Lampu neon biru pucat di sudut ruangan berkedip-kedip ritmis, melemparkan bayangan panjang yang gemetar di dinding beton yang lembap. Aku duduk bersila di lant**, kabel *Neural-Link* mencuat dari pangkal tengkorakku seperti tentakel mekanis yang haus. Di depanku, sebuah botol kaca yang pecah berantakan menjadi fragmen-fragmen tajam nampak diam, menunggu untuk 'diperbaiki'.
"Elang, denyut jantungmu mencapai 120 bpm. Kadar kortisolmu melonjak. Kau harus berhenti," suara Maya, asisten virtualku, bergema langsung di korteks pendengaranku. Suaranya datar, tanpa emosi, kontras dengan badai yang berkecamuk di kepalaku.
"Diam, Maya. Aku butuh tahu cara kerjanya," desisku. Gigiku bergemeletuk. Udara di dalam ruko terbengkalai di sektor Glodok ini terasa berat, seolah molekul oksigennya pun enggan untuk kuhirup.
Aku memejamkan mata, dan seketika, dunia fisik memudar. Di balik kelopak mataku, aliran *Ether-Code* mengalir deras seperti sungai cahaya keemasan. Ini bukan sekadar biner. Ini adalah bahasa semesta, baris-baris logika yang mengatur mengapa api itu panas dan mengapa gravitasi menarik kita ke bumi. Protokol Genesis berdenyut di pusat kesadaranku, sebuah jantung mekanis yang memompa data mentah berkekuatan dewa.
Aku mulai mengetik di keyboard virtual yang melayang di udara mental. Jariku bergerak secepat kilatβ*speed-coding* yang sudah menjadi instingku sejak remaja. Aku membidik koordinat botol pecah itu. Aku tidak sedang memungut pecahannya; aku sedang menulis ulang sejarah materialnya.
*IF (Object_State == Broken) THEN REVERT (Entropy_Status) TO (T-Minus 300 Seconds).*
Tiba-tiba, rasa sakit yang dingin menusuk ulu hatiku. Bukan sakit fisik, tapi sesuatu yang lebih mengerikan. Rasanya seperti seseorang baru saja menghapus sebuah paragraf penting dalam buku harian hidupku.
"Apa itu?" gumamku, suaraku parau.
"Terdeteksi penghapusan data memori jangka panjang, Sektor 4-B," lapor Maya. "Memori tentang: Nama an**** peliharaan tetanggamu saat kau berusia tujuh tahun. Terhapus."
Aku tertegun sejenak. Nama an**** itu... aku ingat dia berbulu cokelat, dia sering menggonggong saat aku lewat... tapi namanya? Hilang. Kosong. Hanya ada lubang gelap di kepalaku.
"Satu baris kode untuk satu potong kemanusiaan," bisikku getir. Sesuai dengan hukum termodinamika digital yang baru kupelajari: energi tidak bisa diciptakan, ia hanya bisa ditukar. Dan Protokol Genesis meminta bayaran yang paling mahal: diriku sendiri.
Aku mengabaikan rasa hampa itu dan menekan *Enter*.
Di depanku, realitas berderit. Pecahan kaca itu bergetar, lalu melayang naik. Mereka berputar di udara, memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata, lalu menyatu kembali dengan suara denting yang jernih. Botol itu kini utuh sempurna, bahkan debu yang menempel di permukaannya pun kembali ke posisi semula.
Aku terengah-engah, keringat dingin membasahi jaket sintetisku. Aku berhasil. Aku baru saja mengalahkan waktu dan entropi. Tapi harganya mulai terasa. Aku mencoba mengingat rasa hangat sup buatan ibuku saat aku sakit dulu. Aku ingat mangkuknya, aku ingat uapnya, tapi... aku tidak bisa mengingat rasa kasih sayang yang menyert**nya. Aku tahu itu terjadi, tapi aku tidak bisa *merasakannya*. Rasanya seperti membaca biografi orang asing.
"Elang, kau kehilangan 2% dari kapasitas empati limbikmu dalam satu kompilasi tadi," suara Maya kini terdengar sedikit lebih mendesak. "Jika kau terus melakukan ini untuk hal-hal sepele, kau akan menjadi mesin sebelum fajar menyingsing."
"Ini tidak sepele, Maya! Omni-Thaumaturgy punya pa**kan Inquisitor yang bisa membakar otakku dari jarak satu kilometer. Jika aku tidak bisa menguasai 'kompilasi ulang' ini, aku hanya target latihan bagi mereka!" teriakku, suaraku menggema di ruko yang kosong.
Aku berdiri, kakiku terasa goyah. Aku mendekati jendela yang tertutup plat besi, mengintip melalui celah sempit. Di luar sana, Neo-Jakarta adalah hutan beton yang mencekam. Drone patroli dengan logo matahari merah Omni-Thaumaturgy terbang rendah, lampu pencarinya menyapu gang-gang kumuh seperti mata predator.
Aku melihat seorang anak kecil di gang bawah, sedang mengais tumpukan sampah elektronik, menggigil kedinginan di bawah hujan asam. Rasa iba sempat muncul, tapi kemudian Protokol Genesis berbisik di benakku: *Aku bisa mengubah hujan itu menjadi udara hangat. Aku bisa mengubah sampah itu menjadi makanan.*
Tanganku terangkat secara tidak sadar. Jariku mulai menari di udara, menyusun algoritma untuk memanipulasi suhu area di bawah sana.
"Jangan, Elang," Maya memperingatkan. "Memanipulasi lingkungan skala makro akan memakan memori yang lebih besar. Kau bisa kehilangan ingatan tentang ibumu sepenuhnya."
Jariku terpaku di udara. Kode emas itu berkilauan di depan mataku, menawarkan kekuatan untuk menjadi juru selamat bagi anak itu. Tapi bayarannya adalah wajah ibukuβsatu-satunya alasan aku masih bertahan di dunia yang rusak ini.
Tiba-tiba, sensor keamanan yang kupasang di pintu ruko berbunyi nyaring. Sinyal merah berkedip di pandangan hud-ku.
"Pelanggaran perimeter!" teriak Maya. "Tanda tangan digital Inquisitor-Coder terdeteksi. Mereka menemukan kita!"
Pintu ruko meledak menjadi serpihan kayu dan baja. Bukan karena bahan peledak, tapi karena mereka mendekomposisi molekul pintu itu dari jarak jauh. Dua sosok berjubah putih dengan visor emas melangkah ma**k, tangan mereka bercahaya dengan kode-kode penyerang yang mematikan.
Aku mundur hingga punggungku menempel pada dinding yang dingin. Tidak ada jalan keluar fisik. Pikiranku berpacu. Aku bisa bertarung secara konvensional dan mati dalam hitungan detik, atau aku bisa menggunakan Protokol Genesis untuk menghapus mereka dari eksistensi.
Harganya? Mungkin aku tidak akan pernah ingat lagi siapa namaku setelah ini.
"Target teridentifikasi," salah satu Inquisitor berkata, suaranya terdistorsi oleh filter digital. "Serahkan Protokol Genesis, atau kami akan memformat ulang kesadaranmu."
Aku menatap mereka, lalu menatap tanganku yang mulai bercahaya keemasan. Sebuah seringai sinis muncul di wajahku, meski mataku terasa panas oleh air mata yang mungkin akan menjadi air mata terakhir yang pernah kupahami maknanya.
"Kalian ingin kode ini?" bisikku sambil mulai mengetik perintah enkripsi realitas yang paling berbahaya. "Mari kita lihat apakah kalian sanggup menanggung bayarannya."
Aku menekan tombol eksekusi, dan saat cahaya emas meledak dari tubuhku, aku merasakan satu bagian besar dari hatikuβkenangan tentang cinta pertama dan rasa sakit karena kehilanganβterisap ma**k ke dalam lubang hitam data yang tak terpuaskan. Aku tertawa, tapi tawa itu terdengar asing di telingaku sendiri. Tawa itu bukan lagi milik manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!