Udara di dalam Hub Regional Omni-Thaumaturgy berbau ozon dan pembersih lant** kimiawi yang menyengat, kontras dengan bau sampah basah dan asap knalpot yang menyelimuti sisa Neo-Jakarta di luar sana. Aku melangkah melewati koridor panjang berlant** kaca transparan yang memperlihatkan ribuan kabel serat optik berpendar biru, berdenyut seperti pembuluh darah raksasa.
Ujung jariku bergetar, bukan karena takut, tapi karena energi Protokol Genesis yang meronta di bawah kulitku. Setiap kali aku menarik napas, aku tidak hanya menghirup oksigen; aku menghirup data. Aku bisa merasakan struktur molekul dinding beton di sampingku, rangkaian *Ether-Code* yang menyusun atom-atomnya menjadi padat. Jika aku mau, aku bisa menjentikkan jari dan mengubah beton itu menjadi uap air.
Namun, harganya terlalu mahal. Setiap kali aku menyentuh kode itu, sepotong memoriku—wajah ibuku, rasa kopi favoritku, atau hangatnya matahari—terasa memudar, digantikan oleh barisan angka heksadesimal yang dingin.
"Kau melangkah terlalu jauh, Elang."
Suara itu tidak datang dari speaker. Suara itu bergema langsung di dalam korteks sereb**l-ku.
Di tengah aula data yang melingkar, udara tiba-tiba terdistorsi. Piksel-piksel cahaya keemasan berkumpul, memadat menjadi sosok pria tinggi mengenakan setelan jas abu-abu arang yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia. Maximilian Thorne, CEO Omni-Thaumaturgy. Ini bukan tubuh fisiknya—dia berada di penthouse-nya yang berjarak ratusan kilometer—tapi proyeksi sarafnya begitu nyata hingga aku bisa melihat pori-pori kulitnya dan kilat dingin di matanya.
"Thorne," desis ku, tanganku bergerak di udara, memanggil antarmuka virtual yang hanya bisa kulihat. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau curi dari dunia."
Thorne tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih mirip predator yang merasa kasihan pada mangsanya. "Mencuri? Kami memberikan struktur pada kekacauan, Elang. Tanpa kami, Protokol Genesis hanyalah badai yang akan menghancurkan realitas. Berikan kodenya padaku, dan aku akan memastikan pikiranmu tetap utuh."
"Pikiranku sudah hancur sejak kalian membant** keluargaku di distrik bawah," jawabku tajam. Jariku bergerak secepat kilat, mengetikkan perintah *Mantra* pada papan ketik holografik.
*Sistem Perintah: Overwrite_Gravity_Grid_Value = 0.*
Lant** di bawah Thorne meledak, bukan karena bom, tapi karena gravitasi di titik itu mendadak hilang. Namun, Thorne hanya melayang tenang. Dia menjentikkan jarinya, dan seketika ribuan bilah cahaya digital muncul di sekelilingnya, masing-masing membawa kode penghancur yang bisa menghapus kesadaranku secara permanen.
"Kodingmu cepat," Thorne memuji sambil melambaikan tangan. Bilah-bilah cahaya itu meluncur ke arahku seperti hujan meteor. "Tapi aku adalah arsitek dari sistem yang kau gunakan ini. Aku adalah dewa di dalam jaringan ini."
Aku tidak menghindar. Aku memejamkan mata, membiarkan Protokol Genesis mengambil alih. *Lihat kodenya, Elang. Jangan lihat bendanya.*
Dunia di mataku berubah menjadi aliran air terjun data hijau dan emas. Aku melihat serangan Thorne bukan sebagai senjata, melainkan sebagai fungsi matematika sederhana. Dengan satu pikiran, aku menulis *Interrupt*.
Bilah-bilah cahaya itu berhenti satu inci dari dadaku, membeku di udara, lalu pecah menjadi partikel debu yang tak berbahaya. Aku terengah, keringat dingin mengucur di pelipisku. Rasanya seperti mencoba menahan air bah dengan tangan kosong.
"Tidakkah kau merasakannya?" Thorne mendekat, langkahnya tidak lagi menyentuh lant**. Proyeksinya mulai membesar, memenuhi ruangan, matanya kini bersinar dengan cahaya putih yang membutakan. "Setiap kali kau melawan, kau menghapus dirimu sendiri. Siapa nama kecilmu, Elang? Siapa teman pertamamu? Kau sudah lupa, bukan?"
Kepalaku berdenyut hebat. Sebuah ingatan tentang bermain layang-layang di atap gedung kumuh mendadak menjadi buram, lalu hilang, digantikan oleh instruksi *loop* yang tak berujung. Aku berteriak, bukan karena sakit fisik, tapi karena kengerian kehilangan jati diri.
"Aku... aku adalah Elang," bisikku, mencoba berpegangan pada sisa kewarasanku.
"Kau adalah *cont**ner*," koreksi Thorne, suaranya kini menggelegar seperti guntur. "Dan wadahnya sudah mulai retak."
Thorne mengangkat tangannya, dan ruang data di sekitar kami mulai terlipat. Dinding-dinding menekuk ke dalam, server-server besar itu terpelintir seperti kertas, mencoba menjepitku di tengah-tengah anomali ruang. Ini adalah serangan tingkat tinggi—modifikasi saraf tingkat dewa yang mampu menulis ulang koordinat spasial secara *real-time*.
Aku tahu aku tidak bisa menang jika bermain dengan aturannya. Aku harus menggunakan Protokol Genesis ke level yang belum pernah kucoba sebelumnya. Aku harus melakukan *root-access* langsung ke inti server regional ini melalui kesadaranku sendiri.
"Kau ingin protokol ini?" teriakku sambil menerjang maju, menembus lipatan ruang yang menyakitkan. Aku mencengkeram bahu proyeksi Thorne, tanganku seolah ma**k ke dalam listrik cair. "Ambil semuanya!"
Aku membuka gerbang di pikiranku seluas-luasnya. Ba**** data murni—kode penciptaan alam semesta—mengalir keluar dari sarafku, meluap menuju proyeksi Thorne. Itu bukan lagi sekadar koding; itu adalah kehendak murni.
Mata Thorne melebar. Keangkuhannya runtuh saat dia menyadari bahwa dia tidak bisa menampung volume data sebesar itu. Proyeksi emasnya mulai retak, memancarkan cahaya hitam yang menyakitkan.
"Kau g***!" raung Thorne. "Kau akan menghancurkan kita berdua!"
"Setidaknya kau tidak akan memilikinya!"
Ledakan data terjadi. Seluruh pusat data regional Omni-Thaumaturgy bergetar hebat. Server-server meledak satu per satu dalam rentetan percikan listrik ungu. Proyeksi Thorne terurai menjadi noise statis sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya.
Aku terhempas ke belakang, menghantam dinding beton yang kini kembali padat. Napasku tersengal, pandanganku kabur. Seluruh ruangan gelap, hanya diterangi oleh api kecil dari konsol yang terbakar. Aku berhasil. Pusat data ini lumpuh.
Namun, saat aku mencoba berdiri, aku membeku. Aku menatap tanganku sendiri yang gemetar, lalu mencoba mengingat sesuatu yang sederhana. Aku tahu aku baru saja memenangkan pertempuran besar. Aku tahu aku berada di sebuah gedung korporasi.
Tapi saat aku mencoba memanggil nama wanita yang wajahnya ada di dalam liontin di leherku—wanita yang menjadi alasan utamaku melakukan semua ini—aku tidak menemukan apa pun. Hanya ada kekosongan yang dingin dan barisan kode yang terus berputar di benakku.
Aku masih ingat cara meretas sistem paling rumit di dunia, tapi aku baru saja menyadari satu hal yang mengerikan.
Aku lupa siapa diriku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!