Suara napas yang menderu di dalam masker oksigen adalah satu-satunya pengingat bahwa aku masih hidup. Di sekelilingku, kegelapan Jakarta yang tenggelam terasa seperti cairan timah panas yang menekan paru-paru. Lampu senter di bahu bajuku hanya mampu menembus keruhnya air sejauh tiga meter, menyingkap partikel-partikel sedimen yang menari seperti debu di rumah tua yang ditinggalkan.
Di dalam dekapan lengan kiriku, artefak ituβsebuah cakram logam dengan ukiran yang tampak berdenyut dengan cahaya biru pucatβterasa dingin, bahkan menembus sarung tangan isolasi. Benda ini bukan sekadar rongsokan. Ia memiliki detak jantungnya sendiri.
"Berhenti di sana, Scavenger."
Suara itu tidak datang dari radio, melainkan dari transmiter sonar frekuensi rendah yang membuat gendang telingaku bergetar. Aku tersentak, refleks meraih pisau pneumatik di pinggangku, tapi tiga titik laser merah tiba-tiba mengunci dadaku.
Dari balik pilar beton gedung perkantoran yang sudah ditumbuhi karang tajam, bayangan-bayangan muncul. Mereka tidak menggunakan baju selam rongsokan sepertiku. Mereka mengenakan *exoskeleton* ramping berwarna abu-abu gelap yang menyatu dengan kegelapan air, bergerak dengan kelincahan predator laut.
"Angkat tanganmu. Pelan-pelan," perintah suara itu lagi.
Aku melepaskan peganganku pada pisau, membiarkan tubuhku melayang netral di air yang statis. "Aku tidak mencari masalah," gerutuku, suaraku parau tertelan modulator masker. "Hanya mencari jalur keluar dari sektor ini."
"Kamu membawa sesuatu yang bukan milikmu," sesosok figur maju mendekat. Helmnya terbuka secara mekanis, menyingkap wajah seorang wanita dengan bekas luka bakar melintang di pipi kirinya. Rambutnya dipotong sangat pendek, dan matanya setajam ujung tombak harpun. "Aku Maya. Dan kamu berada di wilayah *The Submerged*."
Aku pernah mendengar rumor tentang mereka. Kelompok militan yang menolak naik ke daratan utama setelah Jakarta ditenggelamkan, memilih hidup seperti tikus air di reruntuhan. Namun, melihat teknologi yang mereka pakai, mereka lebih menyerupai tentara bayaran daripada pengungsi.
"Bayu," kataku singkat. "Dan benda ini... aku menemukannya di Monas. Secara teknis, ini milik siapa saja yang c**up berani mengambilnya."
Maya memberi isyarat dengan tangannya. Dua anak buahnya mendekat, memegangi lenganku dengan kasar sementara Maya menarik tas rampasanku. Begitu tangannya menyentuh artefak itu, cakram tersebut berpendar lebih terang. Getarannya mengirimkan gelombang kejut kecil yang membuat air di sekitar kami berbuih.
Wajah Maya berubah pucat. Ia menarik tangannya seolah tersengat listrik. "Bodoh," desisnya. Matanya yang tadi penuh otoritas kini beralih menjadi ketakutan yang murni. "Kamu tidak tahu apa yang kamu bangunkan, kan? Kamu membawa kunci pemanggil ke dalam jantung persembunyian kami!"
"Itu hanya barang antik, Maya. Teknologi kuno," aku mencoba membela diri, meski hatiku sendiri mencelos melihat reaksi benda itu.
"Ini bukan teknologi, Bayu. Ini adalah undangan makan malam bagi mereka yang ada di bawah sana!" Maya menatap ke arah kegelapan abisal di bawah kaki kami, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai dan tekanan air bisa meremukkan baja.
Ia memberi perintah cepat dalam kode isyarat kepada anak buahnya. Mereka memaksaku berenang mengikuti mereka, melewati celah sempit di antara dua gedung yang sengaja diruntuhkan untuk membentuk barikade. Kami ma**k ke dalam sebuah kantong udara di basemen gedung yang telah dimodifikasi secara kedap air.
Begitu kami keluar dari air dan melepas masker, bau karat, lumut, dan keringat menyengat hidungku. Ruangan itu penuh dengan layar monitor tua yang berkedip-kedip dan senjata-senjata bawah air yang dideretkan di dinding beton yang lembap.
Maya melemparkan tas berisi artefak itu ke atas meja logam. Ia berbalik padaku, napasnya memburu. "Pemerintah sengaja meruntuhkan tanggul itu bukan untuk menyelamatkan diri dari perubahan iklim, Bayu. Mereka memberikan tumbal. Dan benda yang kamu pegang itu... itu adalah alat navigasi untuk 'tuan tanah' yang sebenarnya dari kota ini."
"Aku tidak percaya pada dongeng Atlantis atau monster laut," kataku, mencoba mengontrol gemetar di tanganku saat aku teringat wajah ibuku yang hilang ditelan arus saat tanggul jebol dulu. "Aku hanya ingin bertahan hidup."
"Bertahan hidup?" Maya tertawa pahit, suaranya bergema di ruangan sempit itu. Ia menunjuk ke salah satu layar radar yang mulai berbunyi nyaring. Sebuah titik merah besar muncul dari kedalaman palung Jawa, bergerak dengan kecepatan yang tidak ma**k akal menuju koordinat kami. "Benda itu mengirim sinyal ping setiap detik sejak kamu mencabutnya dari tumpuan di Monas. Kamu tidak membawa keselamatan, Scavenger. Kamu membawa kiamat kedua bagi Jakarta."
Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar hebat. Suara raungan rendah yang sanggup meretakkan kaca terdengar dari balik dinding beton tebal. Air di dalam tangki-tangki darurat mulai bergejolak seolah-olah mendidih.
Maya meraih senapan tombaknya dan menatapku dengan tatapan yang bisa membunuh. "Sekarang pilih, Bayu. Berikan aku alasan kenapa aku tidak harus melemparmu kembali ke luar sana bersama benda terkutuk ini sebelum mereka meruntuhkan seluruh gedung ini di atas kepala kita?"
Aku menatap artefak yang kini bersinar dengan irama yang semakin cepat, selaras dengan detak jantungku yang berpacu. Di luar sana, sesuatu yang besar dan lapar baru saja tiba.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!