Dingin.
Itu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa benar-benar dibiasakan oleh kulitku, bahkan setelah bertahun-tahun aku menyelam di antara gedung-gedung pencakar langit yang kini menjadi nisan raksasa. Air di dalam lorong MRT ini terasa berbeda; ia tidak mengalir, melainkan diam, kental, dan menyimpan bau karat yang menusuk meski lewat filter oksigen masku.
Aku mendorong diriku ma**k melalui pintu gerbong yang menganga, setengah terkubur oleh sedimen dan sampah plastik dari dua dekade lalu. Lampu senter di bahuku berkedip-kedip, memantulkan cahaya pucat pada iklan-iklan yang memudar di dinding keretaβpromo apartemen mewah yang menjanjikan "Pemandangan Kota yang Tak Terlupakan". Ironis. Sekarang pemandangannya hanyalah kegelapan abadi dan lumut laut yang berpendar biru pucat.
Aku mematikan senter. Dalam kegelapan total ini, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu melawan ritme regulator oksigen. *Hush-paaa. Hush-paaa.*
"Tenang, Bay," bisikku pada diri sendiri, suaranya teredam oleh air dan gema di dalam helm. "Mereka tidak akan mencarimu di sini. Mereka takut pada kegelapan yang lebih dalam."
Aku menyandarkan punggung pada kursi plastik yang licin karena lendir organik. Di dalam tas punggungku, artefak ituβsebuah cakram logam dengan ukiran yang tampak berdenyutβterasa hangat menyentuh tulang belikatku. Benda itu seolah memiliki detak jantung sendiri, sebuah anomali di tengah kuburan air ini.
Namun, sunyi di kedalaman ini adalah musuh terbesarku.
Saat aku memejamkan mata untuk mengatur napas, suara gemericik air yang tadinya tenang mulai berubah. Suaranya menjadi lebih keras, lebih ganas. Pikiranku mulai mengkhianatiku. Tiba-tiba, aku tidak lagi berada di tahun 2065. Aku tidak lagi berada di dalam gerbong yang aman.
*Duar!*
Suara itu meledak di dalam kepalaku. Suara tanggul raksasa di Utara yang menyerah pada tekanan laut. Aku bisa merasakan getaran hebat itu lagi di bawah telapak kakiku.
"Bayu! Pegang tangan Ibu!"
Suara itu. Begitu jernih hingga aku tersentak, hampir melepaskan pipa oksigenku. Aku melihat ke arah pintu gerbong yang gelap, dan untuk sesaat, air di sana tidak lagi hitam. Air itu berubah menjadi cokelat berlumpur, penuh dengan puing-puing rumah, kayu, dan jeritan manusia.
Aku melihat diriku yang berusia enam tahun, berdiri di atas atap rumah yang miring di daerah Pluit. Langit berwarna abu-abu pekat, dan hujan turun seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Ayah sedang mencoba mengikat tali ke tiang listrik, sementara Ibu memelukku begitu erat hingga aku sulit bernapas.
"Bayu, jangan melihat ke bawah," bisik Ibu.
Tapi aku melihatnya. Aku melihat gelombang setinggi gedung lima lant** itu datang. Itu bukan sekadar ba****; itu adalah dinding air yang ingin menelan seluruh dunia. Dan saat dinding itu menghantam, pegangan tangan Ibu terlepas. Aku melihat jemarinya yang gemetar menjauh dariku, tertelan oleh pusaran cokelat yang rakus.
"Ibu!" teriakku.
Aku tersedak. Air asin seolah ma**k ke tenggorokanku, meskipun secara logis aku tahu maskerku masih terpasang rapat. Paru-paruku menyempit. Aku mulai meronta, tangan-tanganku mencakar-cakar dinding gerbong yang berkarat. Oksigen di tangki menunjukkan angka hijau, tapi aku merasa seolah-olah aku sedang tenggelam di tengah daratan.
*Jangan di sini. Jangan mati di sini.*
Halusinasi itu semakin kuat. Bayangan-bayangan hitam di luar gerbong tampak seperti tangan-tangan yang menggapai dari masa lalu, mencoba menarikku kembali ke hari saat Jakarta menjadi tumbal. Aku melihat wajah Ayah yang timbul tenggelam, matanya kosong, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak pernah sempat ia sampaikan.
"Pergi! Pergi kalian!" aku berteriak, memukul-mukul helmku sendiri agar bayangan itu hilang.
Tiba-tiba, artefak di tasku memancarkan cahaya keemasan yang tajam. Cahaya itu membelah kegelapan gerbong seperti pedang, membakar bayangan-bayangan masa laluku. Rasa dingin yang mencekam mendadak digantikan oleh kehangatan yang asing. Halusinasi ba**** itu surut, meninggalkan aku yang terengah-engah, bersandar pada pintu gerbong yang tertutup debu sedimen.
Aku terdiam c**up lama, membiarkan detak jantungku kembali normal. Keringat dingin mengalir di pelipisku di dalam helm. Aku benci air yang tenang. Di air yang tenang, kenangan memiliki ruang untuk merayap naik.
Aku baru saja akan memeriksa tingkat oksigenku kembali ketika sebuah suara mekanis yang halus terdengar dari arah terowongan di depan gerbong. Itu bukan suara air. Itu bukan suara ikan mutan.
*Clang. Clang. Clang.*
Langkah kaki logam di atas rel MRT yang terendam.
Aku menahan napas, menempelkan tubuhku serendah mungkin ke lant** gerbong yang kotor. Aku mengintip lewat celah kecil di jendela yang pecah. Di kejauhan, di dalam terowongan yang seharusnya mati total, aku melihat titik-titik cahaya merah yang bergerak ritmis.
Itu bukan manusia. Manusia tidak akan bisa bergerak secepat itu di bawah tekanan air sedalam ini tanpa kendaraan selam. Dan mereka bukan penjaga gerbang dari pemerintah.
Itu adalah unit pengint** Atlantis. Mereka sudah di sini. Mereka mencari benda yang ada di dalam tasku.
Lebih buruk lagi, cahaya merah itu berhenti tepat di depan gerbongku. Salah satu dari mereka memutar kepalanya yang berbentuk aneh, sensor matanya memindai kegelapan, dan aku menyadari satu hal yang membuat darahku membeku: Aku lupa mematikan mode *auto-ping* pada komputer pergelangan tanganku.
Satu detik kemudian, suara dengungan frekuensi tinggi menghantam gerbong, membuat telingaku berdenging hebat. Gerbong MRT tua ini bergetar saat sesuatu yang sangat besar dan sangat kuat mulai mencengkeram atap kereta, kuku-kuku logamnya merobek baja seolah-olah itu hanya kertas tipis.
Aku tidak lagi dikejar oleh masa lalu. Sekarang, kematian yang sangat nyata sedang berusaha membuka kaleng sarden tempatku bersembunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!