tenang kini mendadak dipenuhi titik-titik merah. Satu, dua, lima... sepuluh. Semuanya bergerak cepat dari arah palung terdalam, menuju posisiku.

"Bayu, keluar dari sana sekarang!" Suara statis dari radio di permukaan pecah, itu suara Gani, operatorku di kapal pemulung. "Aku menangkap sinyal aneh dari bawahmu. Sesuatu yang besar sedang naik, kawan! Cepat!"

"Aku tahu, Gani! Aku sedang berusaha!"

Aku mencoba mema**kkan cakram itu ke dalam tas jaringku, tapi tangan cakram itu seolah menempel di sarung tanganku, menyedot energi dari baterai baju selamku. Lampu senterku berkedip-kedip, lalu mati total.

Kegelapan total menelan Monas.

Hanya ada cahaya biru dari cakram itu. Dan di kejauhan, di antara pilar-pilar gedung yang tenggelam, aku melihatnya. Sepasang mata besar berwarna kuning pucat yang berpendar, disusul oleh puluhan pasang mata lainnya. Mereka tidak berenang seperti ikan; gerakan mereka patah-patah, cepat, dan predatoris.

Itu adalah *Stalker*—makhluk hasil mutasi atau mungkin sesuatu yang lebih tua yang terbangun dari kerak bumi paling dalam. Mereka adalah alasan mengapa tidak ada penyelam yang berani turun melewati batas dua puluh meter tanpa pengawalan militer. Dan sekarang, mereka datang karena 'pangg***n' dari benda yang ada di tanganku.

Satu *Stalker* melesat ke arahku, memperlihatkan deretan gigi tajam yang mampu mengoyak baja setebal lima sentimeter. Aku menghindar dengan menyalakan pendorong darurat, membuat tubuhku berputar di air yang keruh. Makhluk itu menab**k dinding marmer Monas hingga hancur berkeping-keping.

"Gani! Tarik kabelnya! Tarik aku sekarang!" teriakku putus asa sambil menekan tombol darurat di pinggang.

Kabel baja yang menghubungkanku ke permukaan menegang. Tubuhku tersentak ke atas, tapi cakram di tanganku semakin terang, seolah-olah ia sedang berteriak kepada para pemburu di bawah sana. Saat aku mulai naik, aku melihat bayangan raksasa yang lebih besar dari gedung mana pun di Jakarta perlahan muncul dari kegelapan palung di bawah Monas. Sebuah tentakel—atau mungkin tangan—dengan sisik yang berkilau gelap mulai merayap naik, mencengkeram tugu Monas seolah benda itu hanya sebatang lidi.

Cakram ini bukan sekadar barang antik. Ini adalah suar. Dan aku baru saja menyalakan tanda makan malam bagi penguasa samudera yang sudah lama lapar.

Air di sekitarku mulai bergolak, dan meskipun aku ditarik dengan kecepatan tinggi menuju permukaan, aku tahu... mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar monster sedang terbangun di jantung Jakarta yang tenggelam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca