Mataku terbuka, tapi tidak ada deretan *log* aktivitas yang bergulir di sudut penglihatan. Tidak ada *ping* frekuensi tinggi yang biasanya berdenyut di belakang pelipisku. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti keabadian, kepalaku terasa... ringan. Terlalu ringan hingga membuatku mual.
Aku menarik napas panjang. Paru-paruku terasa berat, berdenyut karena udara yang tidak lagi disaring oleh nanobot pemurni udara yang dikendalikan Ether-Code. Ada aroma debu, sisa hujan semalam, dan bau apek ka**r tua yang menusuk hidung. Ini adalah sensasi fisik yang jujur, tanpa manipulasi sensorik dari sistem saraf pusat.
Aku mencoba menggerakkan jemariku. Biasanya, c**up dengan satu jentikan pikiran, aku bisa merasakan aliran listrik di dinding kamar ini, memerintahkan lampu untuk menyala atau mematikan kunci magnetik pintu. Namun sekarang, saat aku mencoba memanggil 'Protokol Genesis', hanya ada keheningan. Kosong.
Hukum fisika telah kembali ke takhtanya yang kaku. Gravitasi terasa lebih kejam, dan waktu tidak lagi terasa seperti barisan kode yang bisa kuperlambat. Aku bangkit dari tempat tidur, kakiku menyentuh lant** beton yang dingin. Rasa dingin itu nyata, tidak ada kompensasi termal otomatis dari *implants*.
Aku berjalan menuju jendela dan menyingkap tirai yang sudah berjamur. Neo-Jakarta di bawah sana tampak asing. Lampu-lampu neon yang biasanya berpendar dengan cahaya magis yang menentang spektrum warna kini redup. Beberapa gedung pencakar langit Omni-Thaumaturgy Corp tampak gelap total, puncaknya yang dulu selalu diselimuti awan data kini te******* di bawah langit pagi yang kelabu.
Di jalanan, kekacauan terjadi dengan cara yang lambat. Aku melihat sebuah taksi terbang yang terpuruk di atas trotoarβmesin levitasinya pasti mati saat sistem Ether-Code runtuh. Orang-orang keluar ke jalan, wajah mereka pucat dan penuh kebingungan. Mereka memandangi pergelangan tangan mereka, mengetuk-ngetuk *neural-link* yang kini hanya menjadi sepotong logam mati yang tertanam di kulit.
"Sial," gumamku. Suaraku parau, terasa kasar di tenggorokan yang kering. "Semua orang harus belajar berjalan lagi."
Aku mengambil sebuah tablet tua dari atas meja. Ini adalah teknologi kuno, menggunakan layar kristal cair dan baterai kimia, bukan pasokan energi nirkabel dari server pusat. Layarnya retak, tapi saat aku menekannya, benda itu menyala dengan lambat. Tidak ada sihir di sini. Hanya aliran elektron yang membosankan melalui kabel tembaga dan silikon.
Aku mengetikkan beberapa baris perintah. Jariku terasa kaku. Kecepatan *speed-coding* yang dulu menjadi kebanggaanku kini dibatasi oleh kecepatan otot dan sinapsis biologis yang lamban. Aku tidak lagi berkomunikasi dengan cahaya; aku berkomunikasi dengan plastik dan logam.
Dunia sedang berteriak. Melalui jaringan internet publik yang masih berfungsi secara primitif, aku melihat forum-forum dipenuhi dengan kepanikan. *Keajaiban telah hilang,* kata mereka. *Dewa telah meninggalkan kita.*
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum pahit yang tidak terlihat oleh siapa pun. Dewa tidak meninggalkan mereka. Aku yang mengusir 'Dewa' itu karena dia mulai memakan kewarasanku.
Aku mengenakan jaket *hoodie* hitamku yang sudah lusuh, menarik tudungnya rendah-rendah untuk menutupi wajah. Aku harus keluar. Aku perlu melihat apa yang tersisa dari dunia yang kubongkar paksa ini.
Saat aku menuruni tangga manualβkarena lift tentu saja sudah menjadi peti mati logam yang tak bergunaβaku berpapasan dengan seorang tetangga, seorang pria tua yang biasanya menggunakan sihir alkimia kecil untuk memanaskan kopinya. Dia sedang duduk di anak tangga, memegang korek api gas dengan tangan gemetar, mencoba menyulut sebatang rokok.
"Anak muda," panggilnya, suaranya gemetar. "Kau merasakannya? Kekuatannya... semuanya hilang. Aku tidak bisa merasakan 'aliran' itu lagi."
Aku berhenti sejenak, memandangi api kecil di ujung koreknya. Api itu bergoyang tertiup angin, lemah namun nyata. "Itu memang seharusnya tidak ada sejak awal, Kek," kataku datar. "Kita hanya kembali menjadi manusia."
Dia menatapku dengan mata keruh, tidak mengerti. Aku terus berjalan, keluar ke udara terbuka yang pengap.
Di sebuah persimpangan, aku melihat kerumunan orang berkumpul di depan sebuah monolit iklan yang mati. Seseorang telah mencoretkan grafiti besar di sana dengan cat semprot merah: *DIMANA SANG ARSITEK?*
Nama itu membuat perutku mulas. Arsitek. Legenda baru yang konon telah menghancurkan surga digital untuk menyelamatkan bumi, atau menghancurkan dunia untuk memuaskan dendamnya. Spekulasi tentang siapa yang melepaskan Protokol Genesis dan kemudian menghapusnya telah menjadi mitos urban hanya dalam hitungan jam. Mereka mencariku, entah untuk memuja atau menyalibku.
Aku berjalan melewati mereka, menyelinap di antara bahu-bahu manusia yang kini terasa begitu padat dan nyata. Tidak ada lagi koneksi pikiran ke pikiran. Kita semua kembali terisolasi di dalam tempurung kepala masing-masing. Kesunyian ini menakutkan, tapi sekaligus membebaskan.
Aku sampai di sebuah kafe kecil di sudut gang yang menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel tua. Di pojok ruangan, sebuah terminal komputer kuno berkedip hijau. Aku duduk di sana, memesan kopi hitam pahit yang harganya mendadak melonjak karena kelangkaan sistem logistik.
Tanganku bergerak di atas *keyboard* mekanis yang berisik. Aku ma**k ke lapisan terdalam jaringan sisa yang belum runtuh. Di sana, di antara ribuan baris kode sampah dan sisa-sisa data korporasi yang hancur, aku meninggalkan sebuah jejak kecil. Bukan Protokol Genesis, bukan pula mantra sihir. Hanya sebuah skrip sederhana yang berjalan secara mandiri, sebuah pintu belakang yang hanya bisa dibuka oleh logika sains murni, bukan iman pada teknologi magis.
Aku mematikan terminal itu sebelum lokasiku bisa dilacak oleh sisa-sisa Inquisitor-Coder yang mungkin masih memiliki perangkat keras mandiri.
Saat aku hendak beranjak, sebuah getaran aneh terasa di saku celanaku. Aku merogohnya dan mengeluarkan sebuah keping data (data-chip) perak yang seharusnya sudah kosong setelah aku melakukan *format* total pada realitas.
Keping itu bersinar redup. Warna emasnya tidak berasal dari listrik, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Di permukaannya, muncul sebuah baris teks kecil yang berpendar, seolah-olah ditulis oleh tangan yang tak terlihat.
*Input diterima. Inisialisasi Protokol Wahyu: 0.01%.*
Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mengucur di punggungku. Aku sudah menghapusnya. Aku yakin sudah membuang kekuatan itu ke dalam ketiadaan. Namun, teks itu terus berkedip, sebuah janji atau mungkin kutukan yang menolak untuk mati.
Suara langkah sepatu bot militer terdengar di luar kafe. Berat dan berirama. Itu bukan langkah orang sipil yang bingung. Itu adalah langkah orang-orang yang masih memiliki tujuanβdan mungkin, masih memiliki senjata yang berfungsi.
Aku menatap keping data itu, lalu menatap pintu keluar. Pelarian ini belum berakhir. Dunia mungkin sudah berubah, tapi hantu-hantu dari masa lalu sepertinya menolak untuk melepaskanku begitu saja. Dan kali ini, aku tidak punya keajaiban untuk melindungi diriku.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!