Dinginnya air yang merembes melalui celah setelan selamku terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Di kedalaman tiga puluh meter di bawah permukaan Teluk Jakarta yang pekat, cahaya senter bahuku hanya mampu menembus kegelapan sejauh dua meter. Di depanku, sisa-sisa kemegahan Istana Negara kini hanyalah bangkai beton yang diselimuti teritip dan ganggang hijau pucat.
"Bayu, oksigenmu tersisa empat puluh menit. Cepat selesaikan sebelum arus pasang menarikmu ke palung," suara Sita berderak di *intercom* helmku, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik dari artefak di genggamanku.
Aku tidak menjawab. Napasku berat, menciptakan gelembung-gelembung yang pecah di sekitar visor helm. Tanganku yang terbungkus sarung tangan polimer bergetar kecil saat aku menyentuh sebuah pilar marmer yang masih berdiri tegak di ruang bawah tanah rahasia ini. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari logam hitam yang tidak berkarat menantiβtempat di mana artefak itu seharusnya berada.
Aku mengeluarkan benda itu dari kantong pinggangku. Artefak itu berbentuk cakram heksagonal dengan ukiran yang tampak bernapas; garis-garis cahayanya berdenyut biru redup, seirama dengan detak jantungku yang kian kencang. Setiap kali aku melihat cahaya itu, ingatan tentang malam saat tanggul runtuh kembali menghantamku. Air yang tenang, lalu tiba-tiba menjadi monster yang menelan segalanya. Aku memejamkan mata sejenak, mengusir bayangan wajah ibuku yang hilang ditelan kegelapan.
"Aku sudah di depan konsol utama," bisikku, suaraku parau.
"Bagus. Ma**kkan kuncinya ke lubang pusat. Jika teoriku benar, itu akan membuka akses ke sistem drainase kuno yang tertutup di bawah Istana," instruksi Sita.
Aku mendekatkan cakram itu ke celah di meja logam. Begitu jaraknya hanya beberapa sentimeter, artefak itu tiba-tiba tertarik oleh gaya magnet yang kuat. *KLIK.*
Suara logam bertemu logam bergema di seluruh ruangan yang kedap suara itu. Untuk sesaat, sunyi mematikan menyelimuti. Kemudian, getaran hebat mulai merambat dari bawah kakiku. Lumpur dan sedimen yang mengendap selama puluhan tahun terangkat, membutakan pandanganku.
"Bayu! Apa yang terjadi? Pembacaan energimu melonjak drastis!" teriak Sita di telingaku.
"Aku tidak tahu! Sesuatu sedang terbuka!"
Lant** di bawah meja logam itu bergeser, memperlihatkan sebuah lubang hitam pekat yang tampak seperti mulut raksasa. Namun, bukannya air yang mengalir keluar, cahaya biru elektrik yang menyilaukan justru memancar dari dalam sana. Cahaya itu bukan berasal dari lampu atau teknologi yang kukenal. Itu adalah energi murni yang terasa panas meski di sekelilingku adalah air yang membekukan.
Tiba-tiba, permukaan cahaya itu retak. Seperti kaca yang pecah, sebuah celah vertikal menganga di tengah ruanganβsebuah portal kecil yang berdenyut tidak stabil. Aku terhuyung mundur, tanganku meraba-raba gagang pisau selam di paha, sebuah refleks yang sia-sia melawan apa yang akan muncul.
Dari balik robekan cahaya itu, sesosok bayangan meluncur keluar. Gerakannya begitu cepat, lebih lincah dari lumba-lumba mana pun yang pernah kulihat. Makhluk itu berhenti tepat di hadapanku, melayang tanpa beban. Tingginya hampir dua meter, dengan kulit bersisik perak kebiruan yang memantulkan cahaya artefak. Matanya besar, tanpa kelopak, dan berwarna kuning menyala dengan pupil vertikal yang tajam.
Itu bukan ikan. Dan itu jelas bukan manusia.
"Sita... ada tamu," bisikku, tanganku gemetar hebat saat aku melihat makhluk itu memegang tombak pendek yang ujungnya berpendar ungu.
"Apa maksudmu? Bayu, segera keluar dari sana!"
Belum sempat aku bergerak, dua makhluk lagi muncul dari portal yang sama. Mereka tidak menyerang secara langsung, melainkan menyebar, mengelilingiku seperti hiu yang sedang menguji mangsanya. Salah satu dari mereka mengeluarkan suara lengkingan bernada tinggi yang membuat kepalaku berdenyut sakit.
Pa**kan pengint**. Mereka bukan sedang menyerang Jakarta; mereka sedang memastikan jalan ma**k mereka aman.
Salah satu dari mereka mendekat, ujung tombaknya hanya berjarak beberapa inci dari visor helmku. Aku bisa melihat pantulan wajahku yang ketakutan di mata kuningnya yang dingin. Di saat itulah, artefak di meja logam kembali berdenyut, namun kali ini warnanya berubah menjadi merah darah.
Pintu rahasia di bawah istana memang terbuka, tapi aku baru saja menyadari satu hal yang mengerikan: aku tidak sedang membuka jalan keluar bagi manusia, melainkan sedang membukakan pintu depan bagi mereka yang sudah lama menunggu di bawah sana.
"Bayu, lari!" teriak Sita, namun suaranya tenggelam oleh suara gemuruh yang lebih besar dari dalam portal.
Sesuatu yang jauh lebih besar dari para pengint** ini sedang mencoba merangkak keluar, dan aku adalah satu-satunya hal yang berdiri di antara mereka dan jutaan nyawa di daratan yang masih terlelap tanpa tahu bahaya yang mengint** di balik genangan air kota mereka. Ujung tombak itu menyentuh kaca helmku, menimbulkan retakan halus yang mulai mengeluarkan gelembung udara.
Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup sisa oksigen yang terasa semakin tipis, dan menggenggam pisau selamku erat-erat. Jika aku harus mati di sini, aku tidak akan membiarkan mereka lewat dengan mudah.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!