Abyssal Jakarta: Bangkitnya Kota Tumbal

Bab 5: Bab 5 - Melarikan diri dari serbuan pa**kan Satgas Nusa...

Pengaturan Membaca

Bau solar dan logam berkarat biasanya menjadi aroma yang menenangkan bagi Bayu, namun malam ini, udara di dalam bengkel bawah tanah Pak Gani terasa mencekik. Cahaya dari artefak yang ia temukan di Monas—sebuah cakram kuno dengan ukiran yang tampak berdenyut—memantulkan warna biru pucat yang aneh pada dinding-dinding seng.

"Kau tidak seharusnya membawa benda ini ke sini, Bayu," gumam Pak Gani, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan artefak dengan alat pemindai tua. "Ini bukan sekadar sampah laut. Ini adalah detak jantung dari sesuatu yang seharusnya tetap mati."

Bayu baru saja akan membalas saat suara dengungan mesin yang halus, namun mematikan, terdengar dari permukaan. Itu bukan suara kapal nelayan atau drone patroli biasa. Itu adalah suara mesin *Exo-Interceptor* milik Satgas Nusantara.

"Mereka datang," bisik Bayu. Ia menyambar ranselnya, detak jantungnya berpacu melawan waktu. "Bagaimana mereka bisa tahu secepat ini?"

"Pemerintah tidak pernah benar-benar melepaskan Jakarta, Bayu. Mereka hanya menunggu seseorang c**up bodoh untuk menggali kuncinya," Pak Gani berdiri, wajahnya yang keriput tampak pucat di bawah lampu neon yang berkedip. "Lari lewat terowongan pembuangan. Sekarang!"

*BUM!*

Pintu besi di lant** atas hancur berantakan. Suara sepatu bot taktis yang menghantam lant** beton terdengar seperti dentuman palu hakim. Bayu melihat kilatan laser merah mulai memindai celah-celah tangga.

"Berhenti di tempat! Serahkan aset atau kami akan menggunakan kekuatan mematikan!" Suara itu dingin, terdistorsi oleh modulator helm tempur.

Pak Gani mendorong Bayu ke arah sebuah lubang palka di sudut ruangan yang tertutup tumpukan jaring ikan. "Ambil datanya, Bayu! Jangan biarkan mereka mendapatkan cakram itu!"

"Pak Gani, ikut denganku!" seru Bayu, suaranya parau karena debu yang mulai berjatuhan dari langit-langit.

Namun, lelaki tua itu hanya tersenyum pahit. Ia memegang sebuah detonator kecil yang dirakit dari barang rongsokan. "Aku sudah terlalu tua untuk menyelam lagi. Dan kau tahu, aku benci air yang terlalu asin."

Pintu bengkel di lant** bawah jebak. Tiga prajurit Satgas Nusantara dengan zirah komposit hitam legam merangsek ma**k, senapan plasma mereka terarah tepat ke dada Pak Gani. Pemimpin mereka, seorang perwira dengan emblem emas di bahunya, melangkah maju.

"Serahkan artefaknya, Gani. Jangan buat ini menjadi lebih berdarah dari yang seharusnya," perintah sang perwira.

Bayu membeku di balik bayang-bayang jaring ikan. Ia melihat Pak Gani mengangkat tangannya, bukan untuk menyerah, melainkan untuk menunjukkan detonator di genggamannya.

"Jakarta tidak akan menjadi tumbal kalian lagi," ucap Pak Gani dengan nada tenang yang mengerikan.

"Tembak!"

Suara tembakan plasma yang mendesis merobek udara. Bayu melihat lubang menganga muncul di dada Pak Gani, namun sebelum tubuh kurus itu menyentuh lant**, ia menekan pemicunya.

Ledakan itu tidak menghancurkan seluruh gedung, tapi c**up untuk meruntuhkan penyangga utama bengkel dan menciptakan tirai api di antara Bayu dan para prajurit. Bayu berteriak tanpa suara, air mata panas mengalir di pipinya saat ia melihat sosok mentornya ditelan reruntuhan.

"Sial! Kejar anak itu!" teriak perwira Satgas dari balik kobaran api.

Bayu tidak punya pilihan lagi. Ia membuka palka dan melompat ke dalam kegelapan. Ia meluncur di pipa pembuangan yang licin, bau busuk air limbah menyengat indra penciumannya sebelum akhirnya ia terlempar keluar ke udara terbuka—atau setidaknya, apa yang tersisa dari udara Jakarta.

Ia mendarat di atas dermaga kayu yang sudah lapuk, tepat di bibir "Abyssal Jakarta". Di depannya, hamparan air laut yang hitam dan diam membentang, menutupi gedung-gedung pencakar langit yang kini hanya menjadi nisan beton.

Lampu sorot dari helikopter Satgas mulai menyapu permukaan air. Bayu merapatkan ransel berisi artefak itu ke dadanya. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak. Pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang namun dalam—pemicu traumanya yang paling besar.

Akuafobianya mulai menyerang. Bayu merasa seolah-olah air itu adalah mulut raksasa yang siap menelannya bulat-bulat, sama seperti saat air itu menelan orang tuanya dua puluh tahun yang lalu. Tangannya bergetar hebat, keringat dingin bercampur dengan air hujan yang mulai turun.

"Jangan sekarang... jangan sekarang..." bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengendalikan kepanikan yang meluap.

Suara tembakan peringatan menghantam air hanya beberapa meter di sampingnya, mencipratkan air asin ke wajahnya. Para prajurit sudah berada di atas dermaga, zirah mereka berkilat tertimpa cahaya lampu sorot.

"Bayu Saputra, tidak ada tempat lari lagi!" teriak mereka melalui pengeras suara.

Bayu menoleh ke belakang, lalu ke arah kegelapan air di bawahnya. Artefak di dalam ranselnya tiba-tiba memancarkan getaran hangat, sebuah frekuensi rendah yang seolah-olah memanggil sesuatu dari kedalaman.

Di bawah permukaan air yang tampak tenang itu, Bayu melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Serangkaian cahaya berpendar—bukan lampu kapal, tapi sesuatu yang organik dan besar—mulai naik dari kedalaman menuju permukaan. Sesuatu yang lapar.

Antara mati ditembus peluru pemerintah atau mati di pelukan laut yang ia takuti, Bayu harus memilih.

Dengan teriakan yang tercekik di tenggorokan, Bayu memejamkan mata erat-erat dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan dingin laut Jakarta. Saat air menyentuh kulitnya, ia tidak hanya merasakan dingin yang menusuk, tapi juga sebuah kesadaran mengerikan: ia tidak sendirian di bawah sana. Sesuatu yang jauh lebih tua dari kota ini sedang menunggunya dengan mulut terbuka lebar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca