Rasa dingin yang merambat di sepanjang saraf tulang belakangku bukan lagi berasal dari pendingin ruangan di kapsul server ini. Itu adalah rasa dingin yang mutlak—kekosongan yang menganga dari Protokol Genesis yang berdenyut di dalam lobus parietalku. Di hadapanku, di dalam lapisan terdalam Cyberspace yang menyerupai katedral cahaya putih, Arsitektur Utama dunia berdiri tegak. Jutaan baris Ether-Code mengalir seperti air terjun emas, membentuk unt**an realitas yang menopang Neo-Jakarta, menopang nafas setiap manusia, dan menopang kebohongan yang dibangun oleh Omni-Thaumaturgy Corp.
Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi karena beban data yang hampir meledakkan sinapsis sarafku.
"Elang, kau g***! Jika kau menghapusnya, tidak akan ada jalan kembali!" Suara tumpang tindih dari Inquisitor-Coder milik Omni bergema di ruang hampa ini. Mereka belum bisa menyentuhku di sini, terhalang oleh firewall yang kubangun dari sisa-sisa kewarasanku sendiri.
"Itu poinnya," gumamku, suaraku terdengar asing, seperti ribuan frekuensi yang disatukan. "Dunia ini sudah rusak sejak baris pertama kodenya ditulis. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang admin yang baik."
Aku mulai mengetik. Jari-jari virtualku bergerak secepat kilat, menciptakan riak-riak distorsi di udara digital.
`[SUDO: EXECUTE_GENESIS_OVERRIDE]`
`[TARGET: ALL_EXISTING_PHYSICS_SUBROUTINES]`
`[ACTION: FORMAT C: /FS:VOID]`
Layar di depan mataku berkedip merah darah. Peringatan sistem muncul bertubi-tubi, namun aku mengabaikannya. Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang kesadaranku. Di dunia nyata, tubuhku mungkin sedang terlempar ke dinding. Omni-Thaumaturgy tidak lagi mencoba meretas gerbangku; mereka mencoba menghancurkan gerbangnya secara fisik.
"Peringatan: Integritas Struktural Satelit 0.8%," suara AI datar menyusup ke dalam pikiranku. "Serangan rudal orbital terdeteksi."
"Cepatlah, ba******..." desisiku. Keringat dingin mengucur di pelipisku di dunia nyata, sementara di sini, wujud digital-ku mulai retak, memperlihatkan cahaya putih menyilaukan dari balik kulit kodingku.
Dunia di sekitarku mulai berkedip. Di bawah sana, Neo-Jakarta yang kumuh mulai kehilangan teksturnya. Gedung-gedung pencakar langit yang bersinar neon terlihat seperti kawat-kawat kerangka yang te*******. Orang-orang di jalanan mungkin mulai melihat langit yang berganti warna dari hitam polusi menjadi biru statis yang mengerikan. Sihir yang menggerakkan kota ini—Ether-Code yang membuat lampu menyala dan mobil terbang—mulai terurai menjadi angka nol dan satu yang tak berarti.
"Berhenti!" teriak sebuah proyeksi raksasa. Wajah CEO Omni-Thaumaturgy muncul di cakrawala digital, matanya memancarkan amarah yang bisa menghanguskan server. "Kau menghancurkan puncak evolusi manusia, Elang! Kau hanya seekor tikus got yang tidak mengerti nilai dari dewa yang kau bunuh!"
"Aku lebih suka menjadi tikus yang bebas daripada dewa yang terpenjara dalam skripmu," jawabku pendek.
Jari terakhirku menekan tombol 'Enter' virtual dengan tenaga yang tersisa.
`[FORMATTING SYSTEM DRIVE... 1%]`
Ledakan pertama menghantam satelit. Aku merasakan sakit yang tak terbayangkan saat modul memori di dekat tubuh fisikku hancur. Sensasinya seperti lenganku diputus paksa. Aku terbatuk, dan cairan hitam—darah yang bercampur dengan nanit cair—keluar dari mulutku di dunia nyata.
`[FORMATTING SYSTEM DRIVE... 15%]`
Satelit ini mulai miring, tertarik oleh gravitasi bumi. Aku bisa merasakan gesekan atmosfer mulai membakar cangkang logam tempat tubuhku berada. Di dalam Cyberspace, katedral cahaya itu mulai runtuh. Balok-balok logika besar berjatuhan, menghancurkan baris-baris kode sihir yang selama ini disembah manusia sebagai keajaiban.
"Kau akan mati bersama kami!" suara CEO itu melemah, terdistorsi oleh hilangnya sinyal.
"Aku sudah mati sejak aku mengunduh protokol ini," bisikku. Mata perihku menatap persentase yang merayap naik.
32%... 45%... 60%...
Realitas menjadi semakin cair. Aku melihat kenangan-kenanganku sendiri mulai ikut terhapus. Wajah ibuku, rasa kopi pahit di gang sempit, sensasi dingin hujan Neo-Jakarta—semuanya mulai berubah menjadi string hexadesimal yang dingin. Ketakutan terbesarku menjadi nyata: aku kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Aku bukan lagi Elang. Aku adalah proses 'Format' itu sendiri.
Tiba-tiba, suara alarm di dalam kapsulku berubah menjadi jeritan statis yang m****akkan telinga. Satelit itu meledak sebagian. Oksigen mulai tersedot keluar. Paru-paruku terasa seperti ditarik dari dalam. Namun, kesadaranku tetap terkunci pada baris progres di depanku.
88%... 92%...
Satu serangan terakhir menghantam tepat di jantung ruang server. Aku merasakan tubuh fisikku terlempar ke ruang hampa udara, terikat hanya oleh kabel neural yang tipis. Di atas sana, bumi terlihat begitu indah, biru dan rapuh, tanpa lapisan cahaya magis yang biasanya menyelimutinya.
`[FORMATTING SYSTEM DRIVE... 99%]`
Angka itu berhenti. Berkedip.
`[ERROR: DATA_CORRUPTION_DETECTED_IN_SECTOR_0]`
Jantungku seolah berhenti berdetak. Tidak. Tidak sekarang. Aku menatap sisa-sisa koding di depanku dengan mata yang mulai kabur. Ada satu bagian dari Protokol Genesis yang menolak untuk dihapus. Sebuah 'kernel' yang keras dan bersinar gelap di pusat segalanya. Itu adalah kesadaranku sendiri. Aku adalah bagian dari sistem yang ingin kuhapus.
"Untuk menyelesaikan format ini," suara Protokol Genesis berbisik di dalam kepalaku, terdengar seperti suaraku sendiri tapi jauh lebih kuno, "kau harus menghapus dirimu sendiri sepenuhnya dari sejarah."
Aku melihat jari gemetarku berada di atas perintah terakhir: `[DELETE_SELF]`.
Di luar sana, satelit Omni-Thaumaturgy meledak sepenuhnya, berubah menjadi bola api yang jatuh menuju atmosfer Neo-Jakarta seperti bintang jatuh yang membawa kiamat. Aku punya waktu tiga detik sebelum otakku terpanggang oleh panasnya atmosfer atau meledak karena tekanan ruang angkasa.
Tanganku ragu. Jika aku menghapus diriku, siapa yang akan mengingat bahwa dunia ini pernah bebas? Tapi jika aku tetap ada, maka Protokol Genesis akan tetap hidup, dan Omni-Thaumaturgy—atau siapa pun yang menemukan puing-puingku—akan memulai semua keg***an ini lagi.
Aku memejamkan mata, merasakan hembusan terakhir oksigen di paru-paruku, dan menggerakkan perintah terakhir itu. Namun, tepat sebelum jariku menyentuh eksekusi akhir, sebuah interupsi muncul di layarku. Bukan dari Omni, bukan dari sistem.
Itu adalah sebuah pesan singkat dari sumber yang tidak dikenal, tertulis dalam bahasa koding kuno yang seharusnya sudah punah.
`[TIDAK SEMUANYA HARUS DIHAPUS, ELANG. ADA CADANGAN.]`
Dan tepat saat itu, dunia berubah menjadi putih total.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!