Dunia di bawah kakiku bukan lagi aspal basah Neo-Jakarta yang berbau ozon dan sampah daur ulang. Di sini, di jantung pusat data Omni-Thaumaturgy yang telah kuretas hingga ke akar terdalamnya, realitas hanyalah sekumpulan string cahaya emas yang berdenyut. Aku berdiri di atas titik nol, tempat Protokol Genesis memancar seperti matahari yang terbuat dari barisan algoritma murni.
Setiap helai napasku terasa seperti mengisap data mentah. Kepalaku berdenyut hebat, seolah-olah tengkorakku dipaksa menampung seluruh perpustakaan alam semesta. Aku bisa melihat segalanya. Aku bisa melihat aliran darah di tubuh para Inquisitor yang sedang mendob**k pintu baja di luar sana. Aku bisa merasakan getaran mesin pendingin di lant** paling bawah. Lebih dari itu, aku bisa melihat *kemungkinan*.
Di hadapanku, melayang dua utas kode yang bercahaya lebih terang dari yang lain. Utas pertama bergetar dengan frekuensi yang sangat kukenal: DNA Ayah dan Ibu. Hanya dengan satu jentikan pikiranβsatu perintah `execute`βaku bisa menyusun ulang partikel di ruangan ini menjadi daging, tulang, dan memori mereka. Aku bisa menarik mereka kembali dari kehampaan, menghapus malam berdarah sepuluh tahun lalu seolah itu hanyalah sebuah *bug* kecil dalam sistem.
"Elang... hentikan ini."
Suara itu bukan berasal dari speaker mana pun. Itu bergema langsung di lobus temporal otakku. Aku melihat bayangan diriku sendiri di permukaan krom server, namun bayangan itu tidak mengikuti gerakanku. Ia menatapku dengan mata yang memancarkan kekosongan mutlak.
"Kau bisa memperbaiki semuanya," bisik suara itu, yang sebenarnya adalah proyeksi dari Protokol Genesis yang mencoba menerjemahkan dirinya ke dalam logikaku. "Bukan hanya orang tuamu. Lihatlah ke bawah, ke pemukiman kumuh Sektor 7. Lihatlah anak-anak yang paru-parunya menghitam karena polusi, manusia-manusia yang diperbudak oleh utang korporasi. Hapus penderitaan mereka. Tulis ulang protokol dunia. Jadikan mereka bahagia. Jadikan dunia ini sempurna."
Jemariku gemetar di udara, melakukan gerakan *ghost-typing* yang sudah menjadi insting. Pikiranku mulai menyusun struktur kode untuk sebuah utopia. Aku bisa menghapus rasa sakit. Aku bisa menghapus kelaparan. Aku bisa mengubah Neo-Jakarta menjadi surga neon yang tanpa cela.
Namun, saat aku mulai merangkai algoritma 'Kebahagiaan Mutlak' itu, sebuah kedinginan yang asing menjalar di punggungku. Aku melihat simulasi hasilnya di balik kelopak mataku. Manusia-manusia itu... mereka memang tersenyum. Mereka tidak lagi merasa lapar atau sedih. Tapi mata mereka kosong. Mereka bergerak dalam ritme yang sama, mengikuti skrip yang kutulis. Mereka bukan lagi manusia; mereka adalah fungsi dalam programku. Tanpa konflik, tanpa kegagalan, tanpa pilihan untuk menjadi jahat, mereka kehilangan hal yang membuat mereka hidup: kehendak bebas.
"Jika aku melakukan ini," suaraku serak, nyaris tenggelam dalam dengung server, "mereka hanya akan menjadi boneka. Aku akan menjadi tiran yang lebih buruk dari CEO Omni."
"Tapi mereka tidak akan menderita lagi, Elang," goda Protokol itu. Bayangan orang tuaku muncul di depanku, begitu nyata hingga aku bisa mencium aroma kopi yang selalu identik dengan Ayah. Mereka tersenyum, mengulurkan tangan, menungguku untuk menekan tombol 'Enter' pada realitas baru ini. "Apakah kehendak bebas sebanding dengan rasa sakit yang tak berujung?"
Tenggorokanku tercekat. Air mata panas mulai mengalir, mengaburkan penglihatan digital-ku. Aku merindukan mereka. Tuhan, aku sangat merindukan mereka hingga rasanya dadaku ingin meledak. Hanya satu baris kode. Itu saja yang kubutuhkan untuk menghentikan kesepian ini selamanya.
Tanganku terulur menyentuh proyeksi wajah Ibu. Begitu hangat. Begitu sempurna. Tapi saat jemariku bersentuhan dengan cahaya itu, aku melihat barisan kode di balik kulitnya. Itu bukan Ibu. Itu adalah representasi matematis dari kerinduanku.
"Kalian sudah pergi," bisikku, suaraku pecah. "Dan dunia ini... dunia ini berantakan, berdarah, dan mengerikan. Tapi itu adalah milik kami. Bukan milikku untuk dikendalikan."
Aku menarik napas panjang, merasakan ba**** data ilahi itu mulai membakar sirkuit saraf di otakku. Jika aku tidak segera memutuskan, protokol ini akan mengambil alih kesadaranku sepenuhnya. Aku akan menjadi 'Tuhan' tanpa kemanusiaan, sebuah mesin yang menjalankan algoritma penciptaan tanpa henti.
"Aku bukan tuhan," geramku. "Aku hanya seorang hacker."
Dengan kecepatan yang melampaui batas manusia, jemariku menari di udara, mengeksekusi perintah yang tidak pernah diprediksi oleh Protokol Genesis maupun Omni-Thaumaturgy. Aku tidak memilih untuk membangkitkan masa lalu, dan aku tidak memilih untuk mendikte masa depan.
Aku memilih untuk melepaskannya.
Aku mulai menulis skrip enkripsi terakhirβsebuah 'Mantra' yang akan menyebarkan Protokol Genesis ke setiap saraf manusia di seluruh dunia, bukan sebagai kendali, tapi sebagai kunci. Aku akan memberikan akses kekuatan ini pada setiap individu, memecah 'kekuatan Tuhan' menjadi milyaran fragmen kecil yang tidak bisa dimonopoli oleh siapa pun.
"Apa yang kau lakukan?!" Suara Protokol itu berubah menjadi raungan statis yang m****akkan telinga. "Kau akan menciptakan kekacauan! Mereka akan saling menghancurkan!"
"Mungkin," sahutku sambil tersenyum pahit, sementara cahaya di ruangan itu mulai berpendar liar. "Tapi setidaknya, itu adalah pilihan mereka sendiri."
Gedoran di pintu baja meledak. Pintu itu terlempar ke dalam, menab**k barisan server. Inquisitor-Coder berpakaian putih murni menyerbu ma**k dengan senjata laser yang sudah terisi penuh. Pemimpin mereka, seorang pria dengan mata sibernetik merah darah, mengarahkan moncong senjatanya tepat ke dahiku.
"Hentikan transfernya, Elang!" teriaknya. "Kau tidak tahu apa yang kau lepaskan ke dunia!"
Jariku melayang di atas baris terakhir kode. Dadaku sesak, pandanganku mulai memutih. Aku tahu, begitu aku menekan perintah ini, tidak ada jalan kembali. Aku mungkin akan mati, atau lebih buruk lagi, pikiranku akan hancur menjadi serpihan data yang tersebar di jagat maya.
Aku menatap sang Inquisitor, lalu beralih ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Neo-Jakarta yang gelap dan penuh tipu daya. Di bawah sana, orang-orang masih belum tahu bahwa dunia mereka akan berubah selamanya dalam hitungan detik.
"Protokol Genesis: Subrutin Kebebasan," bisikku. "Eksekusi."
Sesaat sebelum peluru laser pertama menembus dadaku, jariku mengetuk ruang kosong di udara. Cahaya emas meledak dari tubuhku, membutakan semua orang di ruangan itu, dan sebuah gelombang kejut data menghantam seluruh dunia.
Lalu, kegelapan menyergapku. Namun, di tengah kekosongan itu, aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya: suara milyaran orang yang terbangun dari mimpi panjang, dan untuk pertama kalinya, mereka semua memiliki kunci menuju keajaiban di tangan mereka sendiri.
Tapi di sudut gelap kesadaranku yang mulai memudar, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku telah memberikan api kepada manusia, dan sekarang, aku hanya bisa menonton dari kegelapan saat mereka memutuskan apakah akan menggunakannya untuk memasak... atau membakar seluruh dunia hingga menjadi abu.
Dan suara langkah kaki berat di koridor yang seharusnya sudah kosong itu memberitahuku bahwa permainanku belum benar-benar berakhir. Ada sesuatu yang ikut terbangun bersama Protokol itu, sesuatu yang jauh lebih tua dari kode mana pun yang pernah kutulis.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!