Lorong lant** tiga gedung fakultas ekonomi itu terasa seperti lorong eksekusi, setidaknya bagi orang-orang normal. Bau kertas fotokopi yang masih hangat, aroma pengharum ruangan lemon yang murah, dan dengung AC tua menciptakan simfoni kecemasan yang akrab di telingaku. Aku bersandar di dinding koridor, melipat tangan di dada sembari memperhatikan pintu kayu jati bernomor 302 yang masih tertutup rapat.
Di dalam sana, Ny. Ratna—calon ibu mertua yang tidak jadi, sekaligus klien paling merepotkan dalam sejarah karier gelapku—sedang mempertaruhkan gengsinya. Bukan demi ilmu pengetahuan, tentu saja. Dia sedang bertaruh demi sebuah foto wisuda yang nantinya bisa dia pamerkan di grup WhatsApp arisan berliannya.
Aku melirik jam tangan. Sudah empat puluh menit. Seharusnya sesi tanya jawab sudah selesai.
Suara gagang pintu yang diputar memecah keheningan. Sosok Ratna muncul dengan setelan blazer sutra berwarna krem yang harganya mungkin setara dengan biaya kuliah dua semester mahasiswa reguler. Wajahnya yang biasanya penuh bedak tebal itu tampak sedikit pucat, tapi matanya berbinar. Di belakangnya, tiga orang dosen penguji keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara terkesan dan bingung bagaimana seorang sosialita seperti dia bisa menjawab pertanyaan ekonometrika dengan begitu lancar.
"Selamat, Bu Ratna. Hasilnya sangat memuaskan. Revisinya hanya minor, silakan diselesaikan dalam satu minggu," ucap salah satu penguji, Pak Broto, yang kukenal sebagai "pembant**" mahasiswa tingkat akhir. Dia menjabat tangan Ratna dengan hormat yang tidak biasa.
Begitu para dosen itu menjauh, Ratna langsung menghampiriku dengan langkah terburu-buru. Bau parfum Chanel-nya menyerbu indra penciumanku.
"Andi! Ya ampun, Andi! Kamu dengar tadi? Nilainya A! Mereka bilang analisaku tentang pengaruh volatilitas pasar terhadap sektor UMKM itu 'sangat visioner'!" Ratna m****ik tertahan, menjentikkan jarinya ke udara seolah baru saja memenangkan lotre.
Aku memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang biasa kuberikan pada klien yang membayar tepat waktu. "Tentu saja, Bu. Data yang saya... maksud saya, data yang Ibu pelajari itu memang sudah disesuaikan dengan tren terbaru."
"Kamu memang ajaib, Andi. Ibu tidak menyangka 'konsultasi pendidikan' darimu bisa seefektif ini," lanjutnya sambil merapikan tatanan rambutnya yang tidak berantakan sedikit pun. "Nadia harus tahu soal ini. Dia pasti bangga melihat ibunya akhirnya punya gelar di belakang nama."
Mendengar nama Nadia disebut, perutku terasa seperti diremas. Aku seharusnya merasa menang. Rencana awalku sederhana: memberikan draf skripsi yang terlihat bagus tapi memiliki celah fatal di metode penelitian agar Ratna dipermalukan di depan dewan penguji. Aku ingin dia merasakan apa itu kegagalan, seperti dia pernah membuatku merasa gagal menjadi manusia hanya karena dompetku tipis.
Namun, yang kulakukan justru sebaliknya. Setiap malam, saat aku duduk di depan laptop, jemariku justru menari-nari memperbaiki setiap variabel yang c****. Aku memperkuat argumentasinya. Aku menciptakan tameng logika yang tak tertembus. Aku malah memberikan mahakarya terbaikku untuk wanita yang pernah memandangku sebelah mata.
"Ibu duluan ya, Andi. Ada janji makan siang dengan Jeng Linda. Nanti Ibu transfer bonusnya!" Ratna melambai, berjalan menjauh dengan keanggunan yang dibangun di atas fondasi kebohongan yang aku bangunkan untuknya.
Aku berdiri mematung di lorong yang mulai sepi. Perasaan kosong itu perlahan merayap, mengisi rongga dadaku. Ini bukan rasa puas. Ini seperti menonton film balas dendam di mana sang protagonis justru membangunkan istana untuk musuhnya. Aku telah menggunakan kecerdasanku untuk memvalidasi gengsi kosong Ratna.
"Andi?"
Suara itu lembut, tapi c**up untuk membuatku tersentak. Aku menoleh dan menemukan Nadia berdiri beberapa meter dariku. Dia mengenakan terusan biru langit yang membuat kulitnya tampak bersinar di bawah lampu neon koridor. Matanya menatapku dengan binar yang dulu pernah menjadi alasan utamaku untuk bekerja keras.
"Aku baru mau jemput Mama, tapi sepertinya dia sudah pergi," kata Nadia sambil melangkah mendekat. "Dia baru saja menelepon, katanya dia lulus dengan nilai sempurna berkat bantuanmu."
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai konsultan, Nadia," jawabku datar, mencoba mempertahankan topeng profesionalitasku.
Nadia berhenti tepat di depanku. Jarak kami c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma vanila dari rambutnya—aroma yang sama seperti lima tahun lalu. "Kamu berubah banyak ya, Ndi. Dulu kamu orang yang paling idealis yang aku kenal. Kamu benci kecurangan. Tapi sekarang... kamu terlihat sangat sukses dengan cara yang berbeda."
Dia meraih lenganku pelan, sebuah gestur yang membuat pertahananku nyaris runtuh. "Terima kasih sudah membantu Mama. Aku tahu dia sulit dihadapi. Aku tidak menyangka kamu mau melakukan ini untuknya setelah... semuanya."
Aku menatap matanya, mencari jejak sinisme atau hinaan yang mungkin tersembunyi di sana. Tapi tidak ada. Yang ada hanyalah kekaguman. Dia benar-benar percaya bahwa aku sukses, kaya, dan berbaik hati membantu ibunya karena aku sudah "move on" dan menjadi pria yang lebih besar.
Padahal, kenyataannya aku hanyalah seorang penipu yang terjebak dalam jaringannya sendiri. Aku kaya karena menjual integritas akademik, dan aku membantu ibunya karena aku terlalu pengecut untuk benar-benar menjadi jahat.
"Jangan berlebihan, Nadia. Ini murni bisnis," kataku, menarik tanganku perlahan. "Aku punya klien lain yang harus diurus."
Aku berbalik, berniat melarikan diri dari percakapan yang membuat hatiku perih ini. Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, ponsel di sakuku bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
Aku membukanya sambil terus berjalan menuju tangga. Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat isinya. Sebuah foto yang diambil dari sudut tersembunyi, menampilkan aku yang sedang menyerahkan bundel skripsi kepada Ratna di sebuah kafe minggu lalu. Di bawah foto itu, tertulis sebuah pesan pendek yang dingin:
*“Kerja bagus, Tuan Joki. Nilai A yang indah. Sayang sekali jika dewan etik universitas melihat bagaimana skripsi itu sebenarnya dibuat. Siapkan waktu kita untuk bicara, atau karier 'konsultan' mahalnya berakhir besok pagi.”*
Aku berhenti melangkah. Peluh dingin mulai membasahi tengkukku. Aku menoleh ke belakang, ke arah Nadia yang masih memperhatikanku dengan senyum manisnya, lalu kembali menatap layar ponsel. Seseorang tahu. Seseorang sedang mengamatiku, dan kemenangan Ratna yang baru saja kurayakan dengan rasa hampa ini, mungkin akan menjadi awal dari kehancuranku yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!