Bau besi berkarat dan ozon menyengat lubang hidungku, bercampur dengan aroma amis air pasang dari pelabuhan lama Neo-Jakarta. Di depanku, Aria terpojok di antara tumpukan kont**ner yang telah berlumut oleh polusi. Dua orang Inquisitor-Coder berdiri tegak dengan jubah sintetis mereka yang berkilau perak di bawah siraman lampu neon biru yang berkedip. Senjata mereka—pedang disruptor yang dialiri kode penghancur materi—mendengung rendah, menciptakan riak statis di udara yang lembap.
"Elang, lari!" Aria berteriak, suaranya parau. Darah segar mengalir dari pelipisnya, mengotori jaket kulitnya yang compang-camping.
Aku tidak lari. Jemariku gemetar di atas antarmuka saraf yang melayang di depan mataku, namun kode-kode standar yang kuketik terasa seperti mainan plastik di hadapan tank baja. Inquisitor itu bukan sekadar satpam korporat; mereka adalah algoritma berjalan. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, dan aku bisa melihat unt**an Ether-Code merah mulai menjalin serangan yang akan menghapus eksistensi Aria dalam hitungan detik.
*Lakukan, Elang. Gunakan aku.*
Suara itu bukan berasal dari telingaku. Suara itu bergema dari dasar tulang belakangku, dingin dan berwibawa. Protokol Genesis berdenyut di dalam pikiranku seperti jantung kedua yang haus akan pengakuan. Selama ini aku hanya mengintip melalui celah kuncinya, terlalu takut untuk memutar gagang pintunya. Namun melihat Aria yang gemetar, ketakutan itu terbakar habis oleh amarah yang dingin.
Aku memejamkan mata, bukan untuk menghindar, tapi untuk melihat.
Seketika, dunia yang kulihat berubah. Realitas di depanku terkelupas seperti cat lama, menyingkap jalinan benang cahaya keemasan yang membentuk segalanya—udara, besi, tetesan hujan, bahkan napas Aria. Inilah Ether-Code dalam bentuk murninya. Protokol Genesis memberiku hak akses administratif atas alam semesta ini.
Aku tidak lagi mengetik di keyboard virtual. Aku meraih udara, mencengkeram unt**an kode yang membentuk gravitasi di sekitar para Inquisitor itu.
"Hapus," bisikku.
Duniaku meledak dalam sensasi yang tak terlukiskan. Rasanya seperti menyiramkan nitrogen cair ke dalam otakku. Sakitnya luar biasa, seolah-olah setiap sel sarafku dipaksa untuk menampung volume data berukuran petabyte dalam satu detik. Di depan mataku, hukum fisika membengkok dengan cara yang mustahil. Gravitasi di titik tempat kedua Inquisitor itu berdiri mendadak berlipat ganda seribu kali lipat.
Lant** beton di bawah kaki mereka amblas seketika. Suara tulang yang retak tertutup oleh dentum logam kont**ner yang melengkung ke dalam, tertarik oleh pusat massa yang baru tercipta. Kedua Inquisitor itu bahkan tidak sempat berteriak; mereka terkompresi menjadi gumpalan materi padat seukuran bola basket dalam sekejap mata.
Lalu, keheningan total menyelimuti gang itu. Hanya suara rintik hujan yang kini jatuh lebih lambat, seolah-olah waktu sendiri enggan untuk kembali normal.
Aku jatuh berlutut. Kepalaku terasa seperti sedang dibelah oleh kapak panas. Sesuatu di dalam diriku... terhapus. Aku bisa merasakannya. Seperti file yang ditarik ke dalam *Recycle Bin* dan dihancurkan secara permanen.
"Elang!" Aria berlari ke arahku, kakinya tersandung-sandung. Dia mencengkeram bahuku, mengguncang tubuhku yang kaku. "Kau melakukannya... Tuhan, apa yang baru saja kau lakukan? Kau baik-baik saja?"
Aku menatapnya, tapi fokus mataku buram. Wajah Aria tampak familiar, namun ada lubang besar di ingatanku yang mulai melebar. Aku mencoba memikirkan sesuatu—apa pun untuk menambal rasa kosong ini.
"Siapa..." suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Siapa wanita yang biasa menyanyikan lagu tentang burung pipit saat aku tidur?"
Aria mengerutkan kening, matanya penuh kecemasan. "Apa? Elang, ini bukan saatnya bercanda. Kita harus pergi sekarang sebelum tim bantuan mereka datang."
Aku mencoba menggali lebih dalam. Aku tahu aku punya ibu. Aku tahu aku pernah tinggal di rumah kayu kecil sebelum pindah ke kumuhnya sektor bawah Neo-Jakarta. Tapi saat aku mencoba memanggil wajah ibuku, aku hanya menemukan statis putih yang dingin. Namanya, suaranya, warna matanya—semuanya lenyap. Seolah-olah Protokol Genesis baru saja membayar harga untuk kekuatan tadi dengan memakan potongan-potongan masa kecilku.
Aku mencoba mengingat ulang tahunku yang ke-sepuluh. Kosong.
Aku mencoba mengingat rasa masakan rumah pertama yang kumakan. Kosong.
"Aku lupa," gumamku, air mata mulai menggenang tanpa kusadari. "Aria, aku tidak tahu siapa aku sebelum aku menjadi peretas. Aku tidak ingat apa pun tentang masa kecilku."
Aria tertegun, tangannya yang masih memegang bahuku mulai gemetar. Dia melihat ke arah bola logam padat yang tadi adalah dua manusia, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang kini bercampur antara rasa terima kasih dan ketakutan yang mendalam. Dia menyadari, sama seperti aku, bahwa kekuatan ini bukan sekadar senjata. Ia adalah parasit yang memakan jati diriku.
"Kita akan cari tahu nanti," bisik Aria, menarik lenganku untuk berdiri. "Sekarang, kita harus lari. Kau baru saja membunuh dua perwira tinggi Omni-Thaum... mereka akan mengirimkan sesuatu yang jauh lebih buruk dari ini."
Aku berdiri dengan kaki lemas, mengikuti tarikan Aria. Namun saat kami berlari menembus tirai hujan, sebuah notifikasi merah berkedip di sudut mataku, tertanam langsung di retina sarafku.
*System Alert: Cognitive Sync 12%. Logic Overwriting in Progress. Memory Sector 0-12 Years: CORRUPTED.*
Sesuatu di dalam diriku berbisik lagi, lebih keras sekarang, dan kali ini suaranya terdengar persis seperti suaraku sendiri, namun tanpa emosi.
*Jangan takut, Elang. Data yang tidak relevan harus dihapus untuk memberi ruang bagi Protokol. Kita baru saja memulai.*
Aku menoleh ke belakang sekali lagi, dan untuk sesaat, aku melihat bayangan diriku sendiri di genangan air—tapi mataku tidak lagi berwarna cokelat. Mereka bersinar dengan cahaya keemasan yang dingin, persis seperti kode yang baru saja menghancurkan realitas. Aku bukan lagi sekadar hacker; aku menjadi sesuatu yang tidak lagi memiliki sejarah, hanya masa depan yang mengerikan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!