Aroma lilin aromaterapi berbau *sandalwood* menyeruak di ruang kerja pribadi Ny. Ratna yang luasnya mungkin setara dengan seluruh denah apartemenku. Di dinding, terpajang foto-foto beliau bersama para pejabat, sosialita, hingga menteri, semuanya dibingkai emas yang berkilau di bawah lampu gantung kristal. Ratna duduk di balik meja m***ni besar, namun sore ini, aura 'Macan Kemang' yang biasanya intimidatif itu tampak meredup.
Aku meletakkan draf Bab 3 yang baru saja selesai kukerjakan. "Ini tinjauan pustakanya, Tante. Saya sudah sesuaikan dengan gaya bahasa yang... katakanlah, elegan tapi tetap berisi."
Biasanya, Ratna akan langsung mengambil naskah itu, memeriksanya dengan kacamata baca bertahtakan swarovski, lalu mengkritik hal-hal sepele seperti pemilihan font. Namun kali ini, dia hanya menatap tumpukan kertas itu dengan tatapan kosong. Jemarinya yang dihiasi cat kuku merah marun memainkan pinggiran cangkir teh porselennya yang sudah dingin.
"Andi," suaranya parau, jauh dari nada tinggi yang biasa ia gunakan untuk memerintah asisten rumah tangganya. "Apa menurutmu orang-orang di yayasan nanti akan tahu kalau ini bukan tulisan saya?"
Aku menarik napas panjang, memasang wajah 'konsultan pendidikan' andalanku. "Selama Tante menguasai poin-poin yang saya berikan di catatan presentasi, tidak akan ada yang curiga. Tante punya aura kepemimpinan, itu sudah setengah dari nilai plusnya."
Ratna terkekeh, tapi bunyinya kering dan pahit. Ia memutar kursinya, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kolam renang *infinity* di halaman belakang.
"Aura kepemimpinan," gumamnya sinis. "Itu cuma nama lain dari kesombongan yang dipoles, Andi. Di lingkaran saya, kalau kau tidak punya gelar di belakang namamu, kau hanyalah pajangan. Saya sudah menjadi 'pajangan' selama dua puluh lima tahun."
Aku terdiam. Ini adalah pertama kalinya Ratna bicara tanpa filter kesombongan. Aku biasanya melihatnya sebagai musuh bebuyutanβwanita yang memandang rendah status sosialku saat aku masih memadu kasih dengan Nadia. Tapi sore ini, garis-garis halus di sekitar matanya menceritakan narasi yang berbeda.
"Dulu, saya bukan siapa-siapa," lanjut Ratna tanpa menoleh padaku. "Ayah saya hanya pedagang kelontong di pasar. Tapi dia bekerja setengah mati supaya saya bisa ma**k universitas ternama. Dia ingin anaknya dipanggil 'Dokter' atau 'Sarjana'. Tapi saya..." Ia menjeda, bahunya sedikit merosot. "Saya gagal. Saya terlalu sibuk menikmati pergaulan, hingga di tahun ketiga, saya dikeluarkan. Saya tidak pernah punya keberanian untuk bilang pada Ayah sampai dia meninggal."
Aku merasakan denyut aneh di dadaku. Kebencian yang selama ini kupelihara terasa sedikit... goyah. Aku teringat perjuanganku sendiri, bagaimana aku harus memutar otak mencari uang agar tidak dianggap sampah oleh orang-orang seperti dia. Ternyata, dia juga punya hantu yang sama.
"Lalu saya bertemu dengan suaminya Nadia," Ratna melanjutkan, kini ia menoleh padaku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Keluarga mereka itu... intelektual. Mertua saya profesor, ipar-ipar saya lulusan luar negeri. Setiap kali ada jamuan makan malam, mereka bicara tentang kebijakan publik, tentang teori ekonomi, sementara saya hanya bisa bicara tentang merek tas terbaru. Mereka tersenyum pada saya, tapi mata mereka berkata bahwa saya hanya beruntung karena cantik."
Ia meraih sebuah bingkai foto kecil di mejanya. Foto lama, seorang gadis muda yang tampak lugu dan penuh harapan, sangat berbeda dengan Ratna yang sekarang penuh dengan lapisan gengsi.
"Gelar ini bukan buat cari kerja, Andi. Saya sudah punya segalanya secara materi. Tapi saya ingin sekali saja, saat duduk di meja makan itu, saya merasa setara. Saya ingin mereka berhenti melihat saya sebagai 'si bodoh yang beruntung'."
Ada keheningan panjang yang menyusul. Aku melihat tangannya sedikit gemetar saat meletakkan kembali bingkai foto itu. Untuk sesaat, aku tidak melihat Ny. Ratna yang angkuh. Aku melihat seorang wanita yang merasa kerdil di tengah kemegahan yang ia bangun sendiri. Rasa haus akan validasi itu... aku mengenalnya dengan sangat baik. Bukankah itu alasan aku menumpuk kekayaan dari jasa joki ini? Agar tidak ada lagi yang berani meremehkanku?
"Tante," kataku, kali ini suaraku lebih lembut, tanpa nada sinis yang biasanya terselip di batin. "Skripsi ini akan selesai. Dan isinya akan sangat luar biasa sampai tidak ada satu pun dari mereka yang berani mempertanyakan intelektualitas Tante lagi."
Ratna menatapku, mencari kejujuran di mataku. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa tulus untuk pertama kalinya. "Terima kasih, Andi. Kamu... kamu berbeda dari anak muda yang pernah saya kenal dulu. Kamu punya harga diri yang kuat."
Aku hampir tersedak ludah sendiri. Jika dia tahu bahwa 'anak muda' yang ia hina dulu adalah orang yang sama yang sekarang memberinya jalan pintas menuju kehormatan, apakah dia masih akan tersenyum seperti itu?
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan.
"Ma, aku sudah pulang. Tadi di butik adaβ"
Suara itu terputus. Nadia berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang membuatnya tampak seperti lukisan yang hidup. Matanya membulat saat melihatku duduk begitu dekat dengan ibunya di ruang yang sangat privasi itu. Suasana yang tadinya melankolis mendadak berubah menjadi tegang dan penuh listrik.
Ratna segera menghapus sudut matanya dan kembali ke mode sosialita berwibawa. "Nadia, kamu tidak lihat Mama sedang rapat penting dengan konsultan Mama?"
Nadia tidak menjawab ibunya. Tatapannya terkunci padaku, penuh dengan pertanyaan, kecurigaan, dan sesuatu yang lebih dalamβsesuatu yang membuat perutku mulas. Ia melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya, dan berjalan perlahan menuju meja.
"Konsultan?" Nadia mengulang kata itu dengan nada yang sangat skeptis. Ia berhenti tepat di sampingku, aroma parfumnya yang familiar menyerang indra penciumanku, membangkitkan memori-memori yang seharusnya sudah kukubur. "Konsultan pendidikan atau... konsultan masa lalu, Andi?"
Ratna mengerutkan kening, bingung dengan nada bicara putrinya. "Apa maksudmu, Nadia? Kalian sudah saling kenal?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. Rahasia tentang siapa aku sebenarnya, dan apa yang sedang kulakukan di rumah ini, terasa seperti bom waktu yang kabelnya baru saja digunting oleh Nadia. Aku harus segera melakukan sesuatu sebelum semuanya meledak di depan wajahku.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!