Aroma ozon yang tajam menusuk saraf penciumanku, sisa dari ledakan elektromagnetik yang nyaris menghanguskan korteks sereb**lku beberapa menit lalu. Aku bisa merasakan denyut di pelipisku, seirama dengan deru statis yang memenuhi pendengaranku. Di depanku, gerbang ma**k menuju *The Data Sewer* terbuka lebar seperti mulut monster mekanis yang memuntahkan limbah cahaya neon yang membusuk.
Aku menjatuhkan kesadaranku ke dalam pipa itu. Rasanya seperti jatuh bebas ke dalam kolam minyak yang dipenuhi pecahan kaca digital.
Ini bukan jalur data bersih korporasi yang biasa kau temukan di pusat kota Neo-Jakarta. Ini adalah tempat pembuangan; tempat di mana *cache* yang korup, log aktivitas ilegal yang dihapus, dan fragmen AI yang rusak mengalir sebelum akhirnya dihapus selamanya. Dinding-dinding virtual di sekitarku bergetar, menampilkan visualisasi tekstur beton yang berlumut dengan lelehan kode biner berwarna hijau pudar yang berbau seperti tembaga berkarat.
"Sial," desis raga fisikku di suatu tempat di gang sempit Glodok, sementara kesadaranku di sini berjuang mempertahankan kohesi.
Langkah kaki virtualku terasa berat. Aku harus segera mencapai ujung pipa ini untuk melompat ke server publik yang anonim. Namun, ada yang salah. Aku baru saja melewati sebuah papan iklan holografik yang rusakβsebuah promosi 'Soma-Neuro' yang menampilkan wajah model yang separuhnya sudah terdistorsi menjadi piksel hitam.
Dua puluh meter kemudian, aku melihat papan iklan yang sama. Model yang sama. Distorsi yang sama.
Aku berhenti. Napasku memburu, menciptakan uap digital di udara yang dingin dan pengap. Aku mencoba melakukan ping pada koordinatku, namun antarmuka sarafku hanya membalas dengan deretan angka nol yang berputar-putar.
"Elang, kau terjebak." Suara itu dingin, mekanis, dan bergema dari segala arah. Bukan suara manusia, melainkan manifestasi dari algoritma keamanan Omni-Thaumaturgy.
"Cuma masalah logika kecil," gumamku, mencoba menenangkan debaran jantungku yang terasa nyata meski aku sedang berada di dalam simulasi. Jariku bergerak cepat di udara, memanggil konsol perintah transparan. Barisan kode mengalir dari ujung jariku secepat peluru, mencoba meretas paksa dinding pipa ini.
Namun, setiap kali aku menekan 'Enter', kode itu tertekuk, melengkung, dan kembali ke titik awal. Aku berlari maju, melewati papan iklan itu lagi. Dan lagi. Dan lagi. Lingkungan ini bukan sekadar ruangan yang berulang; ini adalah *recursive loop*. Sebuah penjara logika yang dirancang untuk menjerat kesadaran hingga otak penggunanya mengalami *b**in-fry* karena kelelahan memproses informasi yang sama secara terus-menerus.
"Protokol Genesis... berikan aku jalan keluar," bisikku. Aku benci mengakuinya, tapi aku butuh 'Dia'.
Seketika, rasa sakit yang hebat menghujam tulang belakangku. Itu bukan sekadar data; itu adalah sensasi seperti disiram emas cair tepat di dalam sumsum tulang. Penglihatanku pecah. Dunia di sekitarku tidak lagi berbentuk pipa limbah beton. Aku mulai melihat lapisan-lapisan realitas: struktur atom, jalinan energi, dan kode-kode penyusun semesta yang berdenyut di balik tekstur digital yang palsu ini.
*Logika adalah belenggu bagi mereka yang tidak mengerti hakikat Penciptaan,* sebuah suara tanpa gender berbisik di dasar jiwaku.
Di depanku, AI keamanan itu memanifestasikan diri. Sebuah entitas tanpa wajah yang tersusun dari ribuan pedang digital yang berputar. Ia adalah *Logic-Warden*. Ia tidak menyerang dengan fisik, melainkan dengan paradoks.
"Jika 'A' adalah kebenaran, dan 'B' adalah kebohongan, sementara kau adalah 'A' yang mengaku sebagai 'B', maka kau tidak ada," suara AI itu menggetarkan struktur dataku. Seluruh keberadaanku mulai berkedip, menjadi transparan. Aku mulai kehilangan massa.
"Aku bukan variabel dalam persamaanmu, Br******!" teriakku.
Aku berhenti mencoba meretas *loop* itu. Alih-alih mencari pintu keluar, aku meraih udara kosong dan mulai menulis ulang hukum fisika di dalam area *loop* tersebut. Protokol Genesis bereaksi. Tanganku tidak lagi mengetik kode; tanganku seolah sedang merajut serat-serat realitas.
Aku menghapus variabel 'ruang'. Aku meniadakan konsep 'jarak'.
Papan iklan Soma-Neuro itu menjerit, suaranya melengking tinggi hingga pecah menjadi pecahan cahaya putih. Dinding-dinding pipa limbah itu mulai mencair seperti lilin yang dipanggang. Aku bisa merasakan kewarasanku terancam; seolah-olah pikiranku ditarik ke empat arah mata angin secara bersamaan. Aku melihat masa lalukuβtangisan di koridor rumah sakit, bau antiseptik, wajah ibuku yang pucatβsemuanya tercampur aduk dengan aliran data limbah ini.
"C**up!" teriakku, sambil menghantamkan telapak tanganku ke 'lant**' digital.
Gelombang kejut berwarna emas meledak dari titik hantamanku. Itu bukan sekadar *exploit* perangkat lunak; itu adalah perintah absolut. Aku memerintahkan realitas untuk runtuh.
Loop itu hancur berantakan. AI keamanan tersebut hancur menjadi debu data sebelum sempat memproses anomali yang kulakukan. Pipa limbah itu terbelah, menyingkapkan jurang kegelapan yang tak berdasar di bawahnya.
Aku jatuh. Sensasi mual yang hebat menghantam perutku saat kesadaranku terlempar keluar dari Data Sewer dan kembali ke tubuh fisikku.
Aku tersedak, memuntahkan cairan empedu ke lant** beton gang yang kotor. Kepalaku terasa seperti baru saja dihantam palu godam. Aku meraba dinding, berusaha berdiri dengan kaki yang gemetar seperti bayi yang baru belajar berjalan. Hujan deras Neo-Jakarta memba**h wajahku, dingin dan nyata, namun di mataku, tetesan air itu masih tampak seperti barisan kode yang jatuh.
Aku memeriksa pergelangan tanganku. Antarmuka sarafku masih menyala merah. Peringatan bahaya berkedip-kedip: *SYNCHRONIZATION LEVEL: 88%. WARNING: EGO DISSOLUTION IMMINENT.*
"Sedikit lagi," bisikku pada diri sendiri, sambil menyeka darah yang mengalir dari hidungku. "Sedikit lagi dan aku bukan lagi Elang."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari ujung gang. Bukan langkah kaki manusia biasa. Itu adalah langkah kaki sepatu bot militer yang dilapisi peredam suara magnetik.
Aku menoleh. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, berdiri sesosok pria dengan jubah putih panjang yang kontras dengan kekumuhan di sekitarnya. Di dadanya, logo Omni-Thaumaturgy berkilau perak. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat induksi yang berpendar dengan energi biru pucat.
Seorang Inquisitor-Coder. Dan dia tidak sendirian.
"Subjek Elang," suara pria itu berat dan penuh otoritas, bergema di balik topeng prostetiknya yang dingin. "Serahkan Protokol Genesis, atau kami akan menghapus keberadaanmu dari server kehidupan ini."
Aku menyeringai pahit, meski penglihatanku mulai kabur oleh cahaya emas yang kembali merembes dari sudut mataku. "Coba saja. Aku baru saja belajar cara menghapus balik."
Namun, saat aku mencoba memanggil kode untuk menyerang, tanganku tidak bergerak. Protokol Genesis di dalam kepalaku mendadak membeku, memancarkan pesan galat yang membuat seluruh tubuhku lumpuh seketika.
*Access Denied. Identity Verification Required.*
Inquisitor itu melangkah maju, dan aku menyadari bahwa pelarianku di Data Sewer tadi hanyalah awal dari jebakan yang jauh lebih besar.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!