Dunia di dalam kepalaku biasanya berisik oleh jutaan aliran data yang saling tumpang tindih. Sejak Protokol Genesis bersarang di korteks sereb**lku, setiap kabel listrik di dinding terasa seperti urat nadi yang berdenyut, dan setiap pancaran Wi-Fi di udara adalah bisikan rahasia yang memaksa untuk didengar. Namun, saat kakiku melintasi garis demarkasi Distrik Sembilan menuju kawasan yang dijuluki 'The Void', kebisingan itu mendadak mati.
Rasanya seperti kepalaku ditarik paksa dari dalam air mendidih dan dicelupkan ke dalam es. Dingin, sunyi, dan mengerikan.
"Sial," desisku sambil bersandar pada dinding beton yang kasar dan berlumut. Tidak ada iklan hologram yang muncul di sudut mataku. Tidak ada notifikasi *neuro-link* yang berkedip merah memperingatkan tentang pengejaran Omni-Thaumaturgy. Di sini, di zona Analog, udara terasa berat oleh bau karat dan jelaga lama, bukan ozon dan muatan statis.
Aku mencoba menjentikkan jariku, memanggil perintah dasar *Ether-Code* untuk menyalakan cahaya kecil di ujung telunjukku. Biasanya, partikel udara akan patuh, menyusun ulang struktur atomnya untuk menciptakan pendaran foton. Namun, yang terjadi kali ini hanyalah bunyi gesekan kulit yang tumpul. Tidak ada percikan. Tidak ada keajaiban.
Protokol Genesis di dalam otakku meringkuk. Kode Tuhan itu masih ada di sana, aku bisa merasakannya seperti sebuah beban berat di dasar tengkorakku, tetapi tanpa koneksi jaringan global sebagai katalisator, ia hanyalah sebuah mesin raksasa tanpa bahan bakar.
"Elang? Kau masih hidup?"
Suara itu datang dari kegelapan di depanku. Aku menyipitkan mata. Tanpa bantuan sensor termal dari *Neural-Eye*, aku harus mengandalkan indra biologis yang payah ini. Seorang pria tua keluar dari bayang-bayang sebuah bangunan tua yang dulunya mungkin kantor pos. Ia memegang senter bertenaga baterai kimiaβteknologi kuno yang sudah ditinggalkan hampir seabad lalu.
"Bara," kataku, suaraku parau. "Kau masih menyimpan lubang tikus ini."
Bara, seorang kolektor barang antik dan mantan teknisi yang membelot dari sistem, mendekat. Cahaya senternya menyapu wajahku, membuatku silau. "Kau terlihat seperti mayat yang baru saja didekripsi, Nak. Ma**klah sebelum satpam korporat memutuskan untuk melakukan pemindaian fisik manual di area ini."
Aku mengikutinya ma**k ke dalam bangunan itu. Interiornya adalah kekacauan yang menenangkan. Tumpukan buku kertas, sirkuit-sirkuit tembaga yang tidak terhubung ke mana pun, dan bau debu yang tidak tersentuh algoritma pembersihan udara. Begitu pintu besi tebal di belakang kami tertutup, rasa sunyi itu menjadi absolut.
Aku duduk di kursi kayu yang berderit, merasakan berat tubuhku sendiri. Selama beberapa hari terakhir, aku merasa ringan, seolah-olah gravitasi hanyalah saran yang bisa kuhapus dengan satu baris kode. Sekarang, bumi seolah ingin menelanku kembali.
"Kau gemetar," observasi Bara sambil menyodorkan gelas berisi air bening. Bukan air sintetik yang diperkaya vitamin, tapi air tanah asli yang terasa sedikit sepat.
"Ini... aneh," bisikku. Aku menatap tanganku. Getaran di jemariku perlahan mereda. Untuk pertama kalinya sejak membobol server Omni-Thaumaturgy, aku tidak lagi melihat dunia sebagai sekumpulan variabel yang bisa diubah. Meja ini adalah meja. Air ini adalah air. Dan aku... aku bukan lagi entitas yang setara dengan pencipta.
"Itu namanya menjadi manusia, Elang," sahut Bara dingin. Ia menyulut sebatang rokok tembakau, asapnya mengepul kelabu, bukan neon. "Di luar sana, kau adalah budak dari data yang kau curi. Di sini, kau hanya seorang pemuda ketakutan yang butuh tidur."
