Angin malam di *rooftop* hotel bintang lima ini terasa menusuk, tapi tidak sedingin tatapan yang kuberikan pada perempuan di depanku. Nadia berdiri di sana, gaun sutranya berkibar pelan, memperlihatkan sosok yang dulu pernah menjadi pusat semestaku. Wangi parfumnya masih sama—mahal dan elegan—tapi aromanya kini tak lagi memicu debar jantung, melainkan hanya rasa jengah yang samar.
Di atas meja kecil di antara kami, dua cangkir espresso yang sudah mendingin menjadi saksi bisu keheningan yang panjang. Aku menyesap sisa kopi yang pahit, membiarkan kafeinnya menajamkan pikiranku yang mulai lelah setelah dua jam menjelaskan progres revisi skripsi ibunya yang penuh drama.
"Andi," suaranya memecah kesunyian, lembut dan penuh keraguan. "Aku nggak menyangka kamu bisa sejauh ini. Maksudku... konsultan pendidikan, kantor di Sudirman, jam tangan itu..." Ia menggantung kalimatnya, matanya menyapu penampilanku dari ujung kepala hingga ujung sepatu kulit yang baru kubeli minggu lalu.
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya kugunakan untuk meyakinkan klien yang ragu membayar uang muka. "Dunia berputar, Nad. Kadang-kadang, orang yang kamu anggap remeh hanya butuh sedikit motivasi untuk membuktikan bahwa mereka bisa membeli dunia yang dulu menolaknya."
Nadia menunduk, jemarinya yang lentik memainkan pinggiran cangkir keramik. "Aku tahu aku salah dulu. Tapi kamu harus paham posisiku saat itu. Mama menekanku, lingkungan memaksaku untuk berpikir realistis. Kita masih terlalu muda untuk memahami bahwa uang bisa dicari."
"Betul," sahutku cepat. "Uang memang bisa dicari. Buktinya, ibumu sekarang membayarku sangat mahal hanya untuk memastikan dia tidak terlihat bodoh di depan teman-teman arisannya. Ironis, bukan? Orang yang dulu kalian usir karena tidak punya masa depan, kini adalah satu-satunya orang yang memegang masa depan akademis keluargamu."
Nadia melangkah maju, mendekat hingga aku bisa melihat pantulan lampu kota di matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia meletakkan tangannya di atas tanganku yang berada di meja. Sentuhannya hangat, tapi aku tidak merasakan apa-apa. Kosong.
"Andi, bisakah kita mulai lagi? Lupakan semua drama skripsi Mama, lupakan masa lalu yang pahit itu. Aku melihatmu sekarang... bukan sebagai Andi yang dulu, tapi Andi yang sudah dewasa, yang kuat. Aku menyesal, Andi. Sungguh."
Aku memandangi tangannya yang menindih tanganku. Dulu, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sentuhan ini. Dulu, aku akan menangis bahagia jika dia memintaku kembali. Tapi sekarang, aku hanya melihat sebuah upaya putus asa untuk mendapatkan kembali sesuatu yang sudah naik nilainya.
Perlahan tapi pasti, aku menarik tanganku. Aku berdiri, merapikan jas yang sedikit kusut karena angin.
"Nad, kamu tahu apa yang paling menarik dari profesiku sebagai joki—ah, maksudku 'konsultan'?" tanyaku sambil menatap langsung ke matanya.
Nadia menggeleng pelan, tampak bingung dengan perubahan topikku.
"Tugas utamaku adalah menciptakan narasi. Aku membuat orang bodoh terlihat pintar, orang malas terlihat rajin, dan orang tanpa gelar terlihat kompeten di atas kertas. Aku ahli dalam memoles citra," aku menjeda, membiarkan kata-kataku meresap. "Dan aku sadar, hubungan kita dulu hanyalah salah satu draf kasar yang tidak layak untuk diterbitkan. Kamu tidak mencint**ku, Nad. Kamu hanya mencint** potensi kenyamanan yang bisa kuberikan. Dulu aku tidak punya itu, jadi kamu pergi. Sekarang aku punya, dan kamu datang."
"Bukan begitu, Andi! Aku benar-benar menyesal karena aku melihat siapa kamu sebenarnya sekarang!" suaranya meninggi, ada nada frustrasi yang mulai muncul.
Aku tertawa pendek, tawa yang kering. "Justru itu masalahnya. Kamu baru bisa menghargaiku setelah aku punya 'bungkus' yang mewah. Kalau besok aku jatuh miskin lagi, kalau besok identitas asliku sebagai joki skripsi terbongkar dan aku ma**k penjara, apakah kamu masih akan berdiri di sini? Kita berdua tahu jawabannya."
Nadia terdiam. Bibirnya bergetar, dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang dipoles *make-up* sempurna. Kali ini, rasa sesalnya terasa nyata, tapi bukan karena dia masih mencint**ku. Dia menyesal karena dia baru menyadari bahwa dia telah kehilangan akses ke sebuah aset berharga—bukan sekadar uang, tapi seseorang yang memiliki harga diri yang tak lagi bisa dia beli dengan air mata.
"Aku tidak butuh pengakuanmu lagi, Nad. Aku tidak butuh restu ibumu, dan aku tidak butuh validasi dari lingkaran elit kalian untuk merasa sukses. Gelar, harta, gengsi... itu semua hanya alat riset bagiku sekarang."
Aku mengambil tas kerjaku dan bersiap pergi. "Sampaikan pada Ny. Ratna, bab empat sudah selesai saya kerjakan. Katakan padanya untuk tidak telat mentransfer sisa pembayarannya. Dan untukmu..." aku menatapnya terakhir kali, "berhentilah mencoba merevisi masa lalu. Beberapa bab dalam hidup memang lebih baik dibiarkan berakhir begitu saja."
Aku melangkah pergi meninggalkannya yang masih mematung di pinggir *rooftop*. Langkahku terasa ringan, seolah beban seberat satu skripsi doktoral baru saja terangkat dari bahuku. Namun, saat aku mencapai lift dan pintu mulai tertutup, ponselku bergetar hebat di saku jas.
Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal. Isinya singkat, tapi sanggup membuat bulu kudukku berdiri dan senyum kemenanganku memudar seketika.
*“Andi si Joki Hebat. Aku punya rekaman percakapanmu dengan Ny. Ratna soal data palsu di bab tiga. Pilihannya dua: Transfer lima ratus juta malam ini, atau besok pagi skripsi ibunya Nadia akan jadi berita utama di tabloid gosip elit.”*
Aku menekan tombol buka lift dengan panik, tapi terlambat. Pintu sudah tertutup rapat dan lift mulai meluncur turun, membawaku menuju jurang masalah baru yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar urusan mantan.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!