Hujan asam memba**h sisa-sisa jelaga di atas jaket kulit sintetisku, tapi sensasi dinginnya tidak mampu meredam panas yang berdenyut di balik tempurung kepalaku. Setiap kali jantungku berdetak, ada hantaman ritmis yang seolah ingin membelah tengkorakku dari dalam. Aku melangkah terseok-seok menyusuri lorong sempit di Distrik Glodok-Bawah, tempat di mana kabel-kabel serat optik bergelantungan rendah seperti usus robot yang terburai.
Aku harus sampai ke Null-Sector. Itu satu-satunya tempat di Neo-Jakarta di mana sinyal pelacak milik Omni-Thaumaturgy akan tertelan oleh derau elektromagnetik dari mesin-mesin tua.
"Sial," desisku sambil menyandarkan bahu ke dinding beton yang lembap.
Saat itulah, serangan itu datang lagi.
Awalnya hanya berupa distorsi kecil, seperti layar monitor yang berkedip. Namun, sedetik kemudian, realitas di depanku mulai mengelupas. Aku tidak lagi melihat dinding beton yang penuh coretan grafiti neon. Alih-alih, mataku menangkap ribuan baris perintah *hexadecimal* yang mengalir deras, menyusun struktur molekul semen dan debu. Pipa air di atas kepalaku bukan lagi logam berkarat, melainkan rangkaian variabel `[Flow_Rate: 0.8L/s; Integrity: 34%]` yang berpendar keemasan.
Duniaku berubah menjadi kerangka data.
Aku memejamkan mata erat-erat, meremas pangkal hidungku hingga sakit, tapi kode-kode itu tetap terpampang di balik kelopak mataku. Protokol Genesis tidak hanya bersarang di dalam perangkat sarafku; dia sedang menyatu dengan saraf optikku. Dia memaksaku melihat cetak biru penciptaan.
"Berhenti... tolong, berhenti," bisikku parau. Rasa mual melonjak ke kerongkongan. Melihat 'kode' di balik benda fisik terasa seperti dipaksa membaca jutaan buku secara bersamaan dalam satu detik. Otakku terasa seperti sirkuit yang kelebihan beban, hampir meleleh.
Dengan sisa tenaga, aku menyeret kakiku menuju sebuah pintu besi berat yang dijaga oleh dua pria bertubuh bongsor dengan lengan sibernetika model lama. Pintu itu adalah gerbang menuju Null-Sector.
"Identitas," geram salah satu penjaga. Suaranya terdengar seperti gesekan logam.
Aku mendongak, mencoba memfokuskan pandangan. Di mataku, wajah pria itu terfragmentasi. Aku bisa melihat *source code* dari implan matanyaβsebuah modul murah buatan pasar gelap dengan celah keamanan pada protokol *buffer*-nya. Aku bahkan bisa melihat detak jantungnya yang diatur oleh alat pacu jantung digital: `[BPM: 92; Status: Aggressive]`.
"Aku... aku ingin bertemu Bayan," kataku dengan suara bergetar.
Si penjaga menyipitkan mata, tangannya bergerak menuju tongkat listrik di pinggangnya. "Bayan tidak menerima tamu sampah jalanan sepertimu. Pergi sebelum aku membakar sirkuit otakmu."
Kepalaku semakin berdenyut hebat. Cahaya keemasan dari kode-kode di sekitarku semakin terang, menyilaukan, hampir membakar. Dalam kondisi setengah sadar, tanganku terangkat secara refleks. Jariku bergerak di udara, seolah sedang mengetik di atas *keyboard* tak kasat mata yang hanya bisa kulihat sendiri.
`[Command: Override_Security_Access_Level]`
`[Target: Gate_Guard_01_Neural_Link]`
`[Value: Grant_Pass]`
"Kau akan membiarkanku ma**k," suaraku terdengar asing bagi telingaku sendiriβdingin, datar, dan memiliki gema yang tidak alami.
Si penjaga membeku. Pupil matanya melebar, menampilkan pantulan kode-kode emas yang mengalir dari mataku. Tangannya yang tadi memegang tongkat listrik jatuh lunglai ke samping tubuh.
"Ma**k... silakan ma**k," gumamnya dengan nada monoton, seolah-olah dia hanyalah boneka yang talinya baru saja ditarik.
Temannya tampak bingung, tapi sebelum dia sempat bereaksi, aku sudah mendorong pintu besi itu dan ma**k ke dalam keriuhan Null-Sector.
Udara di dalam sini lebih berat, berbau minyak pelumas, keringat, dan ozon. Pasar gelap ini adalah labirin kios-kios yang menjual segala hal, mulai dari organ kloning ilegal hingga virus penghancur pangkalan data korporasi. Ribuan orang berlalu-lalang, dan bagiku, mereka semua adalah tumpukan data yang berjalan.
Setiap orang yang lewat menyisakan jejak metadata di udara. Aku melihat riwayat medis mereka, saldo kredit mereka yang menyedihkan, hingga rahasia enkripsi di ponsel mereka. Informasi ini memba****i kesadaranku tanpa henti. Aku memegang tepian meja sebuah kios yang menjual komponen robotik untuk menjaga keseimbangan.
"Nak, kau terlihat seperti orang yang baru saja menelan baterai nuklir," sebuah suara parau menyapa.
Aku menoleh. Seorang pria tua dengan satu mata mekanik yang berputar-putar sedang memperhatikanku dari balik tumpukan *motherboard* bekas. Namanya Bayan, informan paling licin di sektor ini.
"Bayan... aku butuh... *Faraday Cage*," suaraku tercekat. "Tempat yang kedap. Sekarang."
Bayan mengerutkan kening, mata mekaniknya berderik saat dia melakukan pemindaian singkat padaku. Tiba-tiba, dia tersentak mundur, hampir menjatuhkan tumpukan barang dagangannya.
"Demi Ether..." bisiknya, wajahnya mendadak pucat pasi. "Apa yang kau bawa di dalam kepalamu, Elang? Sinyalmu... sinyalmu tidak terlihat seperti manusia. Kau seperti... lubang hitam data."
"Tolong," aku mencengkeram kerah bajunya, napasku tersengal. "Matikan cahayanya, Bayan. Kode-kode ini... mereka tidak mau berhenti bicara."
Duniaku mulai memudar. Kode emas itu kini menelan seluruh bidang pandangku, menghapus bentuk fisik pasar gelap dan menggantinya dengan ruang hampa berisi barisan algoritma yang tak berujung. Aku merasa diriku mulai terurai, berubah menjadi partikel data yang melayang di samudera informasi.
Tepat sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku melihat sesuatu di kejauhan dalam visi kodeku. Sebuah garis merah yang tajam dan dingin sedang memotong aliran emas Protokol Genesis. Itu bukan bagian dari kodeku. Itu adalah jejak pelacakan aktif.
"Mereka sudah di sini," bisikku sebelum tubuhku menghantam lant** dingin, dan kegelapan digital menelan segalanya. Namun, bahkan dalam kegelapan itu, sebuah perintah baru muncul di depan mataku, ditulis dengan warna merah darah:
`[Alert: Inquisitor-Coder Detected within 500 meters. Protocol Genesis: Defensive Mode Initiated.]`
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!