Hujan asam memba**h kaca jendela apartemen tua di Sektor 7 dengan bunyi desis yang konsisten, seolah-olah langit Neo-Jakarta sedang berusaha melarutkan beton-beton kusam kota ini. Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi pendar biru dari tiga monitor holografik, aku duduk meringkuk. Bau kabel terbakar dan kopi instan dingin menggantung di udara.
Tanganku gemetar saat jemariku menari di atas *keyboard* virtual. Setiap ketukan menghasilkan riak cahaya di udara, manifestasi dari Protokol Genesis yang berdenyut di bawah kulitku. Rasanya seperti ada ribuan semut api yang merayap di dalam pembuluh darah, membawa data-data yang seharusnya tidak sanggup diproses oleh otak manusia.
"Buka enkripsi 'Apsara-7'," bisikku, suaraku serak karena tidak digunakan selama berjam-jam.
Di layar, sebuah folder yang terkunci dengan protokol militer Omni-Thaumaturgy mulai retak. Kode-kode kunoβbahasa Ether-Code asli yang belum terdistorsi oleh komersialisasiβmengalir deras. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, seirama dengan *frame rate* yang berkedip di depanku.
"Identitas dikonfirmasi," suara sintetis datar terdengar dari *neuro-link* di belakang telingaku. "Selamat datang, Subjek 01. Membuka arsip Dr. Aris dan Dr. Maya."
Napas seketika tercekat. Itu nama mereka. Nama orang tuaku yang kukira hanyalah teknisi kelas menengah yang tewas dalam kecelakaan reaktor sepuluh tahun lalu. Namun, foto yang muncul di layar menceritakan kisah yang berbeda. Mereka berdiri di laboratorium steril berwarna putih, mengenakan jas lab dengan logo prototipe Omni-Thaumaturgy di dada mereka. Di tangan ibuku, ada sebuah tabung berisi cairan berpendar emas.
Aku mengklik sebuah entri video bertanggal 14 Mei 2068βtahun kelahiranku.
Gambar muncul, sedikit terdistorsi oleh noise statis. Ibuku, Maya, tampak lebih muda namun matanya terlihat lelah, ada lingkaran hitam yang dalam di bawahnya. Dia menatap ke arah kamera, tapi pandangannya seolah menembus lensa, menatap langsung ke arahku yang berada di masa depan.
"Hari ke-280," suara Maya terdengar bergetar. "Integrasi saraf pada janin menunjukkan tingkat sinkronisasi 98%. Aris bersikeras bahwa kita harus menaikkan dosis Ether-Code murni ke dalam cairan amnion. Dia menyebutnya sebagai 'Protokol Genesis'. Aku menyebutnya keg***an."
Duniaku serasa miring. Aku mencengkeram pinggiran meja plastik yang retak hingga buku jariku memutih. *Janin? Dosis?*
"Kita tidak sedang membesarkan seorang anak, Maya," suara ayahku terdengar dari balik kamera, dingin dan penuh obsesi. "Kita sedang membangun jembatan. Dunia ini sedang sekarat karena keterbatasan fisik. Anak ini... dia akan menjadi perangkat keras pertama yang mampu menjalankan hukum alam semesta sebagai perangkat lunak."
"Dia anak kita, Aris! Bukan CPU!" Maya berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya.
Layar berkedip ke log medis. Grafik pertumbuhanku ditampilkan bukan sebagai grafik kesehatan bayi normal, melainkan sebagai tabel kompatibilitas data. Aku melihat rekaman diriku saat balita, bukan sedang bermain balok kayu, melainkan sedang dihubungkan ke mesin pemindai otak raksasa. Aku melihat diriku sendiri menangis, namun bukan air mata yang kulihat, melainkan pendar biru sirkuit yang mulai muncul di balik iris mataku.
"Setiap trauma yang dia alami adalah bagian dari kalib**si," suara ayahku di rekaman lain terdengar seperti pisau bedah yang mengiris hatiku. "Rasa sakit mempercepat proses adaptasi saraf terhadap Ether-Code. Kita harus memastikan dia merasa terisolasi. Keterikatan sosial hanya akan menjadi *bug* dalam sistem kodingnya nanti."
Aku menarik tangan dari *keyboard*, seolah benda itu baru saja menyetrumku. Rasa mual melonjak ke tenggorokan. Trauma masa laluku terhadap teknologi medis, ketakutanku pada kerumunan, kecenderunganku untuk mengunci diri dalam kegelapanβsemuanya bukan sekadar nasib buruk atau gangguan mental.
Semuanya telah diprogram.
Aku bukan seorang hacker yang tidak sengaja menemukan Protokol Genesis. Aku adalah *produk* dari protokol itu. Aku adalah wadah yang dirancang, dibentuk, dan disiksa agar c**up kuat untuk menampung kode Tuhan tersebut. Orang tuaku bukanlah korban dari korporasi; mereka adalah arsitek dari penjara daging yang kusebut tubuh ini.
"Begitu rupanya," gumamku sinis, meski air mata mulai mengaburkan pandanganku. "Aku bukan manusia. Aku hanya skrip panjang yang diberi nama."
Tiba-tiba, alarm merah berkedip di seluruh sudut penglihatanku. *Neuro-link* milikku menjeritkan peringatan bahaya.
"Deteksi intrusi lokal. Sinyal Inquisitor-Coder terdeteksi dalam radius 50 meter. Mengunci lokasi..."
Aku berdiri dengan sempoyongan. Rasa sakit di kepalaku meledak, jauh lebih hebat dari biasanya. Protokol Genesis di dalam diriku bereaksi terhadap emosiku yang hancur; di sekelilingku, benda-benda mulai bergetar. Cangkir kopi di meja melayang beberapa senti, cairannya berputar-putar melawan gravitasi sebelum berubah menjadi partikel cahaya digital.
Mereka datang. Omni-Thaumaturgy tidak datang untuk mengambil kembali Protokol Genesis. Mereka datang untuk mengambil kembali *aset* mereka yang hilang.
Aku melihat ke telapak tanganku sendiri. Kulitku mulai retak, memperlihatkan aliran kode emas yang mengalir di bawahnya, mencoba menulis ulang kenyataan di sekitarku karena amarahku yang meluap. Jika aku adalah program, maka aku adalah program yang penuh dengan *error* mematikan.
"Kalian menginginkan subjek kalian kembali?" bisikku, sementara bayangan pa**kan elit mulai terlihat meluncur turun dari helikopter di luar jendela. "Akan kutunjukkan apa yang terjadi jika sebuah program memutuskan untuk menghapus penciptanya."
Saat pintu apartemenku meledak hancur oleh granat EMP, aku tidak lagi merasa takut. Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kehampaan yang absolut. Dan saat itu juga, aku mulai mengetikkan perintah di dalam pikiranku, meruntuhkan hukum fisika di dalam ruangan itu tepat saat Inquisitor pertama melangkah ma**k.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!