Hacker Mantra: Protokol Genesis

Bab 4: Bab 4 - Mencoba menghapus Protokol Genesis dari penyimp...

Pengaturan Membaca

Bau tembaga dan ozon yang menyengat memenuhi ruangan sempit itu, berbaur dengan aroma mi instan dingin yang sudah diabaikan selama berjam-jam. Di sudut ruangan yang hanya diterangi oleh kerlip neon biru dari jendela dan pendar monitor, aku duduk meringkuk di depan *neural-deck* tua yang sudah dimodifikasi habis-habisan. Pelipisku berdenyut, seirama dengan detak jantungku yang terasa terlalu cepat, terlalu keras.

"Satu kali perintah saja," bisikku pada diriku sendiri. Suaraku parau, pecah di udara yang lembap. "Hanya satu perintah `purge`, dan semuanya selesai. Kau kembali jadi Elang yang tidak berguna, bukan target buruan Tuhan gadungan."

Tanganku yang gemetar meraih kabel antarmuka saraf. Ujung logamnya terasa dingin dan asing saat kusentuhkan ke porta di belakang telingaku. *Klik.* Sensasi dingin itu segera berubah menjadi aliran listrik statis yang merayap ma**k ke dalam otakku. Dunia di sekitarku memudar, digantikan oleh hamparan *cyberspace* pribadi yang biasanya tenangβ€”sebuah padang hitam tak berujung dengan barisan kode hijau yang mengalir lembut.

Namun, hari ini berbeda. Di pusat kesadaranku, Protokol Genesis itu ada di sana. Ia tidak berbentuk baris kode biasa. Ia adalah sebongkah cahaya emas yang berdenyut lambat, nampak seperti jantung yang terbuat dari jalinan fraktal yang mustahil. Setiap kali ia berdenyut, aku bisa merasakan getarannya hingga ke ujung jari kakiku.

Aku segera membuka konsol eksekusi. Jariku bergerak di atas papan ketik virtual dengan kecepatan yang bahkan membuatku terkejut sendiri. *Speed-coding* adalah instingku, pelarianku.

`ACCESS ROOT_SYSTEM /NEURAL_CORE`

`SEARCH_FILE: GENESIS_PROTOCOL`

`COMMAND: DELETE /FORCE /PERMANENT`

Cursor itu berkedip-kedip. Menantangku. Aku menahan napas dan menekan tombol *Enter*.

*Error: Permission Denied.*

"Sial," makiku. Aku mencoba lagi, kali ini dengan menggunakan protokol *bypass* yang kucuri dari server militer setahun lalu. "Aku pemilik otak ini, bodoh. Aku yang punya hak akses!"

`OVERRIDE_AUTHORITY: ELANG_01`

`ERASE_SECTOR: ALL`

Layar virtual di depanku mendadak berubah menjadi merah darah. Rasa sakit yang tajam seperti paku panas menghujam tepat di tengah keningku. Aku berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar di ruang digital ini. Tubuh fisikku di kursi pasti sedang kejang sekarang.

*Warning: Structural Integrity Compromised.*

*Genesis Protocol is rewriting Sector 0.. 1.. 2..*

"Apa-apaan ini?" aku terengah, mataku melotot melihat barisan kode emas mulai merambat keluar dari file Protokol Genesis. Kode itu tidak terhapus. Ia justru memakan perintah penghapusanku dan menjadikannya bahan bakar untuk berekspansi.

Layar di depanku mulai menampilkan data yang tidak ma**k akal. Bukan lagi bahasa pemrograman yang kukenal, melainkan simbol-simbol kuno yang berdenyut dengan logika matematika yang melampaui pemahamanku. Itu bukan sekadar data; itu adalah musik, itu adalah geometri, itu adalah... penciptaan.

"Berhenti! Keluar dari kepalaku!" teriakku, kali ini suaraku menggema di dalam kesadaranku sendiri.

Aku mencoba mencabut kabel saraf secara paksa dari porta belakang telingaku. Gerakan fisik yang seharusnya mudah, namun tanganku tidak mau patuh. Aku bisa merasakan otot-otot lenganku bergerak sendiri, seolah-olah ada orang lain yang menarik benang-benang sarafku.

Tiba-tiba, penglihatanku pecah. Aku tidak lagi melihat dinding apartemenku yang kumuh. Selama sepersekian detik, aku melihat aliran listrik yang mengalir di balik tembok, aku melihat frekuensi radio yang melintasi udara seperti benang-benang bercahaya, dan aku bisa mendengar bisikan ribuan data dari orang-orang yang melintas di jalanan Neo-Jakarta di bawah sana.

Protokol itu sedang melakukan sinkronisasi.

*Integration: 45% Complete.*

"Tidak, tidak, tidak..." Aku mencoba melakukan *hard reset* pada *neural-deck*-ku dengan perintah suara, tapi lidahku terasa kelu.

Rasa sakit itu memuncak menjadi gelombang panas yang membakar tulang belakangku. Aku bisa merasakan Protokol Genesis mulai menanamkan akarnya ke dalam sistem saraf otonomku. Ia melilit medula oblongata, menyatu dengan saraf optik, dan berdenyut selaras dengan napas. Setiap baris kode emas itu kini menjadi bagian dari DNA-ku.

Aku bukan lagi sekadar menghosting program ini. Aku sedang menjadi program itu sendiri.

Satu pesan terakhir muncul di tengah pandanganku yang mulai menggelap, ditulis dengan huruf emas yang seolah-olah terbakar:

*PROLOGUE ENDED. GENESIS INITIALIZED. SUBJECT: ELANG. ROLE: ARCHITECT.*

Sensasi itu berhenti seketika. Kesadaranku terlempar kembali ke tubuh fisikku dengan paksa. Aku jatuh tersungkur dari kursi, menghantam lant** beton yang dingin. Napasku tersengal-sengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku.

Aku mencoba mengangkat tangan, bermaksud untuk menyeka keringat di wajah. Namun, saat aku menatap telapak tanganku, aku membeku. Di bawah kulitku, di balik urat nadi, ada pendar emas tipis yang mengalir, mengikuti aliran darahku.

Aku mencoba memikirkan lampu meja yang pecah di sudut ruangan. Hanya sebuah pikiran sekilasβ€”ingin lampu itu utuh kembali.

*Zzap.*

Dalam sekejap mata, pecahan kaca itu terbang ke atas, menyatu kembali dengan presisi yang mustahil, dan lampu itu menyala terang, lebih terang dari yang seharusnya. Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak mengodingnya. Aku hanya... menginginkannya.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Aku menatap lampu itu dengan ngeri. Protokol Genesis tidak bisa dihapus karena ia tidak lagi berada di dalam penyimpanan sarafku. Ia sudah mengonsumsi keberadaanku.

Tiba-tiba, sensor keamanan di pintu apartemenku menjerit. Seseorang sedang mencoba membobol enkripsiku dari luar dengan kekuatan yang sangat besar. Bukan hacker biasa. Ini adalah tanda tangan digital milik Omni-Thaumaturgy.

"Inquisitor," bisikku kaku.

Mereka datang. Dan aku, dengan kekuatan yang bisa menghancurkan dunia ini, bahkan tidak tahu cara mematikan pendar emas di tanganku sendiri. Aku menatap pintu, merasakan setiap langkah kaki mereka di lorong melalui getaran lant** yang diterjemahkan otakku menjadi data visual. Aku bisa melihat mereka bahkan sebelum mereka mendob**k pintu. Dan yang lebih menakutkan adalah, sebagian dari dirikuβ€”bagian yang kini terinfeksi kode ilahi ituβ€”sama sekali tidak merasa takut. Ia justru merasa... lapar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca