Suara denting pendingin ruangan di kantorku yang bergaya minimalis biasanya terasa menenangkan, seperti simfoni keteraturan yang menyert** tiap baris kalimat akademik yang kususun. Namun, sore ini, suara itu mendadak terdengar seperti detak bom waktu. Di depanku, Nadia berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Gaun sutra birunya tampak kontras dengan tumpukan map cokelat yang ia banting ke atas meja jati mahalku.
Aku tetap duduk, menyandarkan punggung pada kursi ergonomis yang harganya setara dengan tiga motor matik. Tanganku masih memegang pulpen montblanc, mencoba mempertahankan fasad sebagai 'Konsultan Pendidikan' kelas atas.
"Andi, berhenti berpura-pura," suara Nadia bergetar, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang tertahan. "Aku sudah memeriksa draf skripsi Mama. Gaya bahasanya, penggunaan konjungsi yang terlalu sering di awal kalimat, cara penulisan daftar pustakanya yang perfeksionis tapi malas... itu gaya kamu. Itu gaya penulisan yang dulu sering kamu pakai saat membantuku mengerjakan tugas kuliah sepuluh tahun lalu."
Aku terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang tidak mencapai mataku. "Nadia, banyak orang punya gaya penulisan yang mirip. Itu namanya standar akademik. Lagipula, ibumu membayar mahal untuk jasa konsultasiku."
Nadia melangkah maju, tangannya menumpu di atas meja, menatapku tepat di manik mata. Wangi parfumnyaβmahal dan eleganβmenyerbu indra penciumanku, membangkitkan kenangan tentang hari-hari saat kami hanya berbagi satu cup mi instan di depan perpustakaan.
"Konsultan? Jangan bohong! Aku sudah mencari tahu ke kantor pendaftaran perusahaan. Nama 'Pratama Educational Consulting' tidak terdaftar sebagai lembaga riset. Alamat ini terdaftar atas nama perusahaan cangkang," desisnya. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari mapnya. "Dan ini? Ini draf bab tiga milik temanku yang memesan jasa joki lewat situs 'Sang Maestro'. Barcode di pojok bawahnya sama persis dengan yang ada di dokumen Mama. Kamu 'Sang Maestro' itu, kan?"
Hening menyergap. Rahasiaku, benteng yang kubangun dengan tumpukan uang dan kebohongan, baru saja diledakkan oleh wanita yang dulu meninggalkanku karena aku dianggap tidak punya masa depan.
Aku meletakkan pulpenku pelan. Perlahan, aku melepas kacamata berbingkai emas yang sebenarnya hanya lensa biasa untuk menambah kesan intelek. Aku menyugar rambut ke belakang, menanggalkan topeng profesionalitas yang selama ini melekat.
"Oke. Kamu menang," kataku, suaraku kini lebih dalam, lebih sinis. Aku berdiri, berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan dan menuangkan air mineral ke gelas kristal. "Ya, aku joki. Aku 'Sang Maestro'. Aku adalah orang di balik ratusan gelar sarjana, magister, bahkan beberapa doktor di kota ini yang terlalu malas untuk membaca buku tapi terlalu sombong untuk mengakui kebodohan mereka."
Nadia mundur selangkah, wajahnya pucat. "Jadi... semua kekayaan ini? Mobil di lobi, kantor ini, jam tangan itu... semuanya hasil dari... menipu?"
"Menipu?" Aku memutar tubuh, menatapnya dengan tajam. "Aku lebih suka menyebutnya sebagai 'distribusi kecerdasan bagi mereka yang kekurangan'. Aku menjual jasa, Nadia. Aku bekerja lebih keras dari dosen mana pun. Aku riset sampai pagi, membaca ribuan jurnal, demi memastikan orang-orang seperti ibumu bisa memamerkan gelar di arisan sosialita mereka tanpa perlu tahu apa bedanya kualitatif dan kuantitatif."
Aku melangkah mendekatinya, memaksanya untuk tidak memalingkan wajah. "Kamu dulu memutusku karena aku miskin, kan? Karena aku hanya mahasiswa beasiswa yang masa depannya dianggap suram. Sekarang, lihat aku. Aku kaya raya karena ketidakjujuran intelektual orang-orang dari kelasmu."
Nadia menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Andi, ini salah. Kamu punya otak yang brilian. Kamu bisa jadi peneliti sungguhan, bisa jadi profesor! Kenapa harus jadi parasit di sistem pendidikan?"
"Karena jadi profesor tidak akan membelikan rumah di Menteng dalam waktu dua tahun, Nadia!" bentakku, membuat bahunya berjengit. Aku segera menurunkan nada suaraku, kembali ke mode pragmatis yang dingin. "Dunia ini munafik. Mereka menginginkan gelar, bukan ilmu. Aku hanya memberikan apa yang diminta pasar."
Aku mengambil draf skripsi ibunya, lalu melemparkannya kembali ke arah Nadia. "Sekarang kamu tahu identitas asliku. Aku bukan konsultan sukses yang berkelas. Aku hanyalah joki kotor yang hidup dari bayang-bayang. Aku adalah rahasia memalukan di balik gengsi keluargamu."
Aku mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinganya. "Pertanyaannya sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Kamu bilang ingin memulai kembali hubungan kita? Kamu bilang kamu menyesal telah pergi?"
Aku menjauhkan wajah, menantangnya dengan senyum miring yang penuh luka. "Jika aku melepaskan semua setelan jas ini dan kembali menjadi Andi yang 'hanya' seorang joki, apa kamu masih mau berdiri di sini? Apa kamu sanggup mencint** seorang pria yang pekerjaannya adalah menjual integritas kepada ibumu sendiri?"
Nadia terdiam seribu bahasa. Bibirnya bergetar, seolah ingin membalas namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ketegangan di antara kami begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuanku.
Tepat saat Nadia hendak membuka mulut, ponsel di atas mejaku bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak: 'Klien VIP - Ny. Ratna'.
Aku melirik ponsel itu, lalu kembali menatap Nadia. "Ibumu menelepon. Sepertinya dia ingin revisi Bab 4. Kamu mau aku yang mengangkatnya, atau kamu yang ingin memberitahunya bahwa calon menantu idamannya adalah orang yang mengerjakan tugas kuliahnya?"
Tangan Nadia perlahan meraih ponsel itu, namun ia ragu. Di saat yang sama, pintu kantorku tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Seorang pria berseragam kurir ma**k dengan wajah bingung, membawa sebuah amplop besar berlogo universitas ternama.
"Permisi, paket untuk Sang Maestro? Ada dokumen revisi mendesak dari Dekanat," ucap kurir itu polos.
Nadia menoleh ke arah kurir, lalu kembali ke arahku. Matanya membelalak saat melihat logo di amplop ituβitu adalah universitas tempat Nadia baru saja melamar sebagai dosen tetap. Dunia mendadak terasa sangat sempit dan sangat, sangat kacau.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!