Aku menutup mata. Biasanya, saat aku menutup mata, Protokol Genesis akan memproyeksikan visualisasi *hyper-space* yang indah sekaligus mengerikanβgalaksi-galaksi kode yang berputar. Namun sekarang, yang kulihat hanyalah kegelapan yang murni. Hitam yang jujur.
Kejernihan itu datang perlahan, seperti kabut yang tersingkap. Aku mulai bisa memikirkan masa laluku tanpa interupsi algoritma prediksi. Aku ingat wajah ibuku di rumah sakit, aku ingat bau antiseptik yang membuatku benci pada teknologi medis, dan aku ingat alasanku melakukan semua ini. Aku ingin bebas, bukan ingin menjadi mesin baru bagi dunia.
"Mereka akan tetap mencariku, kan?" tanyaku tanpa membuka mata.
"Omni-Thaumaturgy tidak akan membiarkan 'aset' mereka hilang hanya karena kau ma**k ke zona tanpa sinyal," jawab Bara. "Mereka akan mengirim Inquisitor-Coder. Dan karena mereka tahu kau tidak bisa menggunakan sihir digitalmu di sini, mereka akan datang membawa peluru timah. Sesuatu yang sangat analog, sangat taktis, dan sangat mematikan."
Aku menarik napas panjang, menikmati oksigen yang terasa kasar di paru-paruku. Kekuatanku memang melemah, tapi untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, aku merasa benar-benar memegang kendali atas diriku sendiri. Pikiranku tidak lagi diperkosa oleh arus data Genesis.
"Aku butuh senjata," kataku, membuka mata dengan sorot yang lebih tajam. "Bukan *compiler*, bukan *exploit*. Sesuatu yang terbuat dari besi."
Bara tersenyum tipis, memperlihatkan gigi-giginya yang menguning. Ia berjalan ke sebuah peti kayu di sudut ruangan dan membukanya. Di dalamnya bukan tersimpan perangkat saraf atau modul memori, melainkan batangan baja dingin yang dirancang untuk satu tujuan: menghancurkan apa pun yang berada di lintasannya.
Tiba-tiba, suara dentuman keras bergema dari pintu depan. Bukan suara ledakan energi, melainkan suara pendob**k mekanis yang menghantam baja.
"Mereka lebih cepat dari dugaanku," gumam Bara sambil melemparkan sebuah pistol tua ke arahku.
Aku menangkapnya. Beratnya nyata. Dinginnya nyata. Aku berdiri, merasakan sisa-sisa Protokol Genesis berdenyut di belakang kepalaku, seolah-olah ia memohon agar aku segera mencari sinyal dan melepaskan kekuatannya kembali. Namun, aku mengabaikannya.
Saat pintu besi itu mulai melengkung di bawah tekanan serangan dari luar, aku menyadari satu hal yang luput dari perhitungan Omni-Thaumaturgy. Mereka mengira aku lemah tanpa koneksi internet. Mereka lupa bahwa sebelum aku menjadi dewa di dalam jaringan, aku adalah penyintas di jalanan.
Lampu senter di atas meja berkedip, lalu padam sepenuhnya, menyisakan kami dalam kegelapan total. Di luar sana, suara langkah sepatu bot taktis yang berat mulai terdengar mendekat di atas beton yang pecah. Aku mengokang senjata di tanganku, sebuah bunyi mekanis yang sederhana namun terasa lebih jujur daripada ribuan baris kode mana pun.
"Selamat datang di dunia nyata, Elang," bisikku pada diriku sendiri.
Di balik pintu yang mulai runtuh, aku tidak melihat kode biner lagi. Aku melihat bayangan manusiaβdan mereka tidak tahu bahwa seekor hewan yang terpojok jauh lebih berbahaya daripada dewa yang tenang. Namun, saat sebuah granat gas dilemparkan ke dalam ruangan, sebuah sensasi aneh menggelitik tengkukku. Protokol Genesis di kepalaku tiba-tiba bergetar hebat, bukan karena mencari sinyal, melainkan seolah-olah ia mendeteksi sesuatu yang jauh lebih kuno daripada satelit mana pun sedang mendekat dari arah kegelapan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!