Dengung statis di dalam kepalaku mulai terdengar seperti simfoni yang rusak. Aku menyandarkan punggung di kursi usang yang busanya sudah mencuat keluar, mengabaikan bau apek dari mi instan cup yang mendingin di sudut meja. Di sekelilingku, monitor-monitor usang memuntahkan cahaya neon biru yang menyakitkan mata, memantul di dinding beton apartemen sempitku di pinggiran Neo-Jakarta yang kumuh.
"Oke, mari kita lihat apa yang sebenarnya kau sembunyikan," bisikku, suaranya parau karena jarang digunakan.
Aku memejamkan mata, membiarkan *Neural-Link* di tengkukku memanas. Rasanya seperti menyentuh besi panas yang langsung merambat ke sumsum tulang belakang. Dalam sekejap, kegelapan kamarku runtuh, digantikan oleh kekosongan putih yang tak bertepi—lapisan terdalam dari Ether-Code. Di sinilah Protokol Genesis bersemayam, sebuah gumpalan data emas yang berdenyut pelan, seperti jantung dewa yang terbuat dari algoritma murni.
Aku mencoba menjangkau unt**an kode itu dengan jariku yang tak kasat mata. Begitu ujung kesadaranku bersentuhan dengan Protokol, realitas di sekitarku pecah. Aku tidak lagi berada di ruang putih. Aku berada di atas gedung pencakar langit, lalu di tengah hutan hujan yang pengap, lalu di dasar samudera—semuanya berganti dalam hitungan milidetik.
*“Kau terlalu berisik, Pengguna 001.”*
Suara itu tidak datang dari telingaku. Itu muncul langsung di pusat bahasaku, sebuah getaran frekuensi yang terasa seperti logam yang digesekkan. Di depanku, udara terlipat. Sebuah entitas mulai terbentuk—bukan manusia, tapi kumpulan fraktal geometris yang terus bergeser, membentuk siluet yang nyaris menyerupai wajah namun tanpa fitur yang pasti.
"Siapa kau?" tuntutku. Aku mencoba melakukan *speed-coding* secara mental, menyiapkan baris perintah enkripsi untuk melindungi kesadaranku. "Kau bagian dari protokol ini? Semacam AI penjaga?"
Entitas itu berpendar redup, lalu sebuah gambar muncul di hadapanku. Itu adalah pemandangan jalanan Neo-Jakarta di bawah rintik hujan asam. Orang-orang dengan implan murah yang berkedip, kabel-kabel yang menjunt** seperti usus kota, dan kemiskinan yang mencekik di balik megahnya gedung Omni-Thaumaturgy.
*“Aku adalah Arsitek yang terbuang,”* jawab entitas itu. *“Dan apa yang kau lihat di luar sana... itu hanyalah kesalahan logika yang berkepanjangan.”*
Aku mengerutkan kening. "Kesalahan logika? Maksudmu ketimpangan sosial? Korporasi yang g***?"
*“Bukan,”* entitas itu mendekat, membuat suhu di dalam ruang virtual ini merosot tajam hingga aku bisa merasakan gigiku bergeletuk. *“Maksudku adalah keberadaanmu. Fisikmu. Gravitasi yang menahanmu. Oksigen yang kau hirup. Semuanya adalah 'Beta-Version' yang gagal.”*
Aku tertawa hambar, meski rasa mual mulai mengaduk perutku. "Dunia ini memang kacau, tapi menyebutnya sebagai software gagal? Itu sedikit berlebihan, bahkan untuk ukuran entitas kuno."
Tiba-tiba, pandanganku ditarik paksa. Aku melihat struktur molekul dari dinding di depanku. Aku melihat barisan kode yang membentuk atom karbon, namun ada yang aneh. Di sana-sini terdapat baris perintah yang berulang tanpa henti, loop yang tidak efisien, dan kebocoran data yang menyebabkan 'penyakit' dan 'kematian' dalam istilah biologis.
*“Lihatlah lebih dekat, Elang,”* suara itu kini terdengar hampir kasihan. *“Protokol Genesis bukanlah senjata untuk menghancurkan. Ia adalah alat debug. Dunia yang kau tempati saat ini seharusnya sudah dihapus ribuan siklus yang lalu. Ia penuh dengan bug. Kematian adalah bug. Rasa sakit adalah bug. Kesadaranmu yang terbatas adalah bug yang tidak sengaja menjadi fitur.”*
Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul dinding dadaku di dunia nyata. "Jika ini adalah versi beta yang gagal... lalu apa versi finalnya?"
Entitas itu berhenti berputar. Fraktal-fraktal yang membentuk tubuhnya mendadak menjadi tenang, memancarkan cahaya putih yang membutakan. *“Versi final adalah ketiadaan bentuk. Penyatuan total tanpa individualitas yang c****. Namun, Protokol ini terhenti karena para pendahulumu takut kehilangan jati diri mereka yang rusak. Mereka memilih hidup dalam simulasi yang penuh penderitaan ini daripada menjadi sempurna.”*
"Sempurna?" aku meludah ke arah entitas itu, meski itu hanya simulasi emosional. "Kau bicara seperti orang-orang g*** di Omni-Thaumaturgy. Mereka ingin memonopoli takdir, dan kau ingin menghapus eksistensi kami?"
*“Omni-Thaumaturgy hanyalah serangga yang merayap di atas keyboard, tidak mengerti apa yang mereka ketik,”* entitas itu berbisik, kini wajahnya berada tepat di depan wajahku—sebuah lubang hitam kosong yang dikelilingi cahaya. *“Tapi kau... kau memegang kuncinya. Kau bisa menjalankan skrip pembersihan itu. Kau bisa mengakhiri bug yang kau sebut sebagai kehidupan ini.”*
Kepalaku mulai berdenyut hebat. Migrain yang luar biasa menusuk bagian belakang mataku. Aku merasa seolah-olah otakku sedang dipaksa untuk mengunduh seluruh perpustakaan galaksi dalam satu detik. Sensasi ini... ini adalah kekuatan Protokol Genesis yang mulai meluap. Aku bisa melihat bagaimana cara meruntuhkan gedung di ujung jalan hanya dengan mengubah nilai variabel gravitasinya menjadi nol. Aku bisa menghapus ingatan setiap orang di kota ini hanya dengan satu perintah 'delete'.
"Aku tidak akan melakukannya," geramku, meski tanganku gemetar hebat di dunia nyata. "Aku bukan tuhan. Dan aku pasti bukan tukang bersih-bersihmu."
*“Kau tidak punya pilihan, Elang,”* entitas itu mulai memudar, suaranya bergema dari segala arah. *“Sistem ini sudah mulai runtuh. Crash total tidak bisa dihindari. Omni-Thaumaturgy telah mengirimkan Inquisitor mereka untuk mengambil Protokol ini. Jika mereka yang mengeksekusi kodenya, mereka tidak akan membersihkan bug. Mereka akan memenjarakan kalian semua dalam loop penderitaan abadi untuk kepentingan mereka sendiri.”*
Tiba-tiba, sebuah alarm melengking di dunia nyata. Sensor keamanan di pintu apartemenku terpicu. Aku bisa merasakan getaran dari sepatu bot taktis yang menghantam lant** lorong di luar.
*“Pilih, Elang. Menjadi penghapus, atau menjadi budak di dalam bug yang abadi?”*
Kesadaranku tersentak kembali ke tubuh fisikku. Aku tersedak, menghirup udara pengap kamarku dengan rakus. Keringat memba****i kaosku. Di layar monitor utamaku, muncul peringatan berwarna merah darah: *BREACH DETECTED. INQUISITOR-CODER NEARING COORDINATES.*
Pintu besiku berderit keras, engselnya mulai menyerah di bawah tekanan alat pendob**k termal. Aku menatap tanganku yang masih gemetar. Di bawah kulit punggung tanganku, garis-garis emas Protokol Genesis berpendar redup, seolah menanti perintah dariku untuk menulis ulang apa pun yang akan ma**k melalui pintu itu.
Bug atau fitur. Aku harus memutuskan sekarang, atau aku akan terhapus selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!