Dengung di dalam kepalaku tidak pernah benar-benar hilang. Sejak Protokol Genesis bersarang di dalam korteks sereb**l-ku, kesunyian menjadi kemewahan yang mustahil. Setiap benda yang kulihatβcangkir kopi retak, kabel-kabel malang melintang, hingga tetesan air hujan yang merembes dari atap beton di Sektor 7 iniβseolah-olah memancarkan barisan kode biner yang berteriak minta diubah.
Aku memijat pelipis, berusaha mengabaikan dorongan untuk "menghapus" retakan di dinding hanya dengan jentikan jari. Di sudut ruangan yang remang, cahaya biru dari holoscreen memantul di wajah Aria yang tampak lelah. Pemimpin pemberontak itu sedang meneliti peta rute logistik Omni-Thaumaturgy, sementara anggota lainnya, Raka, duduk di pojok dengan gelisah.
"Kau harus istirahat, Elang," suara Aria memecah keheningan, nadanya melunak sejenak. "Wajahmu sepucat mayat."
"Aku baik-baik saja," dustaku. Suaraku parau, seperti gesekan amplas di atas logam. "Hanya sedikit... berisik."
Raka tiba-tiba berdiri. Kursi plastiknya berderit tajam di atas lant** semen. "Aku harus keluar sebentar. Udara di sini menyesakkan. Aku akan memeriksa sensor perimeter di pintu ma**k bawah."
Aku memperhatikannya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan gerakan Raka. Tangannya gemetar saat dia menyentuh terminal pintu, dan dia tidak menatap mata siapa pun. Instingku, yang kini dipertajam oleh algoritma purba dalam kepalaku, menangkap anomali dalam detak jantungnya yang terdengar seperti ketukan drum yang tidak sinkron di telingaku.
"Raka," panggilku. Dia membeku. "Kenapa Neuro-Link milikmu memancarkan sinyal terenkripsi ke luar?"
Aria menoleh dengan cepat, matanya menyipit. "Apa maksudmu, Elang?"
"Aku bisa melihat spektrumnya," kataku, berdiri perlahan. Dunianya mulai bergeser. Dalam penglihatanku, udara di sekitar Raka terdistorsi, menyingkap aliran data merah yang mengalir dari soket di belakang lehernya. "Dia tidak sedang memeriksa sensor. Dia sedang melakukan jabat tangan digital dengan server eksternal."
Wajah Raka memucat. Dia mundur selangkah, tangannya meraba-raba saku jaketnya yang lusuh. "Elang, kau sudah g***. Protokol itu merusak otakmu. Aku hanya... aku hanya memeriksa pesan dari adikku."
"Bohong," desisku. Aku melangkah maju. Setiap langkahku terasa seperti beban berat yang menekan realitas. "Kau baru saja menerima transfer kredit sebesar satu juta Ether-Credits. Dan sebuah berkas... penghapusan catatan kriminal atas nama Raka Sadewa."
Aria tersentak, tangannya langsung meraih pistol pulsa di pinggangnya. "Raka? Katakan padaku itu tidak benar."
Raka meledak. Dia mengeluarkan sebuah detonator kecil dari sakunya. Wajahnya yang ketakutan kini berubah menjadi seringai penuh keputusasaan. "Kau tidak tahu rasanya menjadi buronan selamanya, Aria! Omni menjanjikan hidup baru. Mereka bilang mereka hanya menginginkan si aneh ini!" Dia menunjukku dengan jari yang bergetar. "Dunia tidak butuh Tuhan baru yang g*** seperti dia! Kita butuh ketertiban!"
"Kau menjual kami," bisik Aria, suaranya penuh luka yang dalam.
"Aku menyelamatkan diriku sendiri!" teriak Raka.
Sebelum Aria sempat menarik pelatuk, suara gemuruh mesin membelah malam. Suara itu bukan berasal dari kendaraan biasa. Itu adalah dengung mesin jet senyap milik unit elit Inquisitor-Coder. Detik berikutnya, langit-langit beton di atas kami meledak, bukan oleh bahan peledak, melainkan oleh kode dekonstruksi yang mengubah material padat menjadi debu dalam sekejap.
