Kursor itu berkedip-kedip di atas folder berjudul "PROYEK RATNA β SABOTASE". Di dalamnya tersimpan tumpukan data palsu, kutipan dari jurnal bodong, dan analisis statistik yang sudah aku pelintir sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan di mata orang awam, namun akan hancur lebur saat diuji oleh dosen yang benar-benar kompeten. Satu klik saja, dan karir akademis Ny. Ratna yang dibangun di atas fondasi gengsi itu akan runtuh seketika saat sidang meja hijau.
Aku bersandar di kursi kerja ergonomis seharga dua puluh juta rupiah ini, memutar-mutar bolpen montblanc di jemari. Rasanya seharusnya manis. Bayangkan, membalas dendam pada wanita yang dulu memandangku seperti kotoran di bawah sepatunya hanya karena aku anak seorang guru honorer. Tapi, melihat foto profil WhatsApp Ny. Ratna yang sedang memamerkan tas Hermes barunya, ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatiku.
Bukan rasa kasihan. Bukan pula sisa-sisa rasa hormat. Ini soal harga diri profesional.
"Si****," umpatku pelan. "Kalau aku bikin skripsi sampah, itu artinya aku bukan joki legendaris. Itu artinya aku cuma pecundang yang lagi tantrum."
Tanganku bergerak cepat. Klik kanan, *Delete*, lalu *Empty Recycle Bin*. Suara 'trash' di MacBook-ku terdengar seperti pernyataan perang terhadap egoku sendiri. Aku membuka dokumen kosong baru. Judulnya: "Analisis Strategi B**nding Sosialita dalam Konstruksi Identitas Digital: Studi Ka**s Fenomena Arisan Elit Jakarta."
Ini akan menjadi mahakarya. Aku akan membuat Ny. Ratna terlihat seperti jenius sosiologi, saking bagusnya skripsi ini, dia bahkan mungkin tidak akan mengerti apa yang dia baca sendiri. Aku akan membuktikan bahwa kemiskinanku dulu bukan karena aku bodoh, dan kekayaanku sekarang bukan sekadar keberuntungan. Aku akan menang dengan cara yang paling elegan: menjadi terlalu hebat untuk dihancurkan.
Tepat saat aku sedang asyik memetakan kerangka teori, ponselku bergetar. Nama "Nadia" muncul di layar, lengkap dengan emoji hati yang belum sempat kuhapus sejak tiga tahun lalu.
"Andi, kamu di mana? Aku di depan kantormu. Katanya mau nemenin aku cari referensi buku buat Mama?"
Aku memijat pelipis. Sejak aku bertransformasi menjadi 'Konsultan Pendidikan' sukses, Nadia terus-menerus mencoba ma**k kembali ke kehidupanku. Dia tidak tahu bahwa 'kantor' suksesku hanyalah fasad untuk menutupi pabrik skripsi yang kuterima lewat jalur gelap.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di balik kemudi mobil Jerman-ku, menjemput Nadia. Dia berdiri di depan lobi, tampak bersinar di bawah sinar matahari sore. Gaun floralnya bergerak tertiup angin, dan aroma parfumnya yang mahal langsung memenuhi kabin mobil begitu dia ma**k.
"Kamu makin sibuk ya sekarang," sindir Nadia sambil memakai sabuk pengaman. Matanya yang jeli menatapku dengan binar yang sulit diartikan. "Sampai-sampai buat balas chat aku aja butuh waktu dua jam."
"Banyak klien yang harus ditangani, Nad. Pendidikan itu aset, dan orang kaya sangat peduli pada aset mereka," jawabku datar, mencoba tetap profesional meski jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
Kami berkendara menuju toko buku besar di pusat kota. Di tengah kemacetan Jakarta yang menyesakkan, Nadia mulai bergerak gelisah. Dia meraih botol air minum di laci dasbor, lalu tanpa sengaja tangannya menyenggol tumpukan dokumen yang aku selipkan di bawah jok penumpang.
"Eh, maaf," ucapnya sambil membungkuk untuk mengambil beberapa map yang terjatuh.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku lupa mengosongkan jok penumpang pagi tadi. Di sana ada tiga jilid skripsi yang baru saja selesai kukerjakan untuk anak seorang pejabat, lengkap dengan nama mahasiswa dan universitasnya yang berbeda-beda.
"Andi, ini apa?" tanya Nadia. Suaranya berubah, ada nada curiga yang tajam.
Dia mengangkat satu map berwarna biru tua. "Efektivitas Hukum Agraria... Ananda Prasetyo?" Dia mengambil map lain yang berwarna kuning. "Peran Komunikasi Interpersonal dalam Keluarga Broken Home... Sarah Wijaya?"
Aku berusaha tetap tenang, memegang kemudi dengan buku jari yang memutih. "Itu... itu bahan riset untuk timku. Kami sedang melakukan studi banding kurikulum di beberapa universitas swasta."
Nadia tidak melepaskan map itu. Dia membukanya, membolak-balik halaman demi halaman dengan dahi berkerut. "Studi banding? Tapi ini skripsi lengkap, Andi. Lengkap dengan tanda tangan dospem yang kayaknya... eh, bentar."
Dia menarik sebuah kertas kecil yang terselip di antara halamanβsebuah nota kuitansi yang belum sempat kubuang. Di sana tertulis jelas: *Pelunasan Jasa Konsultasi Akhir - Paket Platinum - No Revisi.*
"Jasa Konsultasi Akhir?" Nadia menoleh ke arahku, matanya menyipit penuh selidik. "Kenapa namanya banyak banget? Dan kenapa semuanya ada di mobil kamu dalam bentuk fisik yang sudah dijilid rapi begini?"
Aku mencoba tertawa kecil, suara yang terdengar sangat dipaksakan bahkan di telingaku sendiri. "Nad, kamu tahu kan konsultan itu kerjanya luas? Kami mengoreksi, memberi ma**kanβ"
"Mengoreksi sampai ke daftar pustaka dan kata pengantar?" potongnya cepat. Dia mengambil map ketiga, lalu matanya membelalak. "Andi, ini skripsi dari kampus lamaku. Dan mahasiswa ini... aku kenal dia. Dia itu anak paling malas di angkatanku yang nggak mungkin bisa nulis abstrak dalam bahasa Inggris selancar ini."
Nadia menatapku lekat-lekat, seolah sedang mencoba membedah isi kepalaku. Kecurigaannya yang semula hanya percikan kecil kini mulai membakar. Dia bukan wanita bodoh; dia adalah orang yang dulu memutuskanku karena menganggap masa depanku suram. Sekarang, dia melihat 'kesuksesan' itu, tapi mulai mencium bau amis di baliknya.
"Andi," bisiknya, suaranya lebih rendah namun penuh penekanan. "Tolong jujur sama aku. Kamu sebenarnya konsultan pendidikan... atau kamu joki?"
Lampu lalu lintas berubah hijau. Klakson mobil di belakang menjerit-jerit, tapi aku terpaku. Keringat dingin mulai membasahi punggung kemeja mahalku. Jika rahasia ini terbongkar di depan Nadia, bukan hanya reputasiku yang hancur, tapi harga diri yang sudah kususun susah payah selama bertahun-tahun akan runtuh berkeping-keping, tepat di hadapan wanita yang paling ingin kubuat terkesan.
Aku menelan ludah, mencoba mencari kebohongan paling ma**k akal yang tersisa di gudang senjataku. Namun, tangan Nadia sudah meraih map lain yang tersembunyi jauh di bawah kursi, map yang berisi draf skripsi ibunya sendiri.
"Dan ini... kenapa ada nama Mama di sini?" tanya Nadia dengan nada yang bergetar antara bingung dan marah.
Aku tahu, kali ini, kecerdasanku dalam merangkai kata-kata mungkin tidak akan c**up untuk menyelamatkanku. Tembok yang kubangun mulai retak, dan aku hanya bisa berharap tidak tertimbun reruntuhannya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!