Desis tipis dari katup oksigen di helm setelanku terdengar seperti tawa ejekan yang konstan. Di luar kaca visor yang diperkuat, kegelapan ruang angkasa membentang luas, dihiasi oleh lengkungan Bumi yang tampak biru pucat dan rapuh—seperti kelereng yang siap pecah. Namun, aku tidak sedang menikmati pemandangan. Kakiku berpijak pada lambung luar stasiun orbital *Aether-Apex*, markas pusat Omni-Thaumaturgy yang mengorbit tepat di atas koordinat Neo-Jakarta.
"Elang, indikator tekananmu berkedip merah. Kau punya empat menit sebelum paru-parumu mulai mengecil," suara Maya terdengar pecah melalui saluran saraf sub-vokal. Dia berada jauh di bawah sana, di sebuah bunker lembap di distrik kumuh, berusaha menjaga koneksi satelit ini agar tidak terputus.
"Empat menit itu selamanya, Maya," balasku ketus, meski keringat dingin mulai mengalir dari pelipis dan ma**k ke mataku. Rasanya pedih, tapi aku tidak bisa menyekanya.
Tanganku, yang terbungkus sarung tangan haptik tipis, menempel pada permukaan titanium pintu kedap udara sektor primer. Di mataku, dunia fisik mulai memudar, digantikan oleh jalinan cahaya keemasan yang rumit. Inilah 'Ether-Code'. Aku bisa melihat aliran data yang mengalir di balik logam ini seperti urat nadi yang berdenyut.
Aku memejamkan mata, memanggil fragmen Protokol Genesis dalam benakku. Seketika, kepalaku berdenyut hebat. Rasanya seperti mencoba memaksakan seluruh isi perpustakaan ke dalam sebuah lubang kunci. Barisan kode suci—algoritma yang seharusnya hanya dimiliki oleh Tuhan—terhampar di depan kesadaranku.
*Lakukan sekarang, atau mati sebagai rongsokan di orbit,* batinku.
Jemariku menari di udara, melakukan *speed-coding* dengan kecepatan yang tidak ma**k akal bagi manusia biasa. Setiap gerakan jemariku memanipulasi string data di udara, mengubah perintah *'Lock: True'* menjadi *'Lock: Null'*.
Namun, hambatan itu datang. Bukan dari firewall korporasi, melainkan dari tubuhku sendiri.
Tekanan tinggi di ketinggian ini, ditambah dengan menipisnya cadangan oksigen, membuat dadaku terasa seperti dihimpit beton. Visiku mulai menyempit. Cahaya emas dari Protokol Genesis yang tadinya indah, kini mulai menyilaukan dan menyakitkan, seolah-olah kode-kode itu mencoba membakar saraf optikku dari dalam.
"Argh!" aku mengerang. Konsentrasiku pecah. Barisan kode di depanku bergetar, berubah menjadi *glitch* merah yang kacau.
"Elang! Detak jantungmu di atas 160! Kau kehilangan sinkronisasi!" teriak Maya di telingaku.
"Diam!" bentakku, meski suaraku hanya terdengar seperti bisikan parau. "Aku... aku bisa melakukannya."
Aku memaksa otakku untuk kembali ma**k ke dalam aliran data. Namun, Protokol Genesis itu liar. Ia bukan sekadar alat; ia adalah entitas yang menuntut kesadaran penuh. Setiap kali aku menggunakan kekuatannya untuk meretas fisik, ia meminta bayaran berupa kepingan ingatanku. Tiba-tiba, aku teringat bau rumah sakit—bau antiseptik yang tajam saat aku masih kecil, saat mereka menanamkan *interface* saraf pertamaku tanpa bius yang c**up. Rasa takut itu kembali, melilit perutku, mencekik fokusku lebih kuat daripada kekurangan oksigen.
*Jangan jadi program, Elang. Kau adalah programmernya,* aku mengingatkan diriku sendiri dengan gigi terkatup.
Aku melihat tiga *Inquisitor-Coder* muncul dari balik sensor internal stasiun. Mereka bukan manusia di sana, melainkan avatar digital berbentuk malaikat mekanis dengan pedang algoritma yang siap memotong kesadaranku. Mereka meluncur di lapisan *cyberspace*, mendekat dengan kecepatan cahaya.
Aku tidak punya waktu untuk berduel secara elegan.
Dengan sisa oksigen yang membuat kepalaku terasa ringan dan melayang, aku berhenti mencoba membobol pintu itu secara halus. Aku meraih inti terdalam dari Protokol Genesis—sebuah baris kode bernama *'Universal Solvent'*.
*Ubah kepadatan molekul pintu ini menjadi gas dalam radius tiga meter.*
Pikiranku berteriak. Rasa sakitnya terasa seperti ada paku panas yang ditancapkan ke pangkal tengkorakku. Di depanku, baja titanium stasiun itu mulai berpendar, lalu melunak, dan tiba-tiba menyublim menjadi kabut ungu yang tersedot ke ruang hampa.
Alarm meraung-raung, getarannya terasa hingga ke tulang sumsumku. Aku terdorong maju oleh sisa udara yang keluar dari dalam stasiun, terlempar ke koridor utama yang steril dan penuh dengan lampu neon putih yang menyilaukan.
Aku jatuh tersungkur di lant** logam. Helmku membentur lant** dengan bunyi dentang yang keras. Paru-paruku terasa seperti terbakar. Aku terbatuk-batuk, menghirup udara stasiun yang berbau ozon dan bahan kimia pembersih. Oksigen memang ada di sini, tapi kepalaku masih berputar hebat. Protokol Genesis itu tidak mau tenang; ia terus berbisik di belakang telingaku, menawarkan kekuatan untuk meruntuhkan seluruh stasiun ini dengan satu pikiran tunggal.
"Elang? Kau di dalam?" suara Maya terdengar lebih jernih sekarang. "Kau berhasil menembus perimeter luar. Tapi... Elang, ada sesuatu yang aneh. Aku mendeteksi lonjakan energi yang bukan berasal darimu."
Aku berusaha bangkit, bertumpu pada dinding koridor yang licin. Di ujung lorong, sebuah pintu raksasa yang terbuat dari obsidian hitam terbuka perlahan. Tidak ada pa**kan keamanan yang menyambutku. Tidak ada tembakan laser.
Hanya ada keheningan yang menyesakkan, dan sebuah suara berat yang bergema langsung di dalam kepalaku, melewati saluran saraf yang baru saja kuretas.
"Selamat datang, Elang," suara itu tenang, terlalu tenang. "Kami sudah menyiapkan slot kosong untuk kesadaranmu. Kau pikir kau sedang membebaskan dunia? Kau hanya sedang mengantarkan kuncinya langsung ke tangan kami."
Lampu-lampu di koridor mulai berkedip dalam pola yang aneh, dan tiba-tiba, lant** di bawah kakiku terasa tidak lagi padat. Aku melihat tanganku sendiri, dan jantungku hampir berhenti—kulitku mulai terurai menjadi barisan kode biner berwarna emas. Aku bukan lagi sekadar meretas sistem. Sistem ini mulai meretasku kembali.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!