Tiga sosok turun dari lubang tersebut, melayang dengan bantuan penstabil gravitasi di sepatu bot mereka. Mereka mengenakan jubah putih sintetik yang berkilau dengan pola geometris perakβseragam kebanggaan Omni-Thaumaturgy. Di tangan mereka, staf induksi menyala dengan energi biru yang siap menulis ulang apa pun yang mereka sentuh.
"Subjek Elang," suara salah satu Inquisitor bergema, datar dan tanpa emosi melalui modulator suara. "Serahkan Protokol Genesis secara sukarela, atau kami akan mengekstraksinya dari sisa-sisa organikmu."
Raka berlari menuju para Inquisitor, tangannya terangkat. "Aku sudah melakukan bagianku! Sekarang berikan akses pembersihan itu!"
Inquisitor yang berada di tengah bahkan tidak menoleh. Dia hanya menggerakkan jarinya di udara. Sebuah perintah eksekusi singkat terkirim. Aku melihatnya dalam bentuk barisan kode merah yang meluncur cepat.
"Raka, jangan!" teriak Aria.
Terlambat. Tubuh Raka tiba-tiba kaku. Matanya melotot saat kulitnya mulai berubah warna menjadi abu-abu metalik. Dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya ter-digitalisasi, pecah menjadi ribuan piksel cahaya yang kemudian lenyap ditiup angin malam. Dia tidak hanya mati; dia dihapus dari keberadaan fisik.
"Terima kasih atas kerja samanya, aset tak berguna," gumam Inquisitor itu dingin.
Kemarahan membakar dadaku, dingin dan tajam. Aku bisa merasakan Protokol Genesis bereaksi terhadap emosiku. Di dalam pikiranku, aku melihat struktur atom dari ruangan ini. Aku bisa melihat betapa rapuhnya para Inquisitor iniβmereka hanyalah kumpulan variabel yang bisa kuubah menjadi nol.
"Elang, kita harus pergi!" Aria menarik lenganku, mencoba menyeretku menuju pintu darurat di belakang.
Namun kakiku terpaku di lant**. Kepalaku terasa seperti akan pecah. Data ilahi itu memba****i kesadaranku, menawarkan solusi yang begitu menggoda. *Hapus mereka,* bisik suara di dalam kepalaku yang bukan suaraku. *Ubah udara di paru-paru mereka menjadi beton. Jadikan mereka debu.*
"Elang! Sadarlah!" Aria berteriak, suaranya terdengar jauh di tengah badai data.
Salah satu Inquisitor mengarahkan stafnya padaku. Cahaya biru terkumpul di ujungnya. "Eksekusi protokol penghancuran saraf dimulai."
Aku menatap ujung staf itu. Aku tidak merasa takut. Aku justru merasa... berkuasa. Aku mengangkat tanganku, dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melawan Protokol Genesis. Aku membiarkannya mengalir.
"Input diterima," bisikku, mataku kini memancarkan cahaya emas yang membutakan.
Saat energi dari staf Inquisitor itu meluncur ke arahku, aku tidak menghindar. Aku menangkapnya dengan pikiranku, membelokkan hukum fisika di depan mataku sendiri. Energi itu berhenti di udara, membeku seperti es, sebelum mulai berubah warna menjadi hitam pekat.
Aku melihat ketakutan untuk pertama kalinya di balik helm kaca para Inquisitor itu.
"Sekarang," kataku, suaraku bergema dengan otoritas yang tidak manusiawi, "biarkan aku menunjukkan pada kalian bagaimana rasanya ditulis ulang."
Tepat saat aku hendak menutup kepalan tanganku untuk meruntuhkan realitas di depan mereka, sebuah peringatan merah berkedip di sudut penglihatanku: *CRITICAL ERROR: SYNCHRONIZATION OVERLOAD. REALITY BREACH DETECTED.*
Duniaku berguncang hebat. Bukan karena serangan musuh, tapi karena pikiranku sendiri mulai retak di bawah beban kekuatan Tuhan. Di antara kepungan musuh dan pengkhianatan yang baru saja terjadi, aku menyadari satu hal: jika aku memenangkan pertarungan ini, Elang yang asli mungkin tidak akan pernah kembali.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!