Hacker Mantra: Protokol Genesis

Bab 2: Bab 2 - Melarikan diri dari apartemennya setelah menyad...

Pengaturan Membaca

Dunia di balik kelopak mataku meledak dalam spektrum warna yang belum pernah ditemukan manusia. Saraf-saraf di pangkal tengkorakku berdenyut, mengirimkan gelombang panas yang terasa seolah seseorang baru saja menuangkan timah cair ke dalam *neural-link* milikku. Aku tersedak, memuntahkan rasa pahit empedu ke lant** apartemenku yang berdebu.

"Sial... apa yang baru saja kuketik?" bisikku, suaraku parau.

Di layar monitor hologram yang retak, barisan kode itu tidak lagi berwarna hijau neon standar. Mereka berpendar dengan cahaya putih yang begitu murni hingga menyakitkan mata. *Protokol Genesis*. Baris-baris data itu tidak diam; mereka bergerak, bernapas, dan berbisik dalam bahasa yang tidak kupahami namun entah bagaimana terasa familiar di tingkat seluler.

Tanganku gemetar saat mencoba menyentuh papan tik virtual. Biasanya, aku bisa mengetik seratus baris kode dalam hitungan detik—aku adalah Elang, hantu di balik jaringan bawah tanah Neo-Jakarta. Tapi sekarang, jemariku terasa kaku, asing bagi tubuhku sendiri.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah darah berkedip di seluruh sudut penglihatanku.

**[WARNING: TRACE DETECTED. OMNI-THAUMATURGY UPLINK ESTABLISHED. INQUISITION PROTOCOL ACTIVATED.]**

Jantungku mencelos. Aku tidak punya waktu lima menit. Aku bahkan mungkin tidak punya tiga puluh detik.

"Jangan sekarang, jangan sekarang," gumamku sambil menyambar jaket lusuhku dan sebuah dek saku portabel.

Aku menoleh ke arah jendela. Di luar, langit Neo-Jakarta yang selamanya tertutup kabut polusi dan iklan hologram raksasa mendadak berubah warna. Kilatan cahaya biru dari mesin *gravity-drive* membelah kegelapan. Tiga—tidak, lima kapal patroli ramping milik Omni-Thaumaturgy Corp meluncur turun dari lapisan awan atas, moncong meriam elektromagnetik mereka mengarah tepat ke unit apartemenku di lant** 42.

*B**k!*

Pintu apartemenku tidak didob**k secara fisik. Pintu itu *terurai*. Secara harfiah. Partikel kayunya hancur menjadi serpihan data digital yang berpendar sebelum menghilang menjadi abu. Di ambang pintu, berdiri tiga sosok yang tampak seperti malaikat maut dari masa depan. Jubah putih bersih mereka kontras dengan zirah krom yang melindungi tubuh. Wajah mereka tertutup topeng sensorik tanpa ekspresi. *Inquisitor-Coder*.

"Subjek 7-Elang," suara salah satu dari mereka bergema, bukan di telingaku, tapi langsung di dalam kepalaku melalui frekuensi *neural*. "Serahkan Protokol Genesis secara sukarela, atau kami akan memanennya langsung dari korteks sereb**lmu."

"Kalian terlambat untuk ajakan minum teh, kawan," sahutku, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku.

Aku menekan satu tombol di dek sakuku—sebuah skrip darurat yang seharusnya meledakkan pipa gas di dinding. Namun, saat jariku menyentuh tombol itu, sesuatu yang aneh terjadi. Aku tidak melihat kode ledakan. Aku *melihat* molekul gas di dalam pipa. Aku melihat atom-atomnya. Dan aku merasakan dorongan aneh untuk mengubahnya.

Tanpa sadar, pikiranku membisikkan sebuah perintah yang tidak pernah kupelajari. *Mutate.*

Bukan api yang keluar dari pipa gas di belakang para Inquisitor itu, melainkan ribuan kelopak bunga mawar hitam yang terbuat dari kristal tajam. Mereka melesat keluar dengan kecepatan peluru, menghantam perisai energi para Inquisitor dengan denting logam yang m****akkan telinga.

Para Inquisitor itu tampak tertegun sejenak—sama terkejutnya denganku. Itulah kesempatanku.

"Apa yang...?" aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku sendiri. Kepalaku terasa seperti dihantam palu godam. Informasi tentang hukum termodinamika dan penciptaan materi memba****i kesadaranku. Aku bisa merasakan apartemen ini, setiap debu di udara, setiap kabel di dinding, seolah-olah mereka adalah perpanjangan dari sarafku.

Aku berlari menuju balkon, sementara salah satu Inquisitor mulai merapal kode serangan. Tangannya bergerak cepat di udara, merangkai geometri cahaya yang membentuk tombak energi.

"Hentikan dia!" teriak Inquisitor yang di tengah.

Tombak itu melesat. Aku tidak sempat menghindar. Secara insting, aku mengangkat tangan, membayangkan sebuah dinding. Tapi bukan dinding beton yang muncul, melainkan ruang di depanku yang melengkung. Udara memadat, menciptakan distorsi gravitasi yang menangkap tombak itu dan membelokkannya ke arah langit-langit hingga meledak.

Dampaknya melemparkanku ke luar balkon. Aku terjatuh.

Angin kencang Neo-Jakarta menghantam wajahku. Di bawah sana, ribuan lampu jalanan dan kendaraan terbang tampak seperti lautan cahaya yang akan menelanku. Aku akan mati. Seorang hacker yang baru saja mencuri kunci alam semesta, tewas karena gravitasi konyol.

*Tidak. Gravitasi hanyalah sebuah saran,* sebuah suara asing bergema di benakku. Itu bukan suaraku. Itu adalah suara dari dalam Protokol Genesis.

Aku memejamkan mata, memaksakan kehendakku pada udara yang kosong. Aku mencoba 'mengetik' perintah di dalam pikiranku, merobek lapisan realitas yang membosankan ini. *[Execute: Density_Shift]*

Tepat sebelum tubuhku menghantam atap sebuah truk kargo yang melintas di bawah, molekul udara di bawah punggungku mengental, menjadi seringan bantalan udara yang mustahil. Aku mendarat dengan dentuman keras, namun tulang-tulangku tidak hancur.

Aku terengah-engah, berbaring di atas atap logam truk yang bergerak cepat menjauhi gedung apartemenku. Darah segar mengalir dari hidungku, menetes ke jaket. Setiap kali aku menggunakan kekuatan itu, aku merasa ada bagian dari ingatan masa kecilku yang memudar, digantikan oleh baris-baris kode yang dingin dan tak terbatas.

Aku menatap tanganku yang masih gemetar. Di sela-sela jariku, sisa-sisa cahaya putih dari Protokol itu masih berpendar redup.

Di kejauhan, kapal-kapal patroli Omni-Thaumaturgy berputar balik, lampu-lampu pencari mereka menyapu jalanan seperti mata dewa yang murka. Mereka tidak akan berhenti. Aku telah mencuri api dari surga mereka, dan sekarang seluruh dunia akan mencoba membakarku karenanya.

Yang lebih menakutkan bukanlah para Inquisitor itu. Yang membuatku merinding adalah kenyataan bahwa saat ini, aku tidak lagi merasa seperti Elang. Aku merasa seperti sebuah program yang baru saja diaktifkan. Dan program itu punya tujuan yang sangat, sangat mengerikan.

Aku harus menghilang sebelum pikiran ini bukan lagi milikku. Namun, saat aku mencoba berdiri, sebuah pesan teks muncul di layar mataku, dikirim dari pengirim anonim melalui jalur komunikasi yang seharusnya mustahil ditembus.

*“Jangan biarkan mereka mengambilnya, Elang. Atau hari esok tidak akan pernah ada lagi. Temui aku di Sektor Zero.”*

Aku menoleh ke belakang. Sebuah drone pengint** Inquisitor baru saja menemukanku, lensanya mengunci tepat di pupil mataku.

"Oke," bisikku pada kegelapan. "Ayo kita lihat seberapa jauh kode ini bisa membawaku."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca