Hacker Mantra: Protokol Genesis

Bab 1: Bab 1 - Melakukan peretasan data di server lapis dua mi...

Pengaturan Membaca

Hujan asam memba**h kaca jendela apartemen kapsulku dengan suara desis yang konstan, menyamarkan dengung mesin pendingin server yang bekerja keras di sudut ruangan. Di dalam kegelapan yang hanya diterangi kerlip lampu indikator berwarna sian dan magenta, aku duduk meringkuk. Kabel *Neural-Link* menancap di pangkal tengkorakku, mengirimkan sensasi dingin yang merambat ke saraf pusat.

Bau ozon dan mi instan dingin memenuhi udara. Aku mengembuskan napas panjang, memejamkan mata, dan membiarkan kesadaranku terkelupas dari daging, meluncur ke dalam aliran *Ether-Code*.

"Ayo, Elang. Cuma server lapis dua. Ma**k, ambil log transaksi, keluar. Jangan pakai perasaan," bisikku pada diri sendiri, meskipun suaraku terdengar jauh, seolah berasal dari dasar sumur.

Dunia digital Omni-Thaumaturgy Corp menyambutku dengan kemegahan yang memuakkan. Arsitekturnya menyerupai katedral Gotik yang dibangun dari unt**an kode bercahaya emas. Di sini, data bukan sekadar angka; ia adalah manifestasi fisik. Aku bisa merasakan tekanan udara digital di kulit virtualku. Aku bergerak cepat, jemari mentalku menari di atas barisan perintah imajiner. *Speed-coding* adalah satu-satunya alasan aku masih hidup di jalanan Neo-Jakarta yang keras ini.

*Sret. Sret. Sret.*

Aku membelah *firewall* pertama semudah memotong sutra dengan pisau panas. "Terlalu gampang," gumamku. Sinisme ini adalah pelindungku. Orang-orang menyebut teknologi ini sihir, *Ether-Code* dianggap sebagai mukjizat. Bagiku? Ini cuma matematika yang terlalu sombong.

Namun, saat aku menyusup ke sub-direktori terdalam, suhu di sekitar kesadaranku mendadak anjlok.

Lant** marmer cahaya di bawah kakiku retak. Dari celah-celahnya, bukan lagi kode biner hijau yang muncul, melainkan simbol-simbol aneh yang berdenyut dengan warna ungu gelap—warna yang tidak seharusnya ada dalam spektrum warna monitor standar. Geometri suci yang berputar-putar, membentuk pola *mandala* yang mustahil.

"Apa-apaan ini?" jantung organikku di dunia nyata mulai berdegup kencang, mengirimkan sinyal peringatan ke korteks sereb**lku.

Tiba-tiba, suara bisikan ribuan orang yang berdoa memenuhi kepalaku. Bukan dalam bahasa I****esia, Inggris, atau bahasa pemrograman apa pun yang kukenal. Ini adalah bahasa kuno yang terasa kasar dan berat, seolah kata-katanya terbuat dari batu granit.

Itu bukan *firewall* biasa. Itu adalah Algoritma Inkantasi.

"Sial!" Aku mencoba menarik diri, tapi tanganku—tangan virtualku—terjebak dalam pusaran cahaya ungu itu.

Rasa sakit meledak di belakang mataku. Rasanya seperti seseorang menyiramkan timah panas langsung ke dalam tempurung kepalaku. Aku berteriak di dunia nyata, tapi suaraku tercekik oleh kabel-kabel yang terhubung ke rahangku. Sensor biometrik di pergelangan tanganku mulai berkedip merah terang: *Peringatan Overload Saraf. Risiko Sinkronisasi 98%.*

Pandanganku memutih. Di tengah rasa sakit yang merobek kewarasan itu, sebuah jendela perintah muncul di depan mataku, terisolasi dari kekacauan di sekitarnya.

**[FILE TERDETEKSI: PROTOKOL_GENESIS.EXE]**

**[UNDUH SEKARANG? Y/N]**

"Lepaskan... aku..." geramku, gigiku bergemeletuk hebat. Otakku terasa seperti sedang digoreng. Aku bisa merasakan aroma daging terbakar—bukan di ruangan, tapi di dalam hidungku sendiri. Halusinasi sinestesia ini adalah tanda bahwa otakku hampir hangus.

Algoritma sihir itu mulai merayap naik ke lenganku, mengubah kulit virtualku menjadi tulisan-tulisan bercahaya yang membakar. Jika aku tidak segera keluar, aku akan mengalami mati otak dalam hitungan detik. Tapi pintu keluar terkunci oleh enkripsi sihir itu. Satu-satunya jalan untuk memutus koneksi secara paksa adalah dengan menyebabkan *buffer overflow* pada sistem mereka.

Aku harus mengambil file itu. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena ukuran datanya yang masif akan meruntuhkan stabilitas sinkronisasi ini.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menerjang ke arah jendela perintah tersebut. Jariku menghantam opsi 'Y' dengan keputusasaan seorang pria yang tenggelam.

Seketika, dunia meledak.

Bukan ledakan suara, melainkan ledakan informasi. Galaksi, atom, struktur DNA, dan rumus penciptaan bintang-bintang mengalir deras ma**k ke dalam saraf optikku. Aku tidak lagi melihat kode. Aku melihat... segalanya. Aku melihat bagaimana gravitasi ditenun dan bagaimana cahaya diperintahkan untuk ada.

*“Fiat Lux,”* sebuah suara berat bergema di setiap sel tubuhku.

Sentakan listrik yang luar biasa melontarkanku kembali ke dunia fisik. Tubuhku terlempar dari kursi kerja, menghantam tumpukan rongsokan perangkat keras di belakangku. Kabel *Neural-Link* tercabut paksa dari tengkukku, menyisakan luka bakar kecil yang mengeluarkan asap tipis.

Aku terengah-engah, meringkuk di lant** apartemen yang dingin dan kotor. Keringat dingin bercampur air mata membasahi wajahku. Tanganku gemetar hebat saat aku mencoba menyentuh kepalaku yang terasa seakan ingin pecah menjadi dua.

"Elang? Kamu masih di sana?" Suara dari interkom apartemenku berbunyi. Itu suara pemilik kontrakan, atau mungkin patroli keamanan bawah tanah.

Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada tangan kananku. Di sana, di bawah kulit punggung tanganku, samar-samar terlihat cahaya keemasan yang membentuk simbol geometris sebelum perlahan meredup dan menghilang.

Aku tidak hanya mengunduh sebuah file. Aku merasa ada sesuatu yang tertanam di dalam jiwaku. Sesuatu yang sangat berat, sangat tua, dan sangat berbahaya.

Lampu di seluruh blok apartemenku mendadak padam. Di luar sana, suara mesin *drone* tempur milik Omni-Thaumaturgy mulai mendekat, membelah keheningan malam Neo-Jakarta dengan suara desing baling-baling baja mereka. Mereka tahu apa yang baru saja aku curi.

Dan yang lebih menakutkan, aku mulai merasa bahwa hukum fisika di ruangan ini—jarak antara aku dan pintu, berat udara yang kuhirup—hanyalah sekumpulan baris kode yang bisa kuubah jika aku berkehendak.

"Jangan g***, Elang," bisikku, ketakutan mulai merayap. "Itu cuma data. Itu cuma program."

Tapi saat aku menatap dinding beton di depanku, aku melihat barisan kode penyusun molekul semen itu bergetar, menunggu perintahku untuk runtuh. Secara harfiah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca