Rasa logam yang tajam menusuk pangkal lidahku, sensasi dingin yang biasanya menandakan koneksi *Ether-Code* sedang tidak stabil. Namun kali ini berbeda. Aku tidak sedang berada di dalam Deep Web. Aku sedang duduk di kursi usangku, menyesap kopi sintetis dingin di sebuah ruko terbengkalai di pinggiran Neo-Jakarta yang diguyur hujan asam.
Tiba-tiba, pandanganku bergetar. Bukan dunianya yang bergoyang, melainkan mataku.
*Glitched.*
Aku melihat tangan kananku yang sedang memegang cangkir. Untuk sepersekian detik, tekstur kulitku menghilang, digantikan oleh barisan kode biner yang berpendar biru pucat, sebelum akhirnya kembali menjadi daging dan tulang. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin keluar.
"Sial," desisku. Suaraku terdengar ganda, seperti ada gema digital yang tertinggal di belakang setiap silabel.
Sebuah notifikasi merah menyala muncul di sudut retina kiri, memotong antarmuka sarafku. *SYNAPTIC BREACH DETECTED. SOURCE: OMNI-THAUMATURGY BIO-SIGNAL.*
Mereka tidak lagi menyerang serverku. Mereka menyerang sel-sel tubuhku.
Aku mencoba berdiri, tapi lututku mati rasa. Lant** beton di bawah kakiku tampak mencair, berubah menjadi lautan data hitam yang pekat. Aku tahu ini adalah halusinasi akibat virus biologis-digital yang mereka kirimkan melalui frekuensi *Ether* di udara. Protokol Genesis di dalam kepalaku bereaksi, ia mencoba mengasimilasi serangan itu, tapi tubuh fisikku hanyalah wadah dari daging yang lemah.
"Kau pikir bisa mengurungku, Elang?"
Suara itu bukan berasal dari speaker. Suara itu bergema langsung di dalam korteks sereb**lku. Itu adalah suara khas *Inquisitor-Coder*βdingin, mekanis, dan penuh otoritas.
Aku memaksakan jemariku bergerak di atas keyboard virtual yang melayang di depanku. Setiap ketikan terasa seperti menusukkan jarum panas ke dalam otak. Aku harus menulis skrip penangkal sebelum virus ini mengubah sumsum tulang belakangku menjadi tumpukan data sampah.
"Ayo, gerak..." geramku pada diriku sendiri.
Tanganku kembali mengalami *glitch*. Kali ini lebih parah. Jemariku memanjang secara tidak wajar, membelah diri menjadi sepuluh, lalu menghilang menjadi partikel cahaya. Aku tidak bisa merasakan keyboard-nya. Aku kehilangan kendali motorik.
Panik mulai merayap. Bau daging terbakar memenuhi ruanganβpadahal aku tahu itu hanya malfungsi pada saraf olfaktori. Di sudut ruangan, bayangan hitam mulai terbentuk. Itu bukan manusia, melainkan manifestasi dari virus 'Viper-Script' yang dikirim Omni-Thaumaturgy. Bentuknya menyerupai ular yang terbuat dari jalinan kabel berduri, merayap di dinding ruko, meninggalkan jejak kode yang menghanguskan wallpaper kumuh di sana.
*Protokol Genesis... bantu aku,* batinku dalam keputusasaan.
Seketika, ba**** data ma**k ke kesadaranku. Informasi tentang struktur atom oksigen di sekitarku, koefisien gesek udara, hingga denyut listrik di sirkuit gedung ini. Protokol itu memberiku jawaban, tapi harganya mahal. Pikiranku terasa seperti ditarik keluar dari tengkorak, diregangkan hingga tipis seperti benang.
Aku mulai mengetik dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan manusia. Jariku bergerak secepat getaran sayap serangga. Aku tidak lagi melihat huruf; aku melihat struktur realitas.
*Definisikan: Anti-Viper.*
*Target: Synaptic Pathway 0-9.*
*Action: Purge and Rewrite.*
"Enyah kau dari kepalaku!" teriakku.
Cahaya putih menyilaukan meledak dari pusat dadaku. Gelombang kejut digital menyapu ruko tersebut, mematikan semua perangkat elektronik dalam radius sepuluh meter. Ular kabel di sudut ruangan menjeritβsuara statis yang m****akkan telingaβsebelum akhirnya hancur menjadi debu piksel yang menghilang di udara.
Aku tersungkur ke lant**, terengah-engah. Keringat dingin mengucur deras. Aku memeriksa tanganku. Masih di sana. Masih daging. Tapi ketika aku mencoba mengepalkan tinju, ada jeda satu milidetik antara perintah otak dan gerakan tanganku.
*Lag.* Tubuhku mulai tidak sinkron dengan jiwaku.
Aku merangkak menuju cermin retak di dinding. Wajahku pucat pasi. Tapi yang membuatku membeku adalah mataku. Pupil hitamku kini dikelilingi oleh lingkaran emas yang berputar perlahan, berisi barisan kode terkecil yang pernah kulihat. Protokol Genesis bukan lagi sekadar program yang kuunduh; ia sedang membangun ulang diriku dari tingkat molekuler.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari tangga di luar ruko. Bukan satu orang, tapi selusin. Sepatu bot militer menghantam besi tua dengan ritme yang mematikan.
Aku melihat ke arah monitor cadangan yang masih berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total. Sebuah pesan tunggal muncul di sana, ditulis dengan tinta digital merah darah.
*KAMI MENEMUKANMU, ELANG. SERAHKAN KUNCI SURGA ITU, ATAU KAMI AKAN MEMBEDAHMU UNTUK MENGAMBILNYA.*
Pintu ruko berderit keras. Gagangnya mulai membeku, ditutupi oleh kristal es digital yang merambat cepat. Para *Inquisitor* tidak lagi mengetuk. Mereka sedang meretas realitas pintu itu agar tidak lagi 'ada'.
Aku tidak punya tempat lari. Satu-satunya jalan keluar adalah ma**k lebih dalam ke dalam keg***an ini.
Aku menutup mata, membiarkan Protokol Genesis mengambil alih sistem sarafku sepenuhnya. Jika aku harus menjadi monster untuk melawan i****, maka biarlah.
"Selamat datang di neraka," bisikku pada kekosongan, sesaat sebelum pintu itu meledak menjadi ribuan partikel cahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!