Logam itu berdenyut. Di dalam tas kanvas kumal yang tersampir di bahuku, artefak yang kupulung dari dasar Monas itu terasa seperti jantung kecil yang berdetak tidak beraturan. Setiap denyutnya mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kudukku meremang. Aku mempercepat langkah, menyelinap di antara gang-gang sempit Sektor Karat, sebuah pemukiman terapung yang dibangun dari tumpukan kont**ner dan puing-puing kapal tanker.
Bau garam yang menyengat bercampur dengan aroma minyak mesin dan amis pasar ikan mengiringi perjalananku. Aku menghindari tatapan para penjaga bayaran yang berdiri di sudut-sudut jalan dengan senapan plasma usang. Di tempat seperti ini, rasa ingin tahu adalah penyakit mematikan.
Aku berhenti di depan sebuah pintu besi yang setengah berkarat. Di atasnya, sebuah papan kayu kecil bertuliskan "Gani: Segala Macam Tekno" tergantung miring. Aku mengetuk dengan pola tertentuβtiga ketukan cepat, jeda, lalu dua ketukan keras.
Suara gerendel bergeser terdengar berat. Pintu itu terbuka sedikit, menampakkan mata kecil yang waspada di balik kacamata tebal yang salah satu lensanya retak.
"Bayu? Kau terlambat dua jam," gerutu suara parau itu.
"Ada patroli Penjaga Pant** di Sektor Hijau. Aku harus memutar lewat gorong-gorong," bisikku sambil mendorong pintu ma**k sebelum dia sempat protes.
Bengkel Pak Gani adalah kekacauan yang terorganisir. Kabel-kabel malang melintang seperti sarang laba-laba mekanis. Suku cadang drone yang sudah hancur berserakan di atas meja kerja yang diterangi lampu neon redup yang berkedip-kedip. Pak Gani sendiri adalah pria tua yang kulitnya tampak seperti kertas amplas yang sering terkena air laut. Dia adalah teknisi terbaik yang tersisa dari zaman sebelum 'Penenggelaman'.
"Jadi, apa yang membuatmu mempertaruhkan nyawa di zona merah?" tanyanya sambil menyeka tangannya yang berlumuran oli dengan kain lap kotor.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku meletakkan tas kanvasku di atas meja kayu yang kokoh, lalu perlahan mengeluarkan benda itu. Begitu artefak berbentuk silinder dengan ukiran geometris rumit itu menyentuh permukaan meja, lampu neon di atas kami tiba-tiba berhenti berkedip dan menyala terang benderang.
Pak Gani terdiam. Kain lap di tangannya jatuh ke lant** yang lembap. Wajahnya yang semula penuh dengan gurauan sinis mendadak pucat pasi, seolah-olah semua darah di tubuhnya baru saja disedot keluar.
"Bayu... dari mana kau mendapatkan ini?" suaranya gemetar, hampir seperti bisikan ketakutan.
"Reruntuhan Monas. Terkubur di bawah endapan lumpur sedalam lima puluh meter," jawabku, mencoba tetap tenang meski detak jantungku mulai berpacu. "Kau bilang kau bisa membaca semua jenis sirkuit kuno. Benda apa ini, Gani? Ini bukan sekadar logam sampah."
Pak Gani tidak langsung menjawab. Dia mendekat dengan ragu-ragu, tangannya yang gemetar terulur, tetapi berhenti tepat beberapa sentimeter sebelum menyentuh artefak itu. Dia seolah takut jika dia menyentuhnya, dunia akan runtuh.
"Ini bukan sirkuit, Bayu. Ini... ini adalah resonansi," gumamnya. Dia mengambil sebuah alat pemindai genggam dan mengarahkannya ke benda itu. Layar pemindainya meledak dalam serangkaian kode biner berwarna merah darah yang bergerak terlalu cepat untuk dibaca. "Astaga... energinya tidak berasal dari baterai. Ini menyedot energi dari sekitarnya. Dari udara, dari listrik di ruangan ini... dari kita."
"Bisa kau aktifkan? Aku perlu tahu apa isinya," desakku.
"Aktifkan?" Pak Gani tiba-tiba berteriak, suaranya melengking karena panik. Dia mundur hingga menab**k rak berisi tabung oksigen kosong. "Kau tidak tahu apa yang kau bawa ke sini! Ini bukan artefak biasa. Ayahku dulu pernah bercerita tentang desain ini saat dia masih bekerja di bawah departemen rahasia pemerintah sebelum tanggul runtuh."
Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Pak Gani menunjuk ke arah ukiran berbentuk trisula yang melingkar di bagian tengah silinder. "Mereka menyebutnya *The Death Key*. Kunci Kematian. Ini bukan kunci untuk membuka harta karun, Bayu. Ini adalah pemicu. Ini adalah perangkat yang digunakan untuk memanggil 'pemilik asli' dari kedalaman."
"Pemilik asli?" tanyaku skeptis. "Gani, jangan mulai dengan teori konspirasi lautmu lagi. Aku butuh fakta teknis."
"Fakta teknisnya adalah Jakarta sengaja ditenggelamkan!" teriak Pak Gani, wajahnya memerah. "Tanggul itu tidak runtuh karena gempa atau kenaikan air laut. Mereka meledakkannya untuk menciptakan 'Dungeon' ini. Mereka mengubah kota kita menjadi tumbal, sebuah penjara air untuk menahan sesuatu yang jauh lebih buruk agar tidak naik ke daratan utama. Dan benda yang kau pegang itu... itu adalah tombol pelepas kuncinya."
Tiba-tiba, artefak di atas meja mulai bergetar hebat. Suara dengungan rendahβseperti nyanyian paus yang tersiksaβmulai memenuhi ruangan. Cahaya biru pucat mulai berpendar dari sela-sela ukirannya, menerangi wajah Pak Gani yang penuh teror.
"Kembalikan benda itu ke tempatnya, Bayu! Buang ke palung terdalam atau kita semua akan mati!" Pak Gani merayap menuju sudut ruangan, menutup telinganya.
"Aku tidak bisa membuangnya begitu saja setelah tahu ini kunci dari semua kebohongan pemerintah!" balasku, mencoba meraih artefak itu meski jemariku terasa terbakar saat mendekat.
Tepat saat tanganku hampir menyentuh permukaannya, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan. Besi tebal itu melengkung ke dalam seolah-olah ditab**k oleh sesuatu dengan kekuatan raksasa.
*B**AAKK!*
Pintu itu terlepas dari engselnya, terpental melewati ruangan. Di ambang pintu, berdiri tiga sosok tinggi yang mengenakan setelan selam taktis berwarna hitam pekat dengan sensor mata berwarna merah menyala. Mereka bukan Penjaga Pant** biasa. Mereka adalah unit elit *Abyssal Hunters* milik pemerintah.
"Bayu Saputra," suara mekanis keluar dari salah satu helm mereka. "Serahkan Kunci itu, atau Sektor Karat akan menjadi kuburan masal malam ini."
Aku melirik Pak Gani yang gemetar, lalu ke arah artefak yang kini bersinar semakin terang, seolah-olah merespons kehadiran para pemburu itu. Aku menyadari satu hal: pilihanku bukan lagi antara hidup atau mati, melainkan antara menjadi penyelamat atau menjadi penyebab kiamat yang baru.
Tanganku menyambar artefak itu, mengabaikan rasa sakit yang menjalar ke lenganku, dan aku melompat menuju jendela belakang yang langsung menghadap ke air hitam Jakarta yang menunggu di bawah sana.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!