Hujan asam di Neo-Jakarta selalu menyisakan rasa logam di lidah. Aku merapatkan kerah jaket sintetisku, mencoba mengabaikan denyut abnormal di pangkal tengkorakkuβsebuah simfoni statis yang hanya bisa kudengar sejak Protokol Genesis bersarang di dalam jaringan syarafku. Setiap kali aku berkedip, barisan kode emas berkedip di tepian penglihatanku, berusaha mendekonstruksi realitas di depanku menjadi variabel matematika murni.
Aku melangkah ma**k ke dalam "The Rusty Socket", sebuah bar bawah tanah di distrik Glodok yang lebih mirip tumpukan sampah sirkuit daripada tempat hiburan. Cahaya neon biru pucat memantul di genangan air berminyak di lant**. Di sudut ruangan, duduk seorang wanita dengan rambut dipangkas pendek asimetris, jemarinya lincah mengutak-atik sebuah dek dekripsi kuno.
Itu Aria. Mantan teknisi tingkat atas Omni-Thaumaturgy yang, menurut rumor di forum *dark web*, melarikan diri setelah menolak memasang modul kepatuhan pada otaknya sendiri.
"Kau terlambat tiga menit, Elang," sapa Aria tanpa mengangkat kepala. Suaranya serak, khas orang yang terlalu banyak menghirup polusi industri.
"Sirkuit kota sedang kacau. Inquisitor-Coder menutup jalur MRT di Sektor 7," balasku sambil menghempaskan diri di kursi plastik di depannya. Aku bisa merasakan keringat dingin mengucur. Kode di kepalaku mulai berbisik lagi, sebuah frekuensi tinggi yang membuat gigiku ngilu. "Bisa kita mulai? Aku merasa kepalaku akan meledak."
Aria mendongak. Matanya yang merupakan implan optik tipe militer berputar sedikit, melakukan pemindaian bio-metrik padaku. "Kau terlihat mengerikan. Seperti orang yang baru saja menelan matahari dan mencoba menahannya agar tidak bersendawa."
Dia mengeluarkan kabel serat optik dari balik lengan jaketnya. "Sambungkan. Aku ingin melihat apa yang membuat seluruh pa**kan elit Omni-Thaumaturgy berkeliaran di selokan kota mencari maling kecil sepertimu."
Aku ragu sejenak. Menyambungkan *neural-port* milikku dengan perangkat orang lain adalah risiko bunuh diri. Tapi denyut di kepalaku semakin menjadi. Aku menyerah, membuka penutup port di belakang telingaku dengan bunyi *klik* yang mekanis. Saat kabel itu ma**k, rasa dingin yang tajam menusuk sumsum tulang belakangku.
"Ma**k ke mode pasif, Elang. Jangan mencoba melakukan koding improvisasi saat aku di dalam," perintah Aria.
Aku memejamkan mata, membiarkan Aria mengakses lapisan terluar *firewall* pribadiku. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Biasanya, proses ini terasa seperti aliran data yang teratur. Kali ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda dari sisi Aria. Ada sebuah sub-rutin yang berjalan di latar belakang koneksinya. Sebuah protokol pengiriman sinyal jarak jauh yang tersembunyi di balik enkripsi berlapis.
Jantungku berdegup kencang. Aku membuka mata sedikit, melihat jari Aria yang lain bergerak samar di bawah meja, menekan sebuah transmiter komunikasi.
"Aria, apa yang kau lakukan?" tanyaku, suaraku rendah dan penuh ancaman.
"Hanya menstabilkan aliran datamu, tenanglah," jawabnya, namun matanya tidak menatapku. Ada kilatan rasa bersalahβatau mungkin ketakutanβdi sana.
Aku tidak menunggu. Aku menarik paksa kesadaranku kembali ke ruang digital, melakukan *speed-coding* di dalam pikiran yang bahkan belum pernah kucoba sebelumnya. Dalam hitungan milidetik, aku membedah jalur koneksi Aria. Di sana, tertulis sebuah alamat tujuan transmisi: *Server Pusat Omni-Thaumaturgy, Divisi Pengambilan Aset.*
"Kau menjualku," desis-ku. Tanganku mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. "Kau memanggil mereka ke sini untuk hadiah jutaan kredit, bukan?"
Aria tersentak, tangannya mencoba memutus koneksi, tapi Protokol Genesis di kepalaku bereaksi lebih cepat. Kode itu seolah memiliki kehendaknya sendiri. Tiba-tiba, udara di sekitar kami bergetar. Gelas-gelas di atas meja mulai retak, bukan karena benturan fisik, tapi karena hukum gravitasinya diubah secara paksa oleh pancaran Ether-Code dari tubuhku.
"Elang, tunggu! Kau tidak mengerti!" teriak Aria, wajahnya pucat pasi saat melihat data yang mulai mengalir ke layarnya. "Aku butuh uang itu untuk keluar dari kota ini, tapi... tapi apa ini?"
Aria terpaku. Matanya yang implan mulai mengeluarkan air mata darah karena beban data yang terlalu besar. Di layar monitornya, Protokol Genesis bukan lagi sekadar barisan angka. Itu adalah visualisasi dari struktur atom ruangan ini, yang mulai terurai menjadi partikel cahaya.
"Ini bukan kode koding biasa..." gumam Aria, suaranya gemetar hebat. "Ini... ini adalah bahasa penciptaan. Elang, jika kau melepaskan ini, kau tidak hanya meretas server, kau meretas realitas! Kau akan menghapus kita semua!"
Aku merasakan kekuatanku meluap, rasa tuhan yang memabukkan sekaligus mengerikan. Aku bisa melihat struktur molekul oksigen di udara, aku bisa mengubahnya menjadi emas atau menjadi racun hanya dengan satu perintah 'Execute'. Kewarasanku mulai terkikis, tertutup oleh ba**** data ilahi yang menuntut untuk dilepaskan.
"Hentikan!" Aria menerjang ke arahku, bukan untuk menyerang, tapi untuk mencabut paksa kabel manual dari deknya.
Ledakan energi statis melemparkan kami berdua ke lant**. Lampu-lampu di bar pecah seketika, menenggelamkan kami dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh sisa-sisa pendar emas dari kulitku.
Aria terengah-engah di lant**, menatap tangannya yang sedikit transparanβefek samping dari distorsi ruang yang baru saja terjadi. Dia menatapku dengan tatapan horor yang murni. "Aku tadinya berpikir kau hanyalah tiket keberuntunganku. Tapi benda di kepalamu itu... itu adalah kiamat yang terbungkus algoritma."
Di luar, suara bising mesin *hover-craft* milik Omni-Thaumaturgy mulai terdengar, merobek keheningan malam. Lampu sorot besar menyapu jendela bar, mencari target mereka.
Aria berdiri dengan susah payah, lalu menatap transmiter di tangannya yang baru saja dia hancurkan dengan injakan sepatu botnya. "Mereka sudah di sini. Dan jika mereka mendapatkan kode itu dari kepalamu, dunia ini bahkan tidak akan punya kesempatan untuk menyesal."
Dia mengulurkan tangan padaku, kali ini tanpa ada niat pengkhianatan di matanya. "Lupakan soal uangnya. Jika kita tidak pergi sekarang, kau akan menjadi tuhan dalam sangkar korporasi, Elang. Dan percayalah, kau tidak akan suka bagaimana cara mereka memanen pikiranmu."
Aku menatap tangannya, lalu menatap pintu depan yang mulai digedor oleh pa**kan Inquisitor-Coder. Kepalaku berdenyut lebih keras dari sebelumnya, dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa pelarian ini bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal mencegah dunia ini terhapus oleh tanganku sendiri.
"Ke mana kita pergi?" tanyaku singkat.
Aria menyeringai tipis, sebuah ekspresi nekat yang lahir dari keputusasaan. "Ke tempat di mana bahkan Tuhan pun tidak berani mengintip."
Pintu depan bar meledak menjadi serpihan baja tepat saat kami melompat ke saluran pembuangan di bawah lant**. Di atas sana, suara langkah sepatu bot berat bergema, diikuti oleh perintah dingin seorang Inquisitor: *"Tangkap subjek hidup-hidup. Jangan biarkan satu bit pun dari Protokol itu hilang."*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!