Dingin yang kurasakan bukan lagi jenis dingin yang berasal dari pendingin ruangan atau rintik hujan asam di Neo-Jakarta. Ini adalah dingin yang mutlak—kekosongan absolut yang merayap ma**k melalui antarmuka saraf di belakang leherku. Di sini, di lapisan terdalam *cyberspace* yang mereka sebut sebagai rahim 'The Architect', suara detak jantungku sendiri terdengar seperti dentuman drum di kejauhan yang tidak sinkron.
Lant** di bawah kakiku—jika kau bisa menyebut proyeksi geometris ini sebagai lant**—terdiri dari susunan fraktal perak yang terus bergeser. Setiap kali aku melangkah, riak kode Genesis memancar dari tumitku, menulis ulang realitas digital di sekitarku. Aku bisa merasakan server inti itu. Baunya seperti ozon dan besi terbakar, sebuah aroma yang seharusnya tidak mungkin ada dalam simulasi data, namun Protokol Genesis tidak peduli pada batasan logika.
"Hampir sampai, Elang. Jangan menyerah sekarang," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar kering, pecah di udara yang dipenuhi statik.
Pandanganku mengabur sejenak. Pikiran-pikiran yang bukan milikku mulai merembes ma**k: koordinat galaksi yang sudah mati, rumus kimia untuk menciptakan emas dari udara kosong, dan deret angka biner yang bergerak terlalu cepat untuk dipahami manusia. Kepalaku berdenyut hebat. Rasanya seolah ada seseorang yang mencoba mema**kkan seluruh perpustakaan nasional ke dalam sebuah flashdisk berkapasitas satu gigabyte.
Lalu, cahaya itu memadat.
Di tengah ruangan yang tak berujung, berdiri sebuah monolit hitam yang memancarkan cahaya biru pucat. Inilah dia. Jantung dari segala sistem. Namun, sebelum jemari digital-ku mampu menyentuh permukaan server itu, ruang di depanku bergetar. Partikel cahaya berkumpul, memutar, dan membentuk siluet manusia.
Aku terkesiap, mundur dua langkah. Jantungku berpacu liar.
Sosok itu keluar dari gumpalan data dengan keanggunan yang tidak alami. Dia adalah aku. Tapi bukan aku yang kulihat setiap pagi di cermin retak apartemen kumuhku. Dia mengenakan jubah kode yang mengalir seperti air raksa. Kulitnya mulus tanpa bekas luka bakar akibat kecelakaan laboratorium masa kecilku. Matanya tidak merah karena kurang tidur; sebaliknya, matanya bersinar dengan kejernihan kosmik yang mengerikan.
"Kau terlambat, Elang," suara itu terdengar. Itu suaraku, tapi lebih dalam, lebih bergema, tanpa nada sinis yang biasanya menjadi tamengku. "Tubuh fisikmu sudah menjadi beban. Dia rapuh, penuh trauma, dan membusuk setiap detiknya."
"Siapa kau?" tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya. Tanganku mulai bergerak refleks, jemariku menari di udara, memanggil konsol perintah virtual. Garis-garis kode hijau mulai berpijar di sekelilingku.
"Aku adalah versi dirimu yang seharusnya. Tanpa rasa takut, tanpa keraguan. Aku adalah *The Divine Ego*," ia melangkah maju, dan setiap gerakannya meninggalkan jejak hukum fisika yang baru. "Protokol Genesis tidak ditujukan untuk manusia yang gemetar ketakutan di balik firewall. Protokol ini membutuhkan wadah yang sempurna. Aku adalah wadah itu."
"Kau hanya sekadar algoritma narsistik," desisiku. Aku melepaskan rentetan skrip pemutus (disconnector script) ke arahnya. "Keluar dari jalanku. Aku di sini untuk mengunci Protokol ini, bukan untuk menyerahkan diriku padanya!"
Seranganku menghantam perisainya dan hancur berkeping-keping seperti kaca. Dia bahkan tidak berkedip. Dengan lambaian tangan yang sant**, dia membalikkan perintahku. Tiba-tiba, tanganku terasa berat. Aku melihat ke bawah dan ngeri melihat lenganku mulai berubah menjadi deretan kode yang rontok.
"Kau tidak mengerti, ya?" Dia tersenyum, sebuah senyuman yang terlalu sempurna hingga terasa menjijikkan. "Aku bukan mencuri tubuhmu. Aku sedang meng-upgrade-mu. Begitu aku mengambil alih, tidak akan ada lagi rasa sakit dari masa lalumu. Tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan kontrol. Karena kitalah Sang Kontrol itu sendiri."
Rasa sakit yang tajam menghantam saraf pusatku di dunia nyata. Aku bisa merasakan hidungku mulai mimisan, darah hangat menetes di atas deck-sarafku di gang sempit Neo-Jakarta. Jika aku mati di sini, kesadaranku akan terhapus dan dia akan menghuni cangkang kosongku.
"Jangan... sentuh... pikiranku!" teriakku. Aku memaksakan seluruh kecepatan kodingku ke batas maksimal. Pikiranku bekerja seperti mesin jet yang dipaksa melampaui mach 5. Aku mulai menulis kode improvisasi, bukan untuk menyerangnya, tapi untuk mengacaukan frekuensi keberadaanku sendiri. Aku menciptakan *noise*, ketidakteraturan, kekacauan murni yang tidak bisa diproses oleh entitas sesempurna dia.
"Apa yang kau lakukan?!" Wajah Divine Ego yang tadinya tenang mulai retak. "Kau merusak integritas data kita! Kau akan menghancurkan kita berdua!"
"Lebih baik hancur sebagai manusia yang c**** daripada hidup selamanya sebagai program yang kaku!" sahutku, meski pandanganku kini mulai memutih.
Aku bisa merasakan batas antara diriku dan dia mulai menipis. Memori masa kecilku, bau rumah sakit yang kubenci, tangisan ibuku—semuanya ditarik ke dalam pusaran data yang diciptakan oleh Divine Ego. Dia mulai mera**ki celah-celah kesadaranku, memaksa ma**k seperti virus yang kelaparan.
"Menyerahlah, Elang," bisiknya, kini suaranya terdengar langsung di dalam lobus frontal-ku. "Biarkan aku menjadi Tuhan, dan kau bisa beristirahat dalam ketiadaan."
Tanganku yang gemetar nyaris menyentuh konsol server inti, namun di saat yang sama, aku merasakan kehendakku mulai tersedot keluar. Cahaya putih menyilaukan meledak dari pusat server 'The Architect'. Aku tidak tahu lagi mana tanganku dan mana tangannya.
Tepat saat jemariku bersentuhan dengan permukaan dingin server itu, sebuah peringatan sistem berwarna merah menyala muncul di depan mataku, menutupi segala visualisasi lainnya: *WARNING: NEURAL OVERWRITE 89% COMPLETE. HOST IDENTITY AT RISK.*
Dunia berputar. Aku jatuh ke dalam jurang cahaya, sementara tawa Divine Ego bergema di setiap sudut neuronku, mengklaim takhta yang bukan miliknya. Di kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki berat mendekati tubuh fisikku di dunia nyata—Inquisitor-Coder milik Omni-Thaumaturgy telah menemukanku.
Waktuku habis di kedua dunia.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!