Lampu neon di ruang kerjaku berkedut sekali, mengirimkan denyut cahaya putih yang menyakitkan mata. Aku menghela napas, menyesap kopi hitam yang sudah sedingin es, lalu kembali menatap layar monitor 32 inci yang menampilkan draf Bab IV milik Ny. Ratna. Judul penelitiannya benar-benar sebuah lelucon intelektual: *“Analisis Korelatif antara Intensitas Arisan Sosialita terhadap Ketahanan Psikologis Menghadapi Gosip di Lingkungan Elit Jakarta.”*
Tanganku menari di atas keyboard, mengubah kalimat-kalimat sampah menjadi prosa akademis yang seolah-olah berbobot. Aku bisa saja melakukan ini sambil tidur. Namun, sebuah notifikasi merah muncul di sudut bawah layar monitor keduaku—layar yang terhubung ke server terenkripsi tempat aku mengelola bisnis 'bayangan' ini.
Satu pesan baru. Tanpa nama pengirim. Hanya sebuah ikon tengkorak piksel yang amat sangat norak.
*“Halo, Sang Maestro. Rekening BCA-mu atas nama Andi Permana c**up sibuk bulan ini, ya? Konsultan Pendidikan atau Tukang Sulap Skripsi?”*
Jantungku seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh. Dingin menjalar dari ujung jari kaki hingga ke tengkuk. Aku segera mematikan jendela pekerjaan Ny. Ratna dan membuka terminal perintah. Jari-jariku yang biasanya lincah mendadak kaku, bergetar tipis saat mengetikkan baris kode untuk melacak alamat IP pengirim pesan itu.
“Si****,” desis ku pelan. Ruangan apartemenku yang sunyi tiba-tiba terasa mencekam, seolah-olah ada mata yang mengintip dari balik tirai gelap.
Pesan kedua ma**k sebelum aku sempat menyelesaikan pelacakan.
*“Jangan repot-repot, Andi. Aku tahu kamu jago, tapi aku punya log percakapanmu dengan Ny. Ratna di Telegram. Bayangkan apa yang terjadi kalau Nadia tahu tunangan ibunya... ah maksudku, konsultan ibunya, adalah mantan kekasihnya yang miskin dan penipu.”*
Aku bangkit berdiri, hampir menjatuhkan kursi kerjaku. Napas ku memburu. Siapa ini? Tidak banyak orang di industri ini yang tahu identitas asliku. Sebagian besar klien mengenalku sebagai 'Admin G' atau 'Mr. Write'. Identitas Andi Permana sudah ku kubur dalam-dalam di balik lapisan VPN dan akun bodong.
Ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama *'Ny. Ratna (VIP)'* muncul di layar. Aku ingin mengabaikannya, tapi wanita itu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
“Halo, Bu Ratna?” suaraku terdengar serak. Aku berusaha mengatur napas agar tetap terdengar profesional.
“Andi! Kamu sudah baca revisi dari saya?” suara melengking Ratna menembus speaker ponsel. “Saya mau ada tambahan kutipan dari bukunya Michelle Obama. Pokoknya harus ma**k! Biar kelihatan kalau riset saya ini kelas dunia, bukan kelas arisan RT.”
“Iya, Bu. Sedang saya kerjakan. Mohon waktu sebentar,” jawabku pendek, mataku tetap terpaku pada monitor yang kini menampilkan lokasi server pengirim pesan misterius itu. Sial, dia menggunakan *proxy* berlapis. Moskow, lalu terpantul ke Singapura, lalu hilang di kegelapan.
“Harus selesai malam ini, ya! Besok saya ada pertemuan dengan geng arisan berlian saya. Saya mau pamer sedikit drafnya,” lanjut Ratna tanpa peduli.
“Baik, Bu.” Aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Fokusku terbelah. Di satu sisi, aku harus menyelesaikan omong kosong Ratna untuk menjaga penyamaranku tetap utuh. Di sisi lain, seseorang sedang mencoba menguliti hidupku. Jika identitas asliku terbongkar sekarang, bukan hanya reputasiku yang hancur, tapi Nadia... Nadia akan melihatku sebagai sampah yang sama seperti dulu. Seseorang yang hanya bisa bertahan hidup dengan cara curang.
Aku kembali duduk, jari-jariku bergerak secepat kilat. Aku mulai menjalankan skrip *'Deep Clean'*. Ini adalah protokol darurat yang kubuat setahun lalu. Skrip ini akan menghapus semua log percakapan di server publik, mengenkripsi ulang data klien, dan memindahkan saldo kriptoku ke dompet digital yang baru.
*Ting.*
Pesan lain ma**k. Kali ini berupa sebuah foto.
Itu adalah foto apartemenku. Diambil dari seberang jalan. Di bawah lampu jalan yang temaram, terlihat mobil BMW-ku yang terparkir rapi.
*“Mobil yang bagus untuk hasil menipu mahasiswa tingkat akhir. Aku tidak butuh uangmu, Andi. Aku hanya ingin kamu berhenti. Pasar ini milikku sebelum kamu datang dengan harga hancurmu itu. Serahkan semua data klien elitmu, atau besok pagi foto-foto ini sampai ke meja dekan universitas ternama itu. Dan tentu saja, ke DM Instagram Nadia.”*
Ba****** ini adalah rival bisnis. Seseorang yang merasa terancam dengan dominasiku di pasar joki kelas atas.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Mataku perih, namun adrenalin memaksaku tetap terjaga. Aku harus menghapus jejak digital yang menghubungkan Andi Permana dengan 'Sang Joki'. Aku harus memusnahkan semua bukti pembayaran manual yang pernah kuterima di awal karierku—titik terlemah dalam sistem keamananku.
Sambil menunggu baris perintah di monitor berjalan, aku membuka draf skripsi Ny. Ratna. Aku mengetikkan paragraf tentang Michelle Obama dengan amarah yang tertahan. Pikiran ku berputar mencari cara untuk menyerang balik. Siapa joki lain yang c**up cerdas untuk melacakku? ‘Si Jenius’ dari Bandung? Atau ‘Dewa Skripsi’ yang sombong itu?
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Progress bar di layarku menunjukkan angka 85%. Sebentar lagi, semua jejak lamaku akan hilang di telan bumi digital.
Namun, tepat saat angka itu menyentuh 90%, koneksi internetku tiba-tiba terputus.
Lampu di seluruh apartemenku padam. Gelap gulita. Hanya cahaya dari layar ponselku yang masih menyala, menampilkan satu pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal.
*“Ups. Aku tidak suka menunggu lama, Andi. Coba cek pintu depanmu.”*
Hening mencekam menyelimuti ruangan. Detak jantungku terasa seperti dentuman drum di telinga. Aku berjalan perlahan menuju pintu, memegang gagang pintu yang dingin dengan tangan gemetar. Melalui lubang intip, aku tidak melihat siapa pun di lorong apartemen yang sunyi.
Hanya ada sebuah amplop cokelat besar yang terselip di bawah pintu.
Aku membukanya dengan perlahan, menggunakan cahaya ponsel. Di dalamnya bukan tumpukan uang atau surat ancaman biasa. Isinya adalah sebuah salinan ijazah sarjana milikku yang asli, dengan coretan spidol merah besar membentuk kata: **PALSU.**
Di bawah ijazah itu, terselip sebuah foto lama. Foto aku dan Nadia saat masih kuliah, duduk di kantin kumuh sambil berbagi satu piring nasi goreng. Di balik foto itu tertulis: *“Dia tidak akan mencint**mu kalau dia tahu siapa kamu sebenarnya sekarang.”*
Tiba-tiba, ponselku berbunyi lagi. Kali ini bukan pesan teks, tapi pangg***n video dari Nadia.
Aku menelan ludah. Jika aku mengangkatnya, apakah dia akan melihat kegelapan di belakangku? Atau apakah orang yang mengancamku sudah berada di belakangnya saat ini? Tanganku menggantung di atas layar, bimbang antara rasa takut yang melumpuhkan dan insting untuk melindungi satu-satunya hal yang masih berarti bagiku.
Pangg***n itu terputus, lalu sebuah pesan suara ma**k dari Nadia. Suaranya terdengar panik.
"Andi, tolong... ada seseorang yang mengirimkan berkas aneh ke Mama tentang kamu. Mama histeris. Kamu di mana?"
Duniaku yang kubangun dengan kebohongan rapi itu mulai retak, dan aku sadar, permainan ini baru saja berubah menjadi perang yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!