Istana Negara itu tidak lagi berwarna putih gading yang megah. Di bawah tekanan air sedalam puluhan meter, pilar-pilar raksasanya kini tampak seperti tulang belulang raksasa yang membusuk, diselimuti lumut tebal dan teritip tajam. Cahaya dari lampu senter di bahu baju selamku hanya mampu menembus kegelapan pekat beberapa meter ke depan, menyingkap partikel-partikel debu air yang melayang seperti salju kelabu.
Tanganku gemetar saat menyesuaikan katup oksigen. Setiap kali aku berada di ruang terbuka yang sunyi seperti ini, ketakutan lama itu merayap naik—perasaan seolah-olah air ini bukan sekadar benda mati, melainkan makhluk raksasa yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghimpit paru-paruku sampai pecah. *Tenang, Bayu. Jangan lihat ke atas. Fokus ke depan,* bisikku dalam hati, meski detak jantungku berdentum keras di telinga.
"Santi, kau masih di sana?" suaraku terdengar parau di dalam helm.
Suara statis berderak di *earpiece*. "Masih, Bayu. Sinyalmu mulai melemah. Kau sudah ma**k ke sayap barat?"
"Hampir," jawabku sambil menendang sirip perlahan, berusaha tidak menimbulkan riak berlebih. "Tempat ini... berantakan. Langit-langit ruang perjamuan sudah runtuh sebagian."
Aku melewati sisa-sisa lampu kristal yang kini tergeletak di lant** marmer seperti bangkai ubur-ubur kaca. Di sudut ruangan, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Sesosok mayat—atau apa pun yang tersisa darinya—terjepit di bawah reruntuhan meja ek. Namun, itu bukan mayat manusia biasa. Tulang-tulangnya tampak memanjang secara tidak wajar, dan di sela-sela rusuknya tumbuh karang berwarna ungu gelap yang berdenyut pelan.
"Jangan berhenti untuk memotret pemandangan, Bayu," tegur Santi, seolah bisa merasakan keraguanku. "Data itu ada di ruang kerja pribadi Presiden. Lant** dua, ujung lorong sebelah kanan. Cari b**nkas fisik. Mereka tidak berani menyimpan ini di server digital yang bisa diretas."
Aku mulai naik, berenang melewati tangga melingkar yang legendaris itu. Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas cepat di atas kepalaku. Aku segera mematikan senter bahu dan menempelkan tubuh ke dinding yang dingin dan berlendir.
Napas kucoba atur sedemikian rupa agar gelembung udara tidak terlalu bising. Di kegelapan total itu, aku melihatnya. Sepasang mata berwarna kuning pucat berpendar, bergerak meliuk di antara pilar. Itu adalah *Lurker*—pemangsa puncak di reruntuhan ini. Tubuhnya yang licin dan panjang seperti belut, namun memiliki cakar-cakar tajam yang bisa merobek baju selam Kevlarku seperti kertas.
Makhluk itu mendesis, suara yang merambat melalui air seperti gesekan pisau pada kaca. Ia mengendus udara, atau apa pun cara mereka mendeteksi mangsa, lalu perlahan menjauh menuju aula utama. Aku menunggu selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga jam sebelum kembali menyalakan lampu dengan intensitas paling rendah.
Aku sampai di depan pintu jati besar yang masih tertutup rapat, tertahan oleh tekanan air. Dengan linggis hidrolik kecil, aku mencongkel celahnya. Suara derit kayu yang patah terdengar sangat keras di kesunyian ini, membuatku meringis. Setelah berjuang beberapa menit, pintu itu terbuka, memperlihatkan ruang kerja yang membeku dalam waktu.
Buku-buku berserakan, mengapung di langit-langit seperti burung-burung yang mati. Di tengah ruangan, sebuah meja besar berdiri tegak. Aku tidak membuang waktu. Tanganku meraba bagian bawah meja, mencari tuas rahasia yang disebutkan dalam intelijen yang kudapatkan.
*Klik.*
Sebuah panel di dinding di belakang meja bergeser. Di sana, sebuah b**nkas baja tahan karat menatapku. Aku mengeluarkan dekoder elektronik milik Santi dan menempelkannya pada panel kunci. Angka-angka mulai bergulir cepat di layar kecil alat itu.
*09... 22... 45... Terbuka.*
Pintu b**nkas mengayun pelan. Di dalamnya, tersimpan sebuah map kulit kedap air dengan stempel emas bertuliskan: **KLASIFIKASI TERTINGGI: PROYEK TUMBAL.**
Tanganku gemetar saat membukanya. Di dalamnya bukan hanya sekadar laporan teknis, melainkan sebuah dokumen yang ditandatangani langsung oleh Presiden terakhir sebelum Jakarta tenggelam. Mataku menyisir baris demi baris kata-kata yang memuakkan itu.
"...penghancuran Tanggul Raksasa Garuda adalah satu-satunya metode yang dapat diterima untuk menenggelamkan Jakarta tepat waktu. Populasi yang tersisa di area bawah akan berfungsi sebagai nutrisi awal bagi entitas Deep Ones untuk memastikan pakta gencatan senjata tetap terjaga..."
Darahku serasa membeku. Penenggelaman ini bukan kesalahan konstruksi. Bukan bencana alam yang tak terelakkan. Ini adalah genosida yang direncanakan. Jutaan orang, terma**k keluargaku, tidak mati karena kecelakaan. Mereka ditumbalkan untuk memberi makan sesuatu di bawah sana.
"Santi... kau tidak akan percaya ini," bisikku, suaraku bergetar hebat. "Mereka melakukannya dengan sengaja. Mereka memberikan kota ini sebagai... persembahan."
"Bayu? Ada apa? Aku kehilangan visualmu!" suara Santi terdengar panik melalui gangguan sinyal yang semakin parah.
Tiba-tiba, artefak kuno yang tersampir di pinggangku—benda yang kutemukan di Monas—mulai bergetar hebat. Cahaya biru elektrik memancar darinya, menerangi seluruh ruangan dengan silau yang menyakitkan mata. Di saat yang sama, aku mendengar suara geraman yang jauh lebih berat dan lebih dekat daripada *Lurker* tadi.
Aku menoleh perlahan ke arah pintu yang terbuka. Di sana, berdiri sesosok makhluk yang jauh lebih besar, mengenakan pelindung dada yang terbuat dari emas kuno yang berkarat. Di tangannya, ia memegang sebuah trisula yang berpendar merah darah. Itu bukan monster liar. Itu adalah prajurit.
Prajurit Atlantis.
Ia tidak menyerang seketika. Ia hanya menunjuk ke arah artefak di pinggangku, lalu mengeluarkan suara dalam yang bergema langsung di dalam kepalaku, melewati helm selamku.
*"Kembalikan kunci itu, Penjarah, atau kau akan menjadi tumbal berikutnya di istana yang sudah busuk ini."*
Aku mengeratkan genggamanku pada map Proyek Tumbal, sementara tangan satunya meraba pisau di pahaku. Aku terjebak di antara pengkhianatan masa lalu dan ancaman maut di depan mataku. Dan oksigenku tinggal sepuluh persen.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!