Tangan Ny. Ratna gemetar hebat sampai-sampai sendok perak di cangkir porselennya berdenting ricuh. Di hadapannya, Profesor Baskoroβpria dengan kacamata setebal pantat botol dan tatapan sedingin es kutubβsedang membolak-balik draf skripsi setebal dua ratus halaman yang sebenarnya adalah hasil kerja kerasku selama tiga malam tanpa tidur.
Aku duduk dua meja di belakang mereka, bersembunyi di balik laptop dan segelas espresso dingin yang sudah kehilangan seleranya. Aku mengenakan kacamata berbingkai hitam besar dan tudung hoodie yang ditarik rendah, mencoba menyamarkan rahangku yang dulu sering Profesor Baskoro puji saat aku masih menjadi mahasiswa kesayangannya.
"Jadi, Ibu Ratna," suara Baskoro berat dan berwibawa, tipe suara yang bisa membuat mahasiswa tingkat akhir langsung ingin pindah kewarganegaraan. "Bisa Ibu jelaskan mengapa Ibu memilih metode fenomenologi untuk menganalisis perilaku konsumtif sosialita di Jakarta Selatan? Kenapa bukan studi ka**s kuantitatif saja?"
Ratna mematung. Wajahnya yang penuh riasan mahal itu mendadak pucat, seputih bedak taburnya. Dia menoleh sedikit ke arahku, matanya memancarkan sinyal darurat tingkat tinggi. Aku menghela napas, jemariku bergerak lincah di atas keyboard.
Di telinga Ratna, tersembunyi sebuah *earpiece* sekecil biji kacang yang harganya setara biaya kontrakan setahun.
"Jawab, Tante," bisikku ke mikrofon kecil yang menempel di kerah hoodie-ku. "Bilang kalau fenomena ini terlalu kompleks untuk sekadar angka. Ibu ingin menangkap 'jiwa' dan 'makna' di balik gaya hidup tersebut, bukan cuma statistik permukaan."
Ratna berdeham, mencoba mendapatkan kembali kendali atas pita suaranya. "Anu... begini, Prof. Saya merasa fenomena ini... mm, terlalu kompleks kalau cuma angka-angka. Saya ingin menangkap... apa tadi... ah, 'jiwa' dan 'makna' di balik gaya hidup itu. Bukan cuma statistik permukaan yang membosankan."
Profesor Baskoro mengangkat satu alisnya. Dia tampak terkejut, mungkin tidak menyangka wanita yang sejak tadi sibuk membetulkan letak syal Hermes-nya bisa mengeluarkan kalimat secerdas itu.
"Menarik," gumam Baskoro. "Lalu, bagaimana dengan validitas datanya? Bagaimana Ibu menjamin bahwa subjek penelitian tidak memberikan jawaban yang bias karena Ibu sendiri adalah bagian dari lingkaran mereka?"
Ratna kembali berkeringat. Dia melirikku lagi, kali ini lebih panik.
"Gunakan posisi Ibu sebagai keuntungan," instruksiku dengan tenang, sambil memantau ekspresi Baskoro dari pantulan layar laptop. "Bilang kalau itu justru memberikan 'insider access' atau akses orang dalam yang tidak dimiliki peneliti lain. Kejujuran subjek lebih terjamin karena mereka merasa bicara dengan teman, bukan dengan orang asing yang menginterogasi."
Ratna mengulangi kalimatku hampir kata demi kata, meskipun dengan sedikit bumbu dramatis khas sosialita. Baskoro mengangguk-angguk kecil. Aku mulai merasa di atas angin. Ini adalah tarian yang berbahaya, tapi aku adalah koreografernya.
Namun, keberuntunganku sepertinya mulai menipis. Baskoro tiba-tiba berhenti membolak-balik kertas. Dia meletakkan pulpennya dan menyandarkan punggung ke kursi kayu kafe yang keras. Matanya tidak lagi tertuju pada Ratna, melainkan mulai menyapu sekeliling ruangan.
"Ngomong-ngomong, Ibu Ratna," ucap Baskoro pelan, "analisis di bab tiga ini... gaya bahasanya sangat familiar. Struktur kalimatnya, cara membedah teorinya... saya hanya pernah mengenal satu mahasiswa yang punya ketajaman seperti ini."
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti genderang perang. Aku menunduk lebih dalam, pura-pura sangat sibuk mengetik barisan kode palsu di layar.
"Oh ya? Siapa itu, Prof?" tanya Ratna, tidak menyadari bahaya yang mengint**.
"Andi. Mahasiswa bimbingan saya lima tahun lalu," kata Baskoro. Matanya kini berhenti tepat di meja tempatku duduk. "Dia mahasiswa paling brilian yang pernah saya ajar, tapi dia menghilang begitu saja setelah lulus. Katanya karena masalah ekonomi, sangat disayangkan."
Aku bisa merasakan tatapan Baskoro menusuk bagian belakang kepalaku. Keringat dingin mulai mengalir di tengkukku. Jika dia mengenaliku, bukan hanya reputasiku yang hancur, tapi seluruh skema besar ini akan runtuh. Ratna akan malu besar, dan aku akan kehilangan akses ke satu-satunya jalan untuk kembali ke kehidupan Nadia dengan kepala tegak.
"Anak muda di meja belakang itu," suara Baskoro meninggi, memanggilku.
Aku membeku. Ratna ikut menoleh ke arahku dengan ekspresi bingung yang sangat tidak membantu.
"Iya, kamu. Yang pakai hoodie," panggil Baskoro lagi. "Bisa tolong ambilkan brosur di meja kasir itu? Saya rasa saya menjatuhkannya saat ma**k tadi."
Ini adalah momen penentuan. Aku harus berdiri, berbalik, dan menghadapi pria yang mengenalku luar dalam secara akademis. Aku mengatur napas, mencoba menenangkan gemuruh di dada. Aku menarik napas panjang, bangkit perlahan dengan tetap menjaga wajahku agar tidak terkena cahaya lampu kafe secara langsung.
Aku berjalan menyamping, mengambil brosur di meja kasir tanpa menatap Baskoro, lalu meletakkannya di ujung meja mereka dengan gerakan cepat. Aku sengaja mendistorsi suaraku menjadi lebih berat dan serak.
"Ini, Pak."
Aku segera berbalik, namun suara Baskoro menghentikanku.
"Tunggu sebentar."
Langkahku terhenti. Seluruh sel di tubuhku berteriak untuk lari, tapi kakiku seolah terpaku di lant** kafe yang licin.
"Suara kamu... dan postur itu," Baskoro berdiri, berjalan mendekatiku. Ratna hanya menonton dengan mulut sedikit terbuka, tidak tahu harus berbuat apa. "Andi? Apakah itu kamu?"
Aku menelan ludah. Di saat yang sama, pintu kafe berdenting terbuka. Sosok tinggi semampai dengan rambut sebahu yang sangat kukenali melangkah ma**k. Nadia. Dia memegang ponselnya, matanya menyapu ruangan mencari ibunya.
"Ma? Oh, ada Prof. Baskoro juga?" suara Nadia terdengar ceria, namun matanya langsung tertuju pada punggungku yang tegang.
Aku terjepit di antara dua orang yang paling mungkin membongkar identitas asliku: profesor yang memujaku dan mantan kekasih yang mencampakkanku. Jika aku berbalik sekarang, sandiwara ini berakhir. Tapi jika aku terus diam, kecurigaan Baskoro hanya akan menguat.
Aku melirik jam tangan. Ini bukan lagi soal skripsi Ratna. Ini soal bertahan hidup.
"Andi?" suara Nadia kini terdengar ragu, lebih dekat, tepat di belakangku. "Andi, benarkah itu kamu?"
Aku memejamkan mata sejenak, merapatkan hoodie-ku, dan menyiapkan sebuah kebohongan paling nekat yang pernah kukarang dalam sejarah karierku sebagai joki.
"Maaf, Anda salah orang," kataku sambil berbalik perlahan, namun tepat saat aku berhadapan dengan mereka, sebuah senyum sinis yang tak sengaja terpeta di wajahku membuat mata Baskoro menyipit tajam.
"Benarkah?" Baskoro melangkah maju, tangannya bergerak hendak menarik tudung hoodie-ku. "Lalu kenapa kamu memakai jam tangan yang sama dengan yang saya hadiahkan pada Andi saat dia memenangkan kompetisi riset nasional?"
Aku lupa melepas jam itu. Jam tangan lama yang kumal, satu-satunya benda yang tidak kuganti meskipun aku sudah kaya raya. Sebuah kesalahan amatir yang bisa menghancurkan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!