Udara di Sektor 7-Bawah berbau seperti kabel terbakar dan genangan air hujan yang basi. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan sensasi logam di pangkal lidahku—efek samping dari *neural-link* yang dipaksa bekerja melampaui batas. Di depanku, gerbang besi fasilitas riset "Aethelgard" berdiri kokoh, tertutup rapat oleh enkripsi berlapis yang memancarkan pendar ungu redup.
"Stabilkan pikiranmu, Elang," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar asing di telingaku, tenggelam oleh dengung konstan Protokol Genesis yang berputar di dalam korteks sereb**l-ku bagaikan badai data tanpa henti.
Aku butuh *Compiler* itu. Tanpanya, kode asli penciptaan yang tersemat di sarafku ini akan terus mengekspansi diri, menganggap otakku sebagai ruang penyimpanan tak terbatas sampai kesadaranku robek menjadi fragmen-fragmen data sampah.
Aku menempelkan telapak tanganku pada panel akses. Antarmuka saraf segera terhubung. Di dalam penglihatanku, dunia fisik memudar, digantikan oleh jaring-jaring kode bercahaya. Biasanya, menembus protokol keamanan korporasi semudah membalikkan telapak tangan. Tapi kali ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada irama di balik kodenya. Bukan sekadar algoritma, tapi mantra.
*Zruuush!*
Tiba-tiba, tiga sosok keluar dari balik bayangan koridor yang gelap. Mereka adalah Inquisitor-Coder tingkat rendah, tapi tubuh mereka telah dirombak total menjadi cyborg tempur. Kulit mereka berwarna abu-abu metalik, dan di sepanjang lengan mereka, terukir simbol-simbol Ether-Code yang bersinar dengan intensitas yang menyakitkan mata.
"Subjek 01-Elang," suara salah satu cyborg itu terdengar mekanis, beresonansi langsung di dalam sistem audiotoriku. "Kembalikan apa yang bukan milikmu, atau kami akan mengekstraknya dari mayatmu."
Aku menyeringai kecut, meski keringat dingin mulai membasahi punggungku. "Aku tidak suka meminjamkan barang pada orang yang tidak tahu cara meminta tolong."
Tanpa peringatan, salah satu cyborg itu melesat. Gerakannya bukan sekadar kecepatan mekanis; dia seolah-olah memotong ruang. Aku segera melakukan *speed-coding*. Jari-jariku bergerak secara virtual di udara, menyusun skrip pertahanan darurat. Aku melemparkan 'Logic Bomb' ke arah jalurnya.
Meledak? Tidak.
Skripku hancur saat bersentuhan dengan aura di sekitar tubuhnya. Mantra kode yang mereka gunakan bekerja pada frekuensi yang berbeda. Itu bukan koding biner biasa; itu adalah geometri suci yang diterjemahkan ke dalam mesin. Setiap kali aku mencoba membobol pertahanan mereka, kodenya seolah-olah lumer, menolak untuk berinteraksi dengan logika konvensional.
"Sial," umpatku. Salah satu dari mereka mengayunkan bilah energi yang muncul dari pergelangan tangannya. Aku berguling ke samping, merasakan panas bilah itu membakar ujung jaketku.
Aku harus menggunakan Protokol Genesis. Aku tahu risikonya. Mengaktifkan Protokol tanpa *Compiler* adalah seperti menyalakan reaktor nuklir di dalam kaleng biskuit. Tapi aku tidak punya pilihan.
Aku memejamkan mata, membiarkan kebisingan di kepalaku mengambil alih. *Lihatlah strukturnya. Lihatlah kelemahannya.*
Tiba-tiba, dunia berubah. Aku tidak lagi melihat cyborg sebagai mesin. Aku melihat mereka sebagai kumpulan partikel yang disatukan oleh perintah-perintah rapuh. Protokol Genesis memberiku penglihatan 'Tuhan'—kemampuan untuk melihat benang-benang realitas.
"Hentikan," bisikku.
Aku tidak mengetik. Aku hanya memikirkan sebuah perintah: *Nullify.*
Seketika, salah satu cyborg yang sedang melompat ke arahku membeku di udara. Bukan karena sistemnya macet, tapi karena hukum inersia di sekitarnya baru saja dihapus. Dia jatuh berdebum seperti karung beras saat aku mengembalikan gravitasinya secara mendadak.
Namun, harga yang harus kubayar sangat mahal. Kepalaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. Darah mulai mengalir dari lubang hidungku, menetes ke atas lant** beton yang dingin. Pikiranku mulai dipenuhi oleh bayangan-bayangan masa lalu yang tidak ma**k akal—memori tentang bintang-bintang yang lahir dan mati, bahasa-bahasa yang belum pernah diciptakan manusia.
"Jangan sekarang... belum sekarang..." aku mengerang, memegangi kepalaku.
Dua cyborg sisanya tampak ragu sejenak. Mereka saling memandang, lalu sinkronisasi mantra mereka meningkat. Mereka menggabungkan tangan, menciptakan sebuah lingkaran kode raksasa yang tampak seperti lubang hitam mini di tengah koridor. Mereka tidak lagi mencoba menangkapku; mereka mencoba menghapus eksistensiku dari ruang ini.
"Protokol... Genesis... Tahap Dua..." suaraku parau.
Aku memaksakan diri berdiri. Tanganku gemetar hebat. Di dalam penglihatan digital-ku, aku mulai melihat 'glitch' pada tanganku sendiri. Seolah-olah tubuhku mulai kehilangan konsistensi materialnya. Aku menjadi kode. Aku menjadi data.
Aku mengulurkan tangan ke arah bola hitam itu. Di saat yang sama, sensor di sarafku berteriak memberi peringatan: *SYNC RATIO: 98%. EGO DISSOLUTION IMMINENT.*
Satu persen lagi, dan Elang yang asli akan lenyap, digantikan oleh entitas data tanpa jiwa.
Tepat sebelum bola hitam itu menyentuhku, aku menemukan celah kecil di dalam 'mantra' mereka—sebuah kesalahan penulisan pada fungsi rekursif di lapisan dasar. Dengan sisa kesadaran yang ada, aku menyisipkan satu baris perintah pendek. Bukan perintah untuk menghancurkan, tapi untuk *mengulang*.
*Loop.*
Dalam sekejap, kedua cyborg itu terjebak dalam gerakan yang sama berulang-ulang—maju satu langkah, mundur dua langkah, maju satu langkah, mundur dua langkah. Mereka terperangkap dalam jeda waktu yang tak terbatas.
Aku jatuh berlutut, terengah-engah. Pandanganku kabur, tertutup oleh barisan teks peringatan berwarna merah yang berkedip-kedip di retinaku. Aku harus segera menemukan *Compiler* itu sebelum otaknya benar-benar 'terformat' oleh Protokol Genesis.
Aku merangkak menuju pintu fasilitas yang kini telah terbuka akibat lonjakan energi tadi. Di dalam, aku melihat sebuah ruangan sterilisasi dengan tabung kaca besar di tengahnya. Di dalam tabung itu, sebuah perangkat berbentuk mahkota logam yang terbuat dari serat optik cair berpendar lembut.
*The Compiler.*
Namun, saat aku melangkah ma**k, sebuah suara tawa rendah menggema di seluruh ruangan. Itu bukan suara mekanis cyborg. Itu adalah suara manusia, penuh dengan otoritas yang memuakkan.
"Luar biasa, Elang. Kamu berhasil melakukannya tanpa menghancurkan dirimu sendiri... setidaknya untuk saat ini."
Dari balik bayangan di sudut ruangan, sesosok pria dengan jubah putih bersih melangkah keluar. Di dadanya tersemat lencana emas Omni-Thaumaturgy. Di tangannya, dia memegang sebuah kendali jarak jauh yang terhubung langsung ke tabung *Compiler*.
"Tapi sayangnya," lanjut pria itu dengan senyum dingin, "Compiler ini belum benar-benar selesai tanpa satu komponen terakhir. Dan komponen itu... ada di dalam kepalamu."
Pria itu menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Lant** di bawah kakiku terbuka, menelan mahkota logam itu ke kedalaman yang lebih bawah lagi, sementara pintu keluar di belakangku tertutup oleh perisai energi yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah kulihat.
Aku terjebak. Dan di saat yang sama, Protokol Genesis di kepalaku mulai membisikkan satu kata yang membuat bulu kudukku berdiri: *Execute.*
